Senin, 12 Januari 2009

Kumpulan Catatan Pinggir Majalah TEMPO

Jalan Juni 2, 2008

Jalan juga sebuah laku. Di sana orang ambil keputusan, ambil risiko, hanya mengulang tapi bisa juga melakukan yang tak terduga-duga. Di sana ia bisa menemui rezeki atau ajal. Dan jika kita bicara tentang lingkungan kota besar, jalan bisa juga berarti satu wilayah untuk mengelak.
Ada sepatah kata bahasa Indonesia yang sering dipakai tapi tak menarik perhatian: ”kluyuran”. Dalam kata ini tergambar bagaimana ruang yang sambung-menyambung dan berkelok-kelok itu dapat merupakan tempat kita iseng, main-main, atau mengikuti rasa ingin tahu. Saya kluyuran jika saya berjalan menyusuri kota besar ini, tanpa ingin menghasilkan apa-apa, tanpa didesak waktu, tapi asyik mengamat-amati seraya terus-menerus mengalihkan fokus.
Laku semacam itu bukanlah laku yang cocok dengan apa yang dikehendaki sebuah kota besar: rasionalitas, efisiensi, produktivitas. Baudelaire, penyair Les Fleurs du Mal (”Bunga Mala”) dan Le Spleen de Paris (”Limpa Paris”), telah membuat kata flâneur—yang artinya tak jauh dari ”Bung Kluyur”—jadi begitu penting dalam telaah ilmu sosial dan filsafat, karena ia dapat menggambarkan bagaimana ”kluyuran” di kota yang telah diubah jadi modern merupakan sebuah sikap politik dan estetik. Flâneurie seakan-akan menampik rasionalitas yang diterapkan di Paris mengikuti planologi Baron Georges-Eugène Haussman selama dua dasawarsa sejak 1852. Sang flâneur menjelajah secara acak, santai, dan seenaknya sebuah metropolis, semacam ikhtiar mempertahankan yang sepele, percuma, lemah, dan kuno. Sang flâneur, seraya tampil sebagai pesolek yang keren, merayakan tapi sekaligus memandang dengan berjarak dunia Paris yang berubah secara menakjubkan dan mencemaskan itu.
Di Indonesia, ”kluyuran” tentu saja tak sepenuhnya sama dengan flâneurie. Di sini kontras antara kota dan udik bisa begitu besar, tapi kota tak terputus secara radikal dari yang bukan-kota. Seperti pernah dikatakan seorang pakar sosiologi perkotaan, Jakarta tak cuma mengalami urbanisasi, tapi juga ”ruralisasi”. Rancangan yang rasional, ketertiban yang efisien, kapital yang mencoba menguasai pembagian ruang dengan perhitungan laba-rugi, tak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah yang datang dari desa-desa, barisan yang tiap kali kalah tapi tiap kali menyerbu kembali.
Kota ini sendiri bukanlah tauladan rasionalitas. Birokrasi begitu korup dan tak becus hingga planologi tak ada artinya. Kelas menengah tak secara serius menegakkan hukum. Kemiskinan begitu luas dan juga pengangguran, hingga bukan efisiensi yang terjadi, melainkan involusi.
Involusi adalah cara kelas bawah kota besar berbagi hidup: dalam ruang yang sempit, dalam pekerjaan yang terbatas, dalam milik yang tak seberapa. Involusi adalah sebuah kiat hidup dalam keadaan berjejal.
Ketika saya menonton Je.ja.l.an yang dipentaskan Teater Garasi di Teater Luwes Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 25 Mei yang lalu, saya merasa seakan-akan saya ikut dalam sebuah ”kluyuran”: menyusur jalan-jalan kota, mengamati involusi yang terjadi di sana, terpisah tapi terpaut.
Jarak antara pentas dan penonton dibuat demikian rapat, hingga mereka yang duduk di meja VIP (dengan gelas berisi anggur dan bir) juga tak bisa mengelak. Seperti di rumah makan tepi jalan, pengamen, penjaja kitab dan lain-lain mudah masuk ke sela-sela tamu. Hanya setengah meter dari sana: barisan drum band, pekerja seks, orang mati melarat, orkes keliling, perempuan berdandan keren, pengkhotbah yang marah, petugas ketertiban kota yang hendak menegakkan tertib, banci yang hidup di luar tata. Je.ja.l.an bagi saya mengandung makna ”jejalan”.
Memang banyak adegan yang tak baru: kita telah sering melihatnya, setidaknya di berita televisi dan koran. Tapi itu justru menunjukkan bahwa yang terpapar bukanlah sesuatu yang eksotis, bukan pula yang dramatis. Di kota-kota besar Indonesia, kita menemukannya tiap kali di tiap sudut. Kluyuran bukanlah sebuah darmawisata: karya teater Yudi Ahmad Tajudin dan kawan-kawan menegaskan hal itu karena ia tak mengajak menyaksikan hal yang menakjubkan.
Namun tiap karya teater adalah sebuah intervensi terhadap apa yang tak menakjubkan yang kita temukan di tiap sudut. Realisme dalam teater pada akhirnya mengakui bahwa ”realitas” bukanlah das Ding an sich. ”Realitas” mengandung sejarah sosial: ia dihadirkan oleh bahasa dan percakapan. Maka di pentas, kluyuran merupakan konstruksi ganda. Di pentas, ia diberi bentuk jadi sesuatu yang lebih intens. Demikianlah teater lahir, membuka peluang bagi dunia yang tampil sebagai beda, juga ketika ia seakan-akan menampilkan yang itu-itu juga.
Dalam beda itulah hadir sebuah tamasya—tapi bukan tamasya yang tertangkap secara panoptik, bukan gambaran utuh yang hanya bisa dilihat dari atas. Justru ambisi kota besar untuk mengikuti sebuah rencana agung terbentur oleh centang-perenang yang mencemooh perubahan budaya dalam ”urbanisasi”.
I tu sebabnya bagi saya Je.ja.l.an bukan hendak terdiri dari satu statemen, misalnya sebuah protes sosial karena kemiskinan. Pidato Bung Karno berapi-api, tapi rekamannya yang diputar tak mendominasi ruang. Kisah seorang miskin yang bunuh diri dibacakan, tapi si pembaca seperti lelah di ujungnya. Keduanya tak menimbulkan perubahan di pentas itu.
Dialektik antara beda dan sama, antara yang menusuk dan yang banal, antara teriak dan sikap acuh tak acuh, memantulkan kembali yang kita alami kini: sebuah fragmentasi pengalaman, sebuah khaos dalam perhatian.
Michel de Certeau, yang juga merenungkan makna kluyuran dalam hidup sehari-hari, seakan-akan berbicara tentang jalanan kota yang terpapar di pentas malam itu: ”Pengguna kota memungut fragmen tertentu dari statemen itu, dan dengan demikian mengaktualisasikannya dalam rahasia”.
~Majalah Tempo Edisi. 15/XXXVII/02 - 8 Juni 2008~

Aladin Mei 26, 2008

JAKARTA mungkin kota dengan sebuah lampu Aladin rahasia. Kini kita hanya lupa-lupa ingat apa yang tak ada sebelum April 1966, sebelum Ali Sadikin diangkat oleh Presiden Soekarno jadi gubernur kota ini.
Saya coba susun sebuah daftar dari luar kepala: Jalan H.R. Rasuna Said–Jalan Casablanca–Taman Ismail Marzuki–sejumlah gelanggang remaja–taman hiburan di pantai Ancol–sebuah pusat perfilman–museum tekstil, wayang, seni rupa–stasiun bus kota–halte–lampu-lampu lalu lintas–taksi–taman-taman kecil–kampung-kampung yang dihubungkan dengan jalan yang rapi….
Mereka yang lahir atau datang terlambat di kota ini tak akan merasakan proses yang menakjubkan dari ”tak-ada” menjadi ”ada” itu.
Saya datang ke kota ini pada 1960, untuk jadi mahasiswa Universitas Indonesia, di fakultas psikologi yang waktu itu terletak tak kentara di seberang rumah sakit umum yang masih disebut ”CBZ”. Saya tinggal indekos di satu rumah tak jauh dari Salemba, di mana kampus Universitas Indonesia terselip praktis tanpa halaman. Kadang-kadang saya naik sepeda dari Grogol.
Dulu ada sebuah kebun binatang yang nyaris kosong di tempat yang kini jadi Taman Ismail Marzuki. Dulu ada bus-bus Robur yang hampir mirip kotak yang gemuk bikinan Cekoslowakia, sudah peyot, dengan penumpang yang berimpitan seperti ikan teri dalam kuali. Atau opelet yang separuh kayu persegi untuk tujuh orang dengan seorang kenek yang mengatur penumpang. Atau trem yang bergerak seakan-akan enggan melanjutkan zaman Batavia dalam cerita Si Jamin dan Si Johan saduran Merari Siregar.
Semua itu surut ke belakang kepala, tak lama setelah Ali Sadikin jadi gubernur. Mereka tak tampak lagi. Kota ini berubah, bergegas.
Saya tak mengenang masa pra-Ali Sadikin dengan nostalgia. Saya kira Jakarta bukanlah kota yang cocok buat merindukan masa lalu: penduduk bertambah hampir 6 persen setahun, baik dari kelahiran maupun dari urbanisasi, dan anak + remaja membentuk dasar yang luas di piramida demografi. Dengan kata lain, mayoritas bukanlah mereka yang punya pengalaman yang bisa diingat dari kota ini. Mayoritas penduduk dilecut untuk sibuk dengan kini dan esok.
Ketika Bung Karno melantik Ali Sadikin, Presiden itu bicara tentang impiannya: Jakarta yang dikagumi dunia. Saya tak tahu apakah Ali Sadikin ingat kata-kata itu. Tapi baginya yang mendesak bukanlah apa kata dunia, melainkan apa kata penghuni Jakarta sendiri.
Dan ia pun bekerja. Dan Jakarta berubah.
Ali Sadikin sendiri juga berubah—meskipun ada hal-hal yang tetap dalam hidupnya: kerja kerasnya, keberaniannya untuk membuat sebuah gebrakan dan melawan pendapat yang ingar-bingar, kemauannya untuk mendengar dan belajar sesuatu yang baru, kharismanya, kepemimpinannya, dan juga daya tariknya.
Ia perwira tinggi Marinir yang harus mengurus 5 juta manusia yang begitu beraneka dan berantakan. Cepat atau lambat, ia harus mengambil sikap lain: ia tak bisa terus-menerus membentak. Saya ingat pada hari-hari pertama ia mencoba menertibkan bus kota. Waktu itu puluhan bus kota menggunakan Lapangan Banteng sebagai tempat parkir dan calo-calo menguasai lalu lintas penumpang. Sebuah khaos besar berkuasa di sana. Pada suatu hari, Ali Sadikin datang mendadak. Ketika ia menghadapi seorang calo yang rupanya menjengkelkannya, ia mengayunkan tinju. Orang itu terjerembap.
Tapi ada yang membuat Ali Sadikin tak dibenci: ia mau meminta maaf. Ia bisa melihat kelemahannya sendiri dan kelemahan orang lain. Di Lapangan Banteng itu ia tahu orang yang cari nafkah dengan kasar dan kacau itu bukan oknum yang bersalah. Ia perlu lebih sabar. Sebab yang bersalah adalah kemiskinan. Tak lama kemudian di Lapangan Banteng dibangun sebuah stasiun bus yang bagus dan rapi. Para bekas calo diberi pekerjaan di situ. Tempat itu jadi tempat yang nyaman bagi siapa saja.
Salah satu anekdot terkenal terjadi dengan pelukis Srihadi di sebuah pameran. Salah satu kanvas seniman terkenal itu menggambarkan Jakarta dengan pencakar langit, tapi juga dengan kekalang-kabutannya. Ali Sadikin melihat kanvas itu; ia naik darah. Ia ambil bolpoin dan ia coret-coret karya Srihadi. Para seniman pun protes. Ali Sadikin, yang telah memberi mereka fasilitas dan menghargai kebebasan kreatif, tak membalas dengan mengingatkan mereka akan apa yang telah diberikannya. Malah ia minta maaf. Srihadi kemudian menyimpan karyanya tak untuk dijual; baginya, coretan Bang Ali adalah kenangan tentang seorang pemimpin yang jarang didapat di Indonesia: begitu berkuasa tapi bersedia meminta maaf dan mengoreksi kesalahannya sendiri.
Ali Sadikin memang berbeda dari yang lain di tatanan Orde Baru itu. Ia tokoh yang berdiri agak sendiri, di tepi wilayah Soeharto. Ia diangkat Bung Karno, tak lama sebelum Bung Karno jatuh. Ia seorang perwira KKO, ketika rezim dikuasai Angkatan Darat. Dengan tubuh tinggi dan paras mirip bintang film, ia menonjol mengatasi yang lain—dan ia punya kebanggaan sendiri untuk tak merunduk. Dengan segera orang tahu: Jakarta mempunyai seorang pemimpin, bukan pejabat.
Pada zaman ketika pemimpin dan calon pemimpin dibabat—ketika Soeharto-lah yang menunjuk ketua partai apa pun, memilih panglima angkatan dan kepala daerah mana pun—ketika cara kerja, perilaku, dan bahkan bahasa jadi bagian dari birokratisasi, Ali Sadikin tak tenggelam.
Ia memang memanfaatkan struktur yang dibangun Orde Baru: kepala daerah bisa jadi pemegang otokrasi. Tapi ia punya rasa percaya diri yang besar pada dirinya yang menyebabkannya—seorang otokrat par excellence—tak gentar mendengar kritik, tak takut akan ide baru dan saran orang.
Seandainya ia jadi presiden republik….
Tapi ia tak mau. Ia mengajukan kritiknya yang fundamental kepada ”Orde Baru”, tapi ia membuktikan kritik itu bukan karena rasa iri dan getir orang yang sudah tak berkuasa lagi.
Saya belum pernah menjumpai orang sebesar dia dalam sikap. Bertahun-tahun lamanya bagi saya hanya dia presiden saya.
~Majalah Tempo Edisi. 14/XXXVII/26 Mei - 01 Juni 2008~
B.O. Mei 19, 2008
POTRET yang tertinggal dari awal abad ke-20 itu menggambarkan Mas Wahidin Sudirohusodo seakan-akan bagian dari Jawa yang lembek. Atau jinak. Ia tak tampak cakrak, dengan kepala bangga. Ia malah terkesan mengambil postur seorang yang sopan sekali. Tak ada kumis yang perkasa. Blangkon di kepalanya tampak ditimpa waktu.
Saya terkadang tak paham kenapa ”dokter Jawa” ini jadi tokoh utama Hari Kebangkitan Nasional. Saya tak pernah membaca teks pidatonya yang berapi-api. Saya tak pernah melihat sehelai foto pun yang menunjukkan ia berdiri dengan tangan mengepal. Bagaimana mungkin dengan itu ada ”kebangkitan nasional”? Apanya yang ”bangkit”? Mana yang ”nasional”?
Saya lupa: ketika ia merintis jalan yang akhirnya melahirkan organisasi ”Boedi Oetomo” pada tanggal 20 Mei 1908 itu, Wahidin sudah seorang pensiunan. Tapi ia pensiunan yang tak hendak mandeg. Sejak 1906, Wahidin berkeliling dari kota ke kota untuk menjajakan idenya: membentuk dana buat beasiswa bagi anak-anak Jawa. Selama dua tahun ia gagal terus. Baru ketika ia bertemu dengan para siswa STOVIA gayungnya disambut.
Sekolah itu seperti sudah menantikannya. Sejak awal abad ke-20, STOVIA diperbaiki agar jadi tempat untuk para pemuda—terutama mereka yang datang dari kalangan yang disebut ”bumiputra”—dilatih jadi tenaga kesehatan. Para lulusannya disebut ”dokter”, tapi dengan tambahan: ”dokter Jawa”.
Dari nama ini saja dapat dilihat bagaimana struktur sosial dan ideologi kolonial Belanda waktu itu. Dari sini pula dapat dimengerti kenapa STOVIA jadi tempat di mana ada api dalam sekam, hingga ide Wahidin berkembang di sini.
Para mahasiswa STOVIA bukan dari keluarga petinggi daerah, melainkan dari kalangan priayi rendah. Wahidin sendiri, misalnya, bukan seorang ”raden”. Demikian pula Cipto Mangunkusumo dan adiknya, Gunawan: mereka anak guru. Bahkan pernah tercatat anak pembantu rumah tangga di sekolah kedokteran itu. Seperti dikemukakan Robert van Niel dalam The Emergence of the Modern Indonesian Elite, status sosial para ”dokter Jawa” tak dipandang tinggi di masyarakat kolonial. Bahkan tak banyak yang tertarik masuk ke sana. Untuk mempromosikannya, sejak 1891 pemerintah memberi pelbagai kemudahan bagi murid yang ingin masuk STOVIA.
Dalam sejarahnya, STOVIA disiapkan melayani kepentingan pemilik perkebunan di Sumatera Timur: para buruh yang didatangkan dari Jawa perlu dijaga kesehatannya agar tak membebani perusahaan. Untuk itu perlu dokter. Pendidikan yang disiapkan cukup serius. Sejak 1904, diploma STOVIA dapat mengantar seorang lulusan ke sebuah sekolah kedokteran di Belanda di tingkat lanjut, hingga ia bisa mendapatkan gelar dokter tingkat Eropa hanya dalam waktu setahun.
Tapi lulusan itu akhirnya toh hanya dijuluki ”dokter Jawa”. Gajinya di perkebunan tak sebanding dengan ”dokter Eropa”. Kolonialisme selamanya ingin mengukuhkan diri dengan membedakan sang penjajah dari si terjajah. Kalaupun si inlander diberi kesempatan meniru, peniruan itu harus dijaga agar ”hampir sama, tapi tak benar-benar sama”, untuk memakai kata-kata Homi Bhabha tentang bagaimana masyarakat kolonial disusun. Demikianlah semasa kuliah para calon dokter itu—kecuali mereka yang beragama Nasrani—tak boleh mengenakan pakaian Eropa.
Dalam latar yang panas itu, ide Wahidin akhirnya berkembang melampaui soal beasiswa. ”Budi Utomo” dibentuk oleh para mahasiswa kedokteran itu—dan peran dr Wahidin segera berakhir. Para pemuda mengambil alih. Bagi mereka, ikhtiar akhirnya mesti bersifat politik, sebab ketidakadilan yang mereka alami adalah bagian dari kekuatan struktural.
Jika politik adalah penggalangan kekuatan alternatif untuk mengubah keadaan, mau tak mau sebuah aksi masuk ke dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, aksi itu harus menegaskan identitas tersendiri. Tapi di sisi lain, ia harus menjangkau yang bukan dirinya, hingga identitas itu tak seperti baju besi yang terkunci rapat. Dan itulah yang terjadi pada ”Budi Utomo”.
Organisasi ini pada awalnya bertumpu pada segala sesuatu yang ”Jawa”. Tapi ketentuan organisatorisnya sepenuhnya ”Barat”. Bahkan dengan segera ”Jawa” tak hanya berarti sekitar Yogya dan Surakarta, tapi juga mereka yang biasa disebut ”Sunda”, ”Madura”, dan ”Bali”. Akhirnya identitas pun terbongkar: semuanya tak jelas batasannya. Salah satu yang menarik pada ”Budi Utomo”: untuk berkomunikasi, organisasi ini tak menggunakan bahasa Jawa, melainkan Melayu.
Bukankah gerakan politik ke arah keadilan akan selalu terdorong menjangkau yang universal?
Tapi sejumlah orang tua, para aristokrat Jawa, menampik. Bagi mereka, ”Budi Utomo” harus tetap ”Jawa”. ”Berpolitik” harus dihentikan. Pada Oktober 1908, orang-orang konservatif itu mengambil alih pimpinan ”B.O.”.
Bentrokan terjadi. Dari sinilah muncul dua nama yang kekal dalam sejarah kebangkitan Indonesia—dua orang yang tak sesopan Mas Wahidin: Cipto Mangunkusumo, dokter; ia dengan sengaja memasang bintang penghargaan dari Ratu Belanda di pantat sebagai protes. Suwardi Suryoningrat, pemuda bangsawan keturunan Paku Alam; ia akhirnya meninggalkan STOVIA dan menulis sebuah pamflet cemooh. Ia gugat pemerintah Hindia Belanda ketika berencana membuat pesta besar ulang tahun ke-100 kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis—pesta yang diadakan di tanah yang tak punya kemerdekaan.
Als ik eens Nederlander was, tulis Suwardi. Seandainya aku seorang Belanda…. ”Aku juga patriot, dan sebagaimana seorang Belanda yang dengan semangat nasionalis mencintai tanah airnya, juga aku mencintai tanah airku….”
Kalimat itu betapa menggigit: seorang hamba menyatakan diri bisa sama dengan si tuan—bukan dalam kuasa, tapi dalam menghargai kemerdekaan.
Hal itu mungkin tak diduga Mas Wahidin: yang ”Jawa” bisa dan seyogianya lebur dalam sesama. Nasionalisme bukan suara igauan sendiri.
~ Majalah Tempo Edisi. 13/XXXVII/19 - 25 Mei 2008~

Fitna April 7, 2008
Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika tuan teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar tuan kepada sekelompok manusia—dengan teriakan yang cukup keras—tuan akan menarik perhatian orang ramai. Tuan bahkan akan dapat dukungan.
Geert Wilders tahu betul hal itu.
Dalam umur 44, politikus Belanda ini adalah sosok yang cocok bagi zaman yang celaka sekarang. Tiap kali ia mencaci maki orang imigran—para ”non-pribumi” muslim yang hidup di Negeri Belanda—ia dengan segera tampak mumbul seperti balon jingga di langit Den Haag.
Dalam sebuah wawancara dengan harian De Pers pertengahan Februari 2007, inilah yang dikatakannya: ”Jika orang muslim ingin hidup di Negeri Belanda, mereka harus menyobek dan membuang setengah dari isi Quran.” Katanya pula: ”Jika Muhammad hidup di sini sekarang, saya akan usul agar dia diolesi ter dan ditempeli bulu ayam sebagai ekstremis, lalu diusir….”
Syahdan, 15 Desember 2007, radio NOS pun mengangkat Wilders sebagai ”politician of the year”. Para wartawan surat kabar yang meliput parlemen memuji kemampuannya mendominasi diskusi politik dan memperoleh publisitas, berkat ucapan-ucapan ringkasnya yang pas waktu. Ucapan dengan abab yang panas dan bau tentu.
Demikianlah Wilders jadi tokoh publik yang mendapat tepuk tangan karena benci memperoleh tempat yang strategis. Pada awal November 2004, sutradara film Theo van Gogh digorok dan ditikam di sebuah jalan di Amsterdam oleh seorang pemuda Islam, Mohammad Bouyeri, yang menganggap korbannya layak dibinasakan. Van Gogh, seperti Wilders, adalah penyebar kebencian yang dibalas dengan kebencian. Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.
Kini bisa diperkirakan film Fitna yang dibuatnya akan membuat Wilders lebih berkibar-kibar—terutama jika benci yang ditiup-tiupkannya disambut, jika orang-orang Islam meledak, mengancam, atau berusaha membunuhnya. Wilders bahkan memperoleh sesuatu yang lebih: bila kekerasanlah yang terjadi, Fitna, yang ingin menunjukkan betapa brutalnya ajaran Islam, akan dikukuhkan.
Saya menonton film ini di Internet. Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal dari Denmark, karya Kurt Westergaard itu—gambar seorang berpipi tambun dengan bom di kepala sebagai sorban hitam, yang dikesankan sebagai ”potret” Nabi Muhammad—film ini adalah kombinasi antara petilan teks Quran dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan atau kata-kata benci yang berkobar-kobar.
Ayat 60 dari Surat Al-Anfal yang ditampilkan pada awal Fitna, misalnya—perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh—diikuti oleh potongan film dokumenter ketika pesawat terbang itu ditabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian tampak pengeboman di kereta api di Madrid. Setelah itu: seorang imam yang tak disebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: ”Allah berbahagia bila orang yang bukan-muslim terbunuh”.
Pendek kata, dalam Fitna, Quran adalah buku yang mengajarkan khotbah kebencian yang memekik-mekik dan tindak biadab yang berdarah. Wilders sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Quran, baginya, adalah ”buku fasis” yang harus dilarang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. ”Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.”
Salahkah Wilders? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Quran secara keseluruhan, ”Saya lebih suka bukunya.” Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilders hanya memilih ayat-ayat Quran yang cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Quran tak hanya deretan pendek petilan itu. Dan tentu saja tiap petilan punya konteks sejarahnya sendiri.
Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar: ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaidah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam dengan mulut yang penuh api—mereka itulah yang mengkonstruksikan Quran hingga jadi sehimpun kata yang berbisa. Ajaran tak selamanya membentuk perilaku; perilaku justru yang tak jarang membentuk ajaran.
Tapi dalam hal itu Wilders tak sendiri. Kaum ”Islamis” juga yakin, ajaranlah yang mampu membentuk manusia. Dan seperti Wilders, mereka juga memilih ayat-ayat yang cocok untuk agenda kebencian mereka. Dan seperti Wilders, mereka tak mengacuhkan konteks sejarah ketika sebuah ayat lahir.
Benci memang bersifat substraktif. Benci membuat pelbagai hal jadi ringkas—dan membuat sang pembenci tegas, jelas, menonjol. Benci adalah advertensi Wilders dan iklan para imam dengan demagogi ”Islam”.
Itulah sebabnya Wilders salah tapi dibenarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan?
Apa mau dikata: inilah zaman ketika firman berkelindan dengan fitnah, ketika yang sakral bertaut dengan yang brutal. Kita hidup pada masa ketika Jonathan Swift, satiris penulis Gulliver’s Travels dari abad ke-17 itu, terdengar kembali arif dan sekaligus menusuk: ”Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai….”

~Majalah Tempo Edisi. 37/VII/07 - 13 April 2008~
Sensor Januari 28, 2008

Kami, sejumlah juru sensor, duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang waswas. Kami tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Tuhan, (meskipun kami tak tahu ke arah mana semestinya), dengan mata gundah: tidakkah Ia terlampau optimistis tentang manusia ketika Ia memutuskan untuk menciptakan makhluk yang merepotkan ini? Tidakkah Tuhan lalai menduga bahwa manusia akan menyebarkan kejorokan di muka bumi?
Kami, para juru sensor, sungguh khawatir. Memang Tuhan pernah mengatakan kekhawatiran itu tak berdasar. ”Aku tahu apa yang kalian tak tahu”, kata-Nya. Tapi kami tetap tak percaya manusia akan berfiil baik, berakhlak tinggi, dan berjiwa kuat. Bagi kami, manusia pasti akan mudah tergoda syahwat dan kemudian mencandu seks. Manusia, terutama yang muda-muda, pasti akan terhanyut tenggelam oleh arus hal ihwal yang erotis. Tentu, ini baru dugaan, tapi lebih baik kami siaga.
Sebab kami, para juru sensor, sebenarnya tak ikhlas ketika Tuhan memberi begitu besar kemerdekaan kepada Adam + Hawa beserta keturunannya. Kami mendengarkan baik-baik kata Allah, tapi kami tersenyum kecut ketika mendengar beberapa kalimat dalam Al-Baqarah bahwa Ia mengangkat manusia sebagai ”khalifah”-Nya di bumi.
Sebab, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin makhluk yang lemah ini—yang kadang-kadang memandang dengan berahi sebuah foto Happy Salma atau berpikir cabul tentang Tom Cruise—bisa diandalkan sebagai wakil-Nya? Bagaimana mungkin kita harus merayakan kedaulatan manusia?
Hati kami menampik. Manusia tak bisa dipercaya. Tentu, kami, para juru sensor, para alim ulama dan pengkhotbah moral, juga manusia. Tapi rasanya kami lain: bahan kami mungkin lempung yang lebih unggul. Jangan-jangan malah kami diciptakan dengan campuran api. Kami memang oknum luar biasa. Buktinya: kami telah dipilih Pemerintah Republik Indonesia sebagai sekelompok kecil yang tentu tak akan tergoda bila menonton, misalnya, adegan malam pengantin baru dalam film Berbagi Suami.
Sebab kami tak sembarangan. Kami yakin bahwa orang yang bukan kami, mereka yang bukan juru sensor, akan rusak bila melihatnya. Kalau tidak rusak, pasti bingung, atau salah paham. Kasihan, ’kan? Karena orang-orang di luar gedung lembaga yang luhur ini belum sematang kami. Mereka belum terdidik. Mereka lemah iman, suka melamun, bolos ibadah, penuh dosa, dan, maaf, bodoh-bodoh. Mereka harus dilindungi.
Lagi pula mereka tak butuh kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka tonton, tak perlu kemerdekaan untuk berpikir sendiri dan mengutarakan pendapat. Kebebasan itu kemewahan. Atau dikatakan secara lain: kemerdekaan itu harus ada batasnya.
Kami tahu, mereka tak tahu mana batasnya. Sebab itulah kami yang akan bikin rambu-rambu. Bagaimana cara kami membikin, dan apakah rambu-rambu itu adil dan dapat dipertanggungjawabkan—ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan. Pokoknya, inilah tugas kami.
Ini tugas yang mulia, sebagaimana mutu diri kami yang mulia. Kami menjaga manusia Indonesia dari pelbagai bahaya yang mengancam mereka—dari bahaya masturbasi sampai dengan bahaya aborsi, dari bahaya film biru sampai dengan koran kuning. Bukankah ada seorang tua yang mengatakan, (dan seperti lazimnya orang tua, mengatakannya berkali-kali), kita sekarang sedang diserbu ”gerakan syahwat merdeka”?
Tentu, sinyalemen itu menggelikan. Sebab sebenarnya tak ada ”gerakan”, tak ada aktivitas yang terarah dan terorganisir. Yang terjadi adalah dinamika kapitalisme: ketika ekonomi pasar mulai bangkit, tampak celah-celah untuk memasarkan hal-hal yang terkait ”syahwat”. Tapi jika kata ”gerakan” dipakai, itu cuma bagian dari sebuah bualan—sebuah siasat retorika untuk membuat orang dag-dig-dug. Sedikit menyesatkan tak apa-apa, asal tujuan tercapai.
Namun ada ”gerakan” atau tidak, lebih baik kami mendahului: kami harus tegakkan benteng. Lebih baik kami awas, sejak awal. Sebab manusia terlampau lembek. Harus kami katakan, Tuhan salah. Tuhan terlalu optimistis. Itu juga yang diutarakan Sang Pengusut Agung dalam satu bagian novel Dostoyewski yang termasyhur itu, Karamazov Bersaudara.
Dalam cerita ini, kardinal di Sevilla, Spanyol, yang berusia 90 tahun, dengan bengis dan yakin menangkap orang yang dituduh murtad, mengusut imannya sampai sejauh-jauhnya, dan membakarnya hidup-hidup. Tiap hari, api unggun tampak di mana-mana. Orang ketakutan, sampai akhirnya Yesus sendiri turun kembali ke bumi untuk membebaskan mereka.
Tapi sang Kardinal tak gentar. Ia juga tak menyesal. Malah ia berani bicara agresif kepada Tuhan: ”Apa yang Paduka telah tawarkan kepada manusia? Apa yang dapat Paduka tawarkan? Kebebasan? Manusia tak dapat menerimanya. Manusia butuh hukum-hukum, sebuah tata yang mapan yang terperi untuk seterusnya, yang akan menolongnya membedakan yang sejati dan yang palsu….”
Membangkangkah dia? Bukankah Sang Pengusut melakukan semuanya untuk menyelamatkan dunia? Jawabnya ”ya” dan ”tidak”.
Dalam Kitab Suci, ada cerita bahwa Iblis, yang merasa tak terbuat dari lempung, melainkan dari api, menampik untuk mengikuti Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia. Dengan demikian bisa dikatakan, sang Pengusut Agung tak tampak berbeda dari Iblis. Tapi apa salahnya? Kami bukan Iblis, namun kami juga sepakat dengan sikapnya yang memandang manusia sebagai makhluk yang tak dapat diandalkan. Sebab itulah kami ada: manusia harus dijaga, dilindungi, diawasi, diatur, dikekang….
Dunia mencemaskan. Dunia dan manusia gampang berdosa dan najis. Mencatat semua itu memang bisa sama dengan meragukan, layakkah Tuhan diberi ucapan terima kasih dan kita bersyukur. Para juru sensor, yang duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang berwajah suram, tahu apa jawabnya.
~Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008~
Bergman Agustus 6, 2007

Tuhan pernah jadi beban bagi Ingmar Bergman. Tapi kemudian beban itu lepas, bahkan jauh sebelum sutradara film ini meninggal dalam usia 89—dengan nama harum ke seluruh dunia—di Pulau Farö di Laut Baltik, 30 Juli yang lalu. ”Superstruktur keagamaan saya yang berat ke atas telah runtuh,” katanya pada suatu kali—dan ia merasa lega.
Tuhan pernah jadi beban bagi Bergman karena dalam hidupnya, Yang Maha Kuasa diwakili sosok angker seorang ayah. Ayah itu pendeta Lutheran Swedia yang keras, yang tak jarang mengurung Ingmar kecil di ruang gelap—seperti yang bertahun-tahun kemudian digambarkannya dalam tokoh Pendeta Edvard Vergerus, ayah tiri yang tanpa belas kasih itu, dalam film Fanny och Alexander (1983).
Film ini adalah kisah Alexander, bocah berumur 10 tahun. Ia anak yang peka rasa, agak pelamun, dan terbuka pada khayal yang hidup. Dibesarkan dalam keluarga Ekhdal yang longgar, sensual, gembira, dan artistik, ia kemudian masuk ke dunia Pendeta Vergerus, setelah rohaniwan Lutheran ini menikahi ibunya: sebuah dunia dengan iman yang teguh, puritan, represif, dan bengis.
Di sela-sela itu, Alexander menemukan dunia yang magis dan remang di antara boneka-boneka antik sebuah keluarga Yahudi. Satu dimensi lain pun muncul: dalam hidup ada sesuatu yang ajaib dan mempesona, sesuatu yang bukan duniawi, tapi jauh dari akidah agama.
Fanny och Alexander, yang mengandung anasir otobiografis yang tebal, praktis sebuah gugatan kepada ruang terkunci yang bernama ”akidah agama”. Masa kecil Bergman—seperti dalam kisah si Alexander—adalah tahun-tahun yang dirundung trauma dalam ruang terkunci itu. Salah satu perasaan yang paling menusuk, bagi Bergman, adalah perasaan direndahkan. Kini ia melihatnya sebagai salah satu sebab ia memandang muram ajaran agama. Ia ”menentang agama Kristen dengan sangat,” katanya dalam Bergman on Bergman, Interviews with Ingmar Bergman, ”karena agama ini dilekati motif penghinaan yang sangat ganas.” Bagi ajaran agama Kristen yang ia warisi, manusia adalah pendosa sejak lahir. Ia selalu berada dalam posisi untuk diawasi.
Memang agak aneh, Bergman tak melihat segi lain dari iman Kristen: adanya keyakinan akan Kasih dan Penebusan. Mungkin karena dalam hidup Bergman Tuhan hadir lebih sebagai tiran—dan teramat kuat pula pembangkangannya lantaran itu. Dalam The Magic Lantern, otobiografinya, ia mengatakan: ”Saya telah bergulat seumur hidup saya dengan sebuah hubungan yang menyakitkan dan tanpa suka cita dengan Tuhan”.
Hubungan yang menyakitkan itu pula yang agaknya mendasari film Der Sjunde Inseglet (versi Inggris, The Seventh Seal, 1957). Dalam film ini aktor Max von Sydow memainkan peran kesatria Antonius Block yang pulang dari Perang Salib, letih, murung, dan guncang iman. Diiringi pembantunya, Jöns, ia kembali ke negerinya yang dikerkah wabah. Di tengah jalan, Ajal menjemputnya. Block mencoba menawar dengan menantang bermain catur: jika ia kalah, ia bersedia dibawa Ajal pergi. Di sela-sela permainan itu, ia masuk ke sebuah gereja kecil. Ia pun mengutarakan kerisauan hatinya kepada seorang pastor—yang ternyata sang Maut sendiri.
Ajal: ”Apa yang kau tunggu?”
Block: ”Pengetahuan.”
Ajal: ”Kamu mau jaminan.”
Dengan kata lain, Block perlu kepastian—yang ia beri nama ”pengetahuan”—karena ia berpijak di sebuah dasar yang sudah guyah. ”Aku ingin Tuhan ulurkan tangan-Nya, tunjukkan paras-Nya, bicara padaku.”
Block memang di ambang murtad. Tapi siapa yang gandrung kepada ”pengetahuan” yang menjamin adanya Tuhan sebenarnya menanggungkan Tuhan sebagai obsesi. Tak mengherankan bila di depan seorang perempuan yang dihukum bakar karena dituduh jadi dukun penyebar sampar, Block hanya tertarik pada persoalan adakah pada saat kematiannya wanita itu melihat Tuhan. Sang kesatria tak tergerak membawakan air untuk si terhukum. Justru Jöns yang tak beriman yang punya belas.
Dengan kata lain, antara soal Tuhan dan manusia, mana yang lebih didahulukan? Di satu sisi, kita saksikan Block dengan obsesi mendapatkan jaminan tentang Tuhan. Di sisi lain, di bawah matahari yang cerah, kita lihat hidup sederhana dan bahagia keluarga Jof, si pemain akrobat, yang tak memerlukan itu.
”Saya selalu bersimpati kepada orang seperti Jöns dan Jof…,” kata Bergman. Sebaliknya, ia memandang obsesi Block sebagai fanatisme: orang yang pikirannya mengabaikan manusia di dekatnya.
Mungkin itu sebabnya, ketika membuat Vargtimmen (The Time of the Wolf, 196 ) Bergman merasa menemukan makna kesucian yang lain: dalam manusia sendiri. ”Pengertian cinta,” katanya, ”adalah satu-satunya bentuk kesucian yang bisa kita pikirkan.”
Di sekitar masa itulah ia merasakan ”struktur keagamaan” dalam dirinya, yang ”berat ke atas”, telah digantikan dengan apresiasi kepada yang ada di ”bawah”: hidup di bumi yang fana dan penuh salah, tapi mengandung sesuatu yang suci dan mempesona.
Ia merasa lega. ”Ketika segi religius dari kehidupanku terhapus,” katanya, ”hidup terasa lebih mudah dijalani.”
Agaknya kesimpulan yang mirip bisa ditarik dari ”trilogi keimanannya”, Såsom I en Spegel (Through a Glass Darkly, 1961), Nattvardsgästerna (Winter Light, 1962), dan Tystnaden (The Silence, 1963).
Dalam Såsom I en Spegel, Karin yang menderita skizofrenia adalah fokus cinta yang tak mudah dari ayahnya, David. Tapi dengan itu David juga yang bisa mengatakan bahwa ”cinta ada di dunia nyata”. Dalam Nattvardsgästerna, Pastor Tomas Ericsson yang susut imannya akhirnya menjalankan ritual di gereja kosong itu untuk Marta, kekasihnya, yang konkret hadir di bangku sunyi itu.
Tanpa persentuhan hati semacam itu, kita akan hidup dalam keterpisahan, seperti kakak beradik Ester dan Anna yang menginap di sebuah kota asing dalam Tystnaden. Artinya, sekali kita memutuskan Tuhan tak menjawab lagi, neraka adalah orang lain yang tak peduli.
~Majalah Tempo, Edisi. 24/XXXIIIIII/06 - 12 Agustus 2007~
Negeri Asal Maret 31, 2008

Pembebasan datang dari yang tak punya nama.
Saya bayangkan ini: ketika dari kapal orang-orang Belanda memandang ke pantai di sebelah barat Jawa itu, mereka lihat sosok, corak rambut, warna kulit, dan jenis pakaian yang demikian tak tepermanai ragamnya. Kemudian mereka tinggal di bandar yang gerah dan terik itu. Sebuah ekonomi pengenalan berlaku: dalam pikiran mereka, manusia itu tersusun dalam perbedaan yang rapi. Lalu mereka memberi nama.
Maka mulailah klasifikasi manusia penghuni bandar itu—dan di situlah kolonisasi memasang tonggak dan pagarnya. Sekitar dua setengah abad kemudian, ketika kekuasaan serikat dagang VOC diteruskan oleh birokrasi yang mewakili Kerajaan Belanda di ”Hindia Timur”, ekonomi pengenalan berkembang jadi administrasi penamaan.
Tak jelas apa dasar penamaan itu. Ada yang mengatakan itulah usaha untuk menguasai dan sekaligus mengasingkan ”apa yang tak diketahui”, the unknown. Tapi tak dikatakan kenapa justru nama ”inlander”, ”timur asing”, dan ” Eropa” yang dipakai, bukan nama bahasa atau jenis pekerjaan.
Apa boleh buat. Penamaan mau tak mau bergantung pada sang penguasa bahasa atau bahasa sang penguasa. Seakan-akan berdasarkan sesuatu yang hadir di luar diri, penamaan adalah metonimi dalam kesewenangan. Kata ”inlander”, ”timur asing”, dan ”Eropa” merujuk tempat, tapi tempat belum tentu sama dengan ”asal”. ”Asal” berkait dengan masa lalu. Kenapa masa lalu dan bukan masa kini? Apa pula masa lalu itu: waktu ketika lahir, atau ketika dibesarkan? Bukankah masa lalu bisa kupilih, bukan cuma memilihku?
Pada 1935, Edgar du Perron menerbitkan novelnya, Het land van herkomst. Kata ”asal” dalam judul itu ambigu sebenarnya. Du Perron lahir pada 1899 di Jatinegara, Jakarta, dan dibesarkan dalam keluarga kaya raya pemilik perkebunan, dengan darah campuran dan kaitan yang akrab ke kebudayaan lokal. Ketika Edgar berumur 22, orang tuanya menjual milik mereka dan balik ke Eropa, tanah leluhur. Mereka membeli sebuah kastil di Belgium dan tinggal dikelilingi pelayan dan kemewahan. Si Edgar yang tak kekurangan uang menggelandang bak seorang bohemian di lorong-lorong Paris, bergaul dengan Pascal Pia dan André Malraux. Pengarang Prancis ini kemudian memperuntukkan novelnya yang termasyhur tentang kaum revolusioner Cina, La Condition Humaine, kepada pemuda kelahiran Jawa itu.
Pada masa itulah Du Perron mulai mempertanyakan perilaku ayahnya sendiri, sang tuan besar dalam struktur masyarakat kolonial di Indonesia. Edgar mulai merasa dirinya bukan orang Eropa—meskipun selama di Hindia Belanda, ke dalam golongan itulah ia dan keluarganya dinamai.
Het land van herkomst dikisahkan oleh Ducroo, terutama sebagai seorang bocah. Bersama ayahnya, tuan onderneming itu, Ducroo menyukai novel yang mengungkapkan pedihnya perbudakan di Amerika itu, Uncle Tom’s Cabin—dengan simpati kepada si budak hitam dan benci kepada si tuan kulit putih, tanpa si ayah sadar betapa dekat posisinya dengan si pemilik budak yang kejam. Si anak menyaksikan sendiri bagaimana si ayah memukuli seorang petani, dan novel ini dibuka dengan menyebut orang Eropa ”bandit yang berniat sungguh-sungguh”.
Para bandit akhirnya tak bisa hidup sendiri. Ayahnya, yang melanjutkan gaya hidup seorang tuan besar kolonial di negeri yang berbeda, bunuh diri pada 1926, dengan harta ludes. Du Perron tertinggal miskin, tanpa pendidikan formal, menikah dan cerai dan menikah lagi, dan semua itu harus ia biayai. Ia terdesak. Pada 1936 ia ke Indonesia—dan dalam arti tertentu, ia ”kembali”.
Di negeri yang sedang hangat oleh gerakan nasionalis ini ia tak betah bergaul dengan kawan-kawan masa kecilnya: perilaku orang-orang Belanda itu persis seperti yang dibencinya sejak ia hidup di Paris. Di Jakarta (waktu itu masih Batavia), Du Perron memilih teman lain: sejumlah intelektual Belanda yang progresif dan orang-orang pergerakan untuk kemerdekaan. Suwarsih Djojopuspito, pengarang yang merekam hidup kaum pergerakan dalam novel Buiten Het Gareel, adalah salah satu di antaranya.
Tapi Du Perron tahu, dengan sedih, di masyarakat kolonial itu tak ada tempat baginya. Ia seorang sastrawan yang tak hendak percaya bahwa puisi bisa berarti bagi orang banyak. Ia menganggap pendirian S. Takdir Alisjahbana, yang ingin agar sastra bekerja untuk ”pembangunan bangsa”, sebagai sikap ”seniman serdadu”. Takdir menyerangnya balik.
Du Perron pun kembali ke Nederland. Sebelum pergi, ia berkata, ”Untuk berada di pihak yang benar, orang harus jadi seorang Indonesia. Saya mungkin akan tetap kritis, mengganggu, dan suka bertentangan, dengan kata lain, seorang individualis. Tapi saya juga akan jadi seorang nasionalis sampai ke ulu hati.”
Ia meninggal pada 1940, terkena serangan jantung, lima tahun sebelum perjuangan kaum nasionalis berhasil.
Kini, jika Anda bertanya, nama apakah yang bisa diberikan kepada Du Perron—”Eropa” atau ”inlander” atau ”timur asing”— tak akan ada yang pas buatnya. Ia bagian dari yang tak ternamai.
Sebenarnya demikian juga gerakan pembebasan nasionalis sejak sebelum Du Perron kembali ke Eropa. Pada 1908, sejumlah mahasiswa di Belanda yang datang dari ”Hindia” mendirikan Indische Vereniging, sebuah himpunan yang meniadakan penamaan yang ada dalam klasifikasi kolonial. Setelah itu, di Jakarta, Indische Partij didirikan Douwes Dekker pada 1912, untuk membangun ”patriotisme dari semua penduduk Hindia”, berdasarkan kesetaraan politik bagi orang dari ”ras” (atau nama identitas) yang berbeda-beda.
Artinya, bahasa yang berkuasa sedang dihapus. Politik pembebasan dimulai dari sebuah komunitas yang, seperti kata Alain Badiou, ada pada ”titik yang tak ternamai”.
Dari titik itu lahir ”Indonesia”. Ini mungkin sebuah nama, tapi yang pasti ia sebuah cita-cita.
~Majalah Tempo Edisi. 37/VI/31 Maret - 06 April 2008~

Harmoko Maret 24, 2008
Syahdan, dua hari setelah Harmoko berhenti dari jabatannya sebagai Menteri Penerangan ”Orde Baru”, datanglah seorang perempuan ke kantor departemen itu. Wajahnya manis, senyumnya tulus meski samar-samar. Di meja penerima tamu, ia berkata, ”Saya datang untuk menghadap Pak Harmoko, Pak Menteri Penerangan.”
Petugas penerima tamu itu berkata dengan sopan, ”Maaf, Bu, Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi.”
”Oh, begitu,” jawab perempuan tamu itu. Dan ia pun pergi.
Tapi esoknya ia datang lagi. Ia menuju meja penerima tamu itu pula dan berkata, dengan nada suara yang sama dan senyum samar-samar yang sama, ”Saya datang untuk menghadap Pak Harmoko, Pak Menteri Penerangan.”
Petugas itu (orang yang juga sama seperti kemarin) sejenak terhenyak. Ia ingat, ini tamu yang kemarin juga. Tapi ia menjawab sabar, ”Maaf, Bu, Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi.”
Dan perempuan itu pun pergi.
Tapi esoknya dan esoknya lagi ia kembali, dan adegan, ucapan, dan senyum itu berulang lagi. Sampai lima kali.
Tak urung, para petugas penerima tamu bingung, kemudian curiga, lalu melapor ke bagian keamanan dan protokol. Dengan cepat cerita ini menyebar ke seluruh lantai Departemen Penerangan.
Syahdan, pada hari keenam, para pegawai (yang umumnya memang hanya pura-pura banyak kerja) pun menunggu. Dengan mengintip-intip. Betul juga: perempuan misterius itu datang lagi.
Langsung ia dibawa ke lantai ke-3. Sang Sekretaris Jenderal sendiri, dengan didampingi dua direktur jenderal, duduk menemuinya. Perempuan itu tak tampak gugup atau gentar. Senyumnya tetap, juga ketika salah seorang direktur jenderal bertanya:
”Ibu sudah lima kali ke kantor ini untuk menghadap Pak Harmoko. Petugas kami sudah memberi tahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Tapi Ibu datang lagi, datang lagi. Kan sudah jelas bahwa Pak Harmoko tak menjabat lagi? Apa maksud Ibu, sebenarnya?”
”Oh, saya tak bermaksud apa-apa, Pak,” jawab perempuan itu. ”Saya datang berkali-kali kemari karena saya senang mendengar kabar baik itu berkali-kali.”
Cerita ini—sebuah fiksi, tentu—hanya lucu jika kita letakkan dalam latar masa ”Orde Baru”, ketika ada ketaksukaan yang meluas kepada Harmoko: Menteri Penerangan yang tak henti-hentinya muncul di layar TV, yang tak habis-habisnya omong yang itu-itu juga, seraya tak putus-putusnya bermulut manis kepada Presiden—di masa ketika media massa dikekang dan orang takut membantah kebohongan para pembesar.
Cerita ini hanya lucu jika orang ingat masa itu, ketika keajaiban bisa sangat sederhana: seorang menteri berhenti.
Kini hal seperti itu tak akan ada lagi. Demokrasi adalah sistem politik yang meniadakan keajaiban. Ada yang lugas di sini: berhentinya seorang yang berkuasa adalah bagian dari regularitas.
Tapi kita tahu, proses yang teratur dan ajek itu bukan sekadar tour of duty seperti yang harus dijalani para birokrat sipil dan militer. Sebab itu kejutan bukan mustahil. Pergantian masih bisa jadi berita baik. Regularitas dalam demokrasi adalah sebuah struktur yang agonistik: yang naik dan yang berhenti bergerak dalam sebuah bangunan politik dengan ketegangan, perjuangan, persaingan, pertentangan. Ada kalah dan menang.
Tapi dalam kondisi seperti itu, struktur itu dibayang-bayangi oleh hantu yang sesekali memperlihatkan diri, seperti hantu sang raja dalam lakon Hamlet. Ia datang dari Antah Berantah. Ketika ia muncul, kita sadar bahwa sebuah negeri tak pernah bisa benar-benar jelas bagi dirinya sendiri.
Tapi sebenarnya tak hanya itu: Antah Berantah itu, yang tak bisa diterangkan dan ditangkap oleh bahasa dan sistem, oleh artikulasi dan proses politik, bukanlah sekadar bagian yang turah tak tertampung sistem. Ia lebih mendasar. Bahkan bisa dikatakan tiap negeri berada dalam orbitnya. Berpusar di sekitar Antah Berantah, tiap negeri sebenarnya genting dan tak tuntas disalin dalam satu wacana.
Itu sebabnya, meskipun regularitas adalah bagian yang produktif dalam demokrasi, kita tak akan memandangnya sebagai sebuah kehadiran yang tak bergeming. Kita tak akan lupa bahwa justru regularitas lahir karena ada yang tak hadir, ada yang negatif, yang traumatis, di sekitarnya.
Itu sebabnya pemilihan umum, pergantian pemimpin dan manajemennya, perubahan para legislator dan undang-undangnya—semuanya adalah regularitas yang terjadi dari paradoks demokrasi: inilah sistem yang (seperti telah saya sebut tadi) meniadakan keajaiban, tapi pada saat yang bersamaan inilah sistem yang mengakui bahwa ada yang sesekali muncul dari Antah Berantah.
Itu sebabnya kita selalu perlu risau melihat ke Senayan. Di sana duduk orang-orang yang dengan yakin, mungkin sedikit pongah, memandang diri sebagai intan dua cahaya: cahaya pertama adalah cahaya ”wakil suara rakyat”; cahaya kedua, ”pembuat undang-undang”. Mereka bisa mengatakan, dari tangan merekalah undang-undang sah dan adekuat untuk kepentingan umum.
Tapi benarkah? Undang-undang pada akhirnya hanya akan mencapai apa yang normatif. Ia terbatas. Masih ada sesuatu yang tiap kali bisa hilang dalam kehidupan sebuah negeri di mana yang normatif tak bisa digugat—yakni keadilan.
Sebab keadilan lebih dari norma. Ia tak pernah secara lengkap dipenuhi. Ia juga berada dalam Antah Berantah. Ia seperti hantu yang sesekali datang sesekali hilang dan, seperti hantu dalam Hamlet, begitu penting dalam menggerakkan lakon.
Tapi analogi itu perlu stop di situ. Demokrasi bukanlah sebuah tragedi. Kalaupun keadilan mirip hantu, ia bukan mukjizat. Ia bisa kita panggil dan bisa kita datangkan sekali-sekali—dan ia bisa jadi kabar baik yang kita suka mendengarnya berkali-kali.
~Majalah Tempo Edisi. 05/XXXVII/24 - 30 Maret 2008~
Melayu Maret 17, 2008
Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Nasionalisme, Sastra.
7 comments
Begitu banyak salah paham tentang Amir Hamzah. Penyair ini dibunuh dalam sebuah pergolakan sosial di Sumatera Utara pada tahun 1946, tak lama setelah Indonesia diproklamasikan. Kekuasaan Belanda dan Jepang dinyatakan habis, tapi ”negara” dalam republik yang masih beberapa bulan umurnya itu belum tersusun. Mesin kekuasaan belum berjalan ketika euforia ”kerakyatan” meletup di mana-mana. Kata ”Revolusi” (dengan ”R”) diarak. Itu berarti seluruh tata yang lama harus dihancurkan, meskipun tak selalu jelas apa yang akan menggantikannya.
Amir Hamzah adalah anggota keluarga Sultan Langkat. Dengan demikian ia berasal dari kelas feodal, bagian masa lalu yang dibenci, meskipun tak pernah tercatat bahwa Amir—yang menghabiskan waktu mudanya bukan di istana, melainkan di sekolah-sekolah di Jawa—melakukan sesuatu yang tak dapat dimaafkan.
Dunia hanya mengenalnya sebagai seorang yang menulis sajak yang menyentuh hati sampai hari ini. Karya-karyanya adalah serangkaian ekspresi yang merupakan bagian dari ”puisi baru” Indonesia, dan memang demikian. Amir tak ingin sepenuhnya lepas dari ungkapan Melayu klasik, tapi banyak kata bentukannya yang datang dari gramatika Jawa. Dalam sebuah sajak yang indah—gabungan ironi dan kesedihan—ia menyebut diri ”beta, bujang Melayu”, tapi seluruh kumpulan puisinya, Buah Rindu (yang ditulis pada 1928-35), ia persembahkan kepada ”Paduka Indonesia Raya”, selain kepada ”ibu ratu” dan kepada seorang perempuan dengan nama ”Sendari”.
Tampak bahwa Amir Hamzah, seperti teman-teman segenerasinya, S. Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, yang aktif di sekitar majalah Poedjangga Baroe, melihat diri bagian dari generasi yang didera oleh masa depan. Mereka hendak menciptakan sesuatu yang baru dari sebuah kondisi terjajah, terkebelakang, terhina—sesuatu yang bukan lagi bisa disebut ”Jawa”, ”Melayu”, atau ”Ambon”.
Dalam arti itu, Amir Hamzah adalah sebuah fenomen ”pasca-Melayu”.
Jika kita perhatikan sajaknya yang terkenal itu, kata ”bujang Melayu” itu memang disebut bukan hendak membanggakan diri. Bahkan sebaliknya: kata itu sejajar dengan frase ”anak Langkat, musyafir lata,” bagian dari bait-bait yang murung:
Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.
Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.
Zaman memang telah berubah. Graham K. Brown, dalam telaahnya yang membandingkan terbentuknya identitas politik di Indonesia dan Malaysia (The Formation and Management of Political Identities: Indonesia and Malaysia Compared), mengutip catatan sejarah: pada masa kesultanan Malaka, ”Melayu” bukanlah identitas sebuah kelompok etnis, melainkan sebuah lapisan elite yang masih berhubungan darah dengan raja. Kitab Sejarah Melayu praktis berarti genealogi para sultan.
Tapi pada 1511 Malaka jatuh diserbu armada Portugis. Keluarga kerajaan melarikan diri ke Johor. Tak ada lagi pemegang hegemoni yang menentukan apa arti ”Melayu”. Kata itu akhirnya menyebar bersama diaspora para pedagang pasca-Malaka. ”Melayu” bukan lagi identitas yang menunjukkan lapisan sosial, melainkan sebuah ”identitas horizontal”. Nama itu jadi penanda dalam pengelompokan sosial yang berbeda-beda tapi setara—terutama dalam pandangan kekuasaan kolonial orang Eropa.
Kolonialisme memang tatapan yang membekukan si terjajah. Kolonialisme adalah garis ruang yang brutal—baik ruang dalam kehidupan sehari-hari maupun ruang dalam lajur daftar penduduk dan kitab hukum. Jakarta yang didirikan sebagai Batavia oleh VOC pada tahun 1650-an berkembang jadi kota yang terbangun oleh apartheid: di satu sisi dibatasi tembok tempat orang Belanda hidup, di sisi lain Ommelanden, tempat yang ”lain” diletakkan.
Dari pemisahan macam ini sang penjajah membangun identitas etnis untuk memudahkan kontrol dan pembagian kerja. Dengan itu juga berlangsung divide et impera. Dalam telaah Brown dikutip keputusan VOC di Cirebon, misalnya, untuk memperkukuh batas etnis agar bisa mengisolasi orang ”peranakan”, keturunan Cina yang semula hidup berbaur sebagai penasihat politik sultan. Dengan itu, kompeni bisa memperlemah posisi kedua-duanya.
Maka tak mengherankan bila pembebasan dari kolonialisme bertaut dengan kehendak melepaskan diri dari tatapan yang membekukan itu. Amir Hamzah dan puisinya adalah bagian dari pembebasan itu: ia tak lagi bisa disebut ”Melayu”. Sejak tahun 1930-an, puisi Indonesia adalah puisi para ”musyafir lata,” para pejalan yang tak punya apa-apa selain kebebasannya dalam menjelajah. Indonesia lahir dari penjelajahan itu.
Sebab itulah nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang mengangkut milik yang diwariskan masa lalu, baik dalam wujud candi maupun ketentuan biologi. Mungkin itu sebabnya ”Indonesia” dan ke-”Indonesia”-an selalu terasa genting, tapi dengan itu justru punya makna yang tak mudah disepelekan.
Baru-baru ini saya dengar cerita sejarawan Taufik Abdullah ketika ia di Mekkah. Di kota suci itu seorang Malaysia bertanya kepadanya apakah ia orang ”Indon”—sebutan yang sering dipakai orang Malaysia untuk menyebut Indonesia. Taufik Abdullah marah. ”Jangan sebut ’Indon’,” katanya, ”tapi ’Indonesia’.”
Ia menjelaskan kenapa ia marah. ”Saya penelaah sejarah. Saya tahu nama ’Indonesia’ diperjuangkan dengan tidak main-main, sejak awal abad ke-20.”
Sungguh tak main-main: berapa puluh, berapa ratus, berapa ribu orang dipenjara dan mati untuk nama itu? Bisakah kita melupakannya?
Ada sebuah sajak Rivai Apin pada tahun 1949:
Ingatlah bila angin bangkit
Ingatlah bila angin bangkit
Bahwa daerah yang kita mimpikan
Telah bermayat, banyak bermayat
Sajak itu ditulis tiga tahun setelah Amir Hamzah dibunuh. Tampaknya memang hanya dengan tragedi kita tahu apa yang seharusnya kita hargai.
~Edisi. 04/XXXVII/17 - 23 Maret 2008~
Ta’ayush Mei 12, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Sejarah.
10 comments
Sejarah kebangsaan juga bisa mengandung cerita kekejaman, meskipun sebuah bangsa semestinya dibangun dari ta’ayush.
Ta’ayush adalah kata Arab yang berarti ”hidup bebrayan”. Kata ini tak istimewa, tapi terasa luar biasa di sebuah negeri di mana ”bangsa” bukan saja sedang terguncang sendi-sendinya, melainkan juga terancam oleh saling membenci. Negeri itu adalah Israel. Ia bulan ini ber¬umur 60, dengan kegundahan yang dulu tak terbayangkan ketika ia dinyatakan berdiri pada 14 Mei 1948.
Di tengah kegundahan itulah pada tahun 2000 sejumlah warga Israel memakai ta’ayush untuk jadi nama sebuah organisasi. Ia terdengar seperti bagian dari sebuah agenda mulia namun mustahil. Tapi statemennya yakin:
Kami—warga Israel keturunan Arab dan Yahudi—hi¬dup dikelilingi tembok dan kawat berduri: dinding pemisahan, rasialisme, dan diskriminasi…; dinding penutup dan pengepungan yang mengurung orang Palestina di daerah pendudukan di Wilayah Barat dan Gaza; dinding peperangan yang mengelilingi seluruh penghuni Israel, selama Israel jadi benteng bersenjata di jantung Timur Tengah….
Kami bergabung bersama membentuk ”Ta’ayush”, sebuah gerakan dari bawah masyarakat Arab dan Yahudi yang bekerja sama untuk membongkar tembok rasialisme dan pemisahan dengan membangun sebuah kemitraan sejati antara orang Arab dan Yahudi.
”Kemitraan sejati”—ketika dari Israel tak terdengar semangat yang universal, tapi ”tembok dan kawat berduri”? Ta’ayush di tengah ”pemisahan, rasialisme, dan diskrimi¬nasi”? Keraguan seperti itu tak aneh bila terdengar di wilayah itu, yang selalu dekat dengan api kebencian yang murub. Tapi semangat organisasi ini bukan baru. Jauh sebelum Israel lahir, pada 1925 di wilayah Palestina berdiri Brith Shalom.
Organisasi ini—berarti ”Kontrak Perdamaian”—hendak melaksanakan ide-ide Martin Buber (1878-1965), filosof Yahudi yang terkenal karena karyanya Ich und Du (”Aku dan Kau”). Buber bukan saja menentang kekerasan orang Yahudi ketika menghadapi orang Arab, melainkan menjauh dari arus besar nasionalisme dalam Zionisme. Berpindah dari Jerman yang menghalau dan membinasakan orang Yahudi, Buber datang ke Palestina. Tapi, berbeda dengan banyak Zionis lain, ia punya cita-cita tersendiri. Ia tak ingin sebuah republik Yahudi, tapi sebuah negeri dwi-bangsa.
Ia tak punya ilusi idenya akan diterima kaum nasionalis yang menggebu-gebu. Tapi, baginya, perjuangan tak hanya terdiri dari strategi politik. Buber bersuara terus, percaya bahwa kebenaran moral tetap penting biarpun terpojok. Bertahun-tahun lamanya ia dilupakan. Tapi mungkin ini tanda kegundahan Israel, bila kini pemikir¬annya menarik perhatian lagi: sebuah kumpulan tulisannya diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 2005, dengan judul A Land of Two Peoples.
Tampaknya orang sedang mencari jalan dan harapan, ketika Israel harus memecahkan dilemanya yang terbesar. Republik ini berdiri dengan asas demokrasi (dulu ia demokrasi satu-satunya di Timur Tengah), yang mengakui mandat datang dari suara terbanyak warganya. Namun, sejak kemenangannya yang mengejutkan pada 1967, ketika Israel tak hanya punya sejarah yang panjang tapi juga peta bumi yang luas, republik itu harus mengakui: dulu ada masanya orang-orang Arab binasa atau terusir, tapi kini suara yang datang dari warga yang ”lain” itu makin lama makin penting. Tiap tahun penduduk Arab tumbuh 2,5 persen; penduduk Yahudi hanya 1,4 persen. Sementara itu, Israel sekaligus menduduki wilayah Arab yang hanya bisa ia pertahankan dengan darah dan besi.
Maka kini paranoia, kebencian, dan kehendak destruktif merasuk di mana-mana—sebuah lingkaran setan, sebuah napas iblis, yang diperkuat dengan nama Tuhan di kedua belah pihak. Apa gerangan yang akan terjadi dengan Israel? Tidakkah Martin Buber dulu benar: Israel sebaiknya memang tak hanya semata-mata republik Yahudi? Dengan kata lain, masa depan adalah ta’ayush, dengan pelbagai versi yang mungkin?
Tak mudah untuk percaya. Harapan gelap. ”Israel, seperti masyarakat mana saja, punya anasir yang buas dan mengidap patologi sosial,” tulis David Shulman dalam Dark Hope: Working for Peace in Israel and Palestine, sebuah buku kesaksian yang sedih dari seorang anggota kelompok Ta’ayush. Tapi dalam 40 tahun terakhir orang-orang Yahudi yang destruktif telah dapat tempat, lengkap dengan dalih ideologisnya, dalam ”usaha pemukim¬an”. Di pelbagai wilayah, tutur Shulman, orang-orang itu ”punya kebebasan yang tak terbatas untuk menteror penduduk Palestina: menyerang, menembak, melukai, dan terkadang membunuh—semua atas nama apa yang dianggap kesucian tanah ini dan hak eksklusif orang Yahudi atasnya.”
Mereka praktis tak bisa disetop. Tiap usaha mengatasi kebiadaban itu, tiap usaha perdamaian—juga dari peme¬rintah Israel sendiri—terjerat dalam apa yang disebut Shulman sebagai ”mesin yang rumit”. Aparat pemerintah sipil, tangan militer dan polisi, jalin-menjalin secara sengaja dan tidak dengan para pemukim Yahudi, yang bisa begitu kejam hingga tega menebarkan racun ke ternak orang Palestina miskin penghuni gua.
Tapi gelap atau terang, harapan tak sepenuhnya padam. Terutama ketika ada orang Arab seperti Sari Nusseibeh, Rektor Universitas al-Quds, yang melawan represi dengan berani justru karena ia memakai cara damai. Atau orang seperti Shulman sendiri, seorang pengagum Gandhi. Atau Ezra Nawi, si Yahudi asal Irak yang menolong orang Palestina tak putus-putusnya: orang yang percaya bahwa manusia, juga dalam bentuk bangsa, perlu ta’ayush.
Untuk itu ide kebangsaan bukan hanya lahir dari ¬ingatan—satu tendensi yang dominan di Israel—tapi justru dari kemampuan melupakan. Tak mungkin bangsa akan tegak dengan kesetiaan primordial, apalagi dengan trauma dan saling dendam yang berakar.
~Majalah Tempo Edisi. 12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008~
Fitna April 7, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan.
39 comments
Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika tuan teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar tuan kepada sekelompok manusia—dengan teriakan yang cukup keras—tuan akan menarik perhatian orang ramai. Tuan bahkan akan dapat dukungan.
Geert Wilders tahu betul hal itu.
Dalam umur 44, politikus Belanda ini adalah sosok yang cocok bagi zaman yang celaka sekarang. Tiap kali ia mencaci maki orang imigran—para ”non-pribumi” muslim yang hidup di Negeri Belanda—ia dengan segera tampak mumbul seperti balon jingga di langit Den Haag.
Dalam sebuah wawancara dengan harian De Pers pertengahan Februari 2007, inilah yang dikatakannya: ”Jika orang muslim ingin hidup di Negeri Belanda, mereka harus menyobek dan membuang setengah dari isi Quran.” Katanya pula: ”Jika Muhammad hidup di sini sekarang, saya akan usul agar dia diolesi ter dan ditempeli bulu ayam sebagai ekstremis, lalu diusir….”
Syahdan, 15 Desember 2007, radio NOS pun mengangkat Wilders sebagai ”politician of the year”. Para wartawan surat kabar yang meliput parlemen memuji kemampuannya mendominasi diskusi politik dan memperoleh publisitas, berkat ucapan-ucapan ringkasnya yang pas waktu. Ucapan dengan abab yang panas dan bau tentu.
Demikianlah Wilders jadi tokoh publik yang mendapat tepuk tangan karena benci memperoleh tempat yang strategis. Pada awal November 2004, sutradara film Theo van Gogh digorok dan ditikam di sebuah jalan di Amsterdam oleh seorang pemuda Islam, Mohammad Bouyeri, yang menganggap korbannya layak dibinasakan. Van Gogh, seperti Wilders, adalah penyebar kebencian yang dibalas dengan kebencian. Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.
Kini bisa diperkirakan film Fitna yang dibuatnya akan membuat Wilders lebih berkibar-kibar—terutama jika benci yang ditiup-tiupkannya disambut, jika orang-orang Islam meledak, mengancam, atau berusaha membunuhnya. Wilders bahkan memperoleh sesuatu yang lebih: bila kekerasanlah yang terjadi, Fitna, yang ingin menunjukkan betapa brutalnya ajaran Islam, akan dikukuhkan.
Saya menonton film ini di Internet. Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal dari Denmark, karya Kurt Westergaard itu—gambar seorang berpipi tambun dengan bom di kepala sebagai sorban hitam, yang dikesankan sebagai ”potret” Nabi Muhammad—film ini adalah kombinasi antara petilan teks Quran dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan atau kata-kata benci yang berkobar-kobar.
Ayat 60 dari Surat Al-Anfal yang ditampilkan pada awal Fitna, misalnya—perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh—diikuti oleh potongan film dokumenter ketika pesawat terbang itu ditabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian tampak pengeboman di kereta api di Madrid. Setelah itu: seorang imam yang tak disebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: ”Allah berbahagia bila orang yang bukan-muslim terbunuh”.
Pendek kata, dalam Fitna, Quran adalah buku yang mengajarkan khotbah kebencian yang memekik-mekik dan tindak biadab yang berdarah. Wilders sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Quran, baginya, adalah ”buku fasis” yang harus dilarang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. ”Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.”
Salahkah Wilders? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Quran secara keseluruhan, ”Saya lebih suka bukunya.” Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilders hanya memilih ayat-ayat Quran yang cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Quran tak hanya deretan pendek petilan itu. Dan tentu saja tiap petilan punya konteks sejarahnya sendiri.
Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar: ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaidah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam dengan mulut yang penuh api—mereka itulah yang mengkonstruksikan Quran hingga jadi sehimpun kata yang berbisa. Ajaran tak selamanya membentuk perilaku; perilaku justru yang tak jarang membentuk ajaran.
Tapi dalam hal itu Wilders tak sendiri. Kaum ”Islamis” juga yakin, ajaranlah yang mampu membentuk manusia. Dan seperti Wilders, mereka juga memilih ayat-ayat yang cocok untuk agenda kebencian mereka. Dan seperti Wilders, mereka tak mengacuhkan konteks sejarah ketika sebuah ayat lahir.
Benci memang bersifat substraktif. Benci membuat pelbagai hal jadi ringkas—dan membuat sang pembenci tegas, jelas, menonjol. Benci adalah advertensi Wilders dan iklan para imam dengan demagogi ”Islam”.
Itulah sebabnya Wilders salah tapi dibenarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan?
Apa mau dikata: inilah zaman ketika firman berkelindan dengan fitnah, ketika yang sakral bertaut dengan yang brutal. Kita hidup pada masa ketika Jonathan Swift, satiris penulis Gulliver’s Travels dari abad ke-17 itu, terdengar kembali arif dan sekaligus menusuk: ”Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai….”
~Majalah Tempo Edisi. 37/VII/07 - 13 April 2008~
Fouda Maret 3, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Buku, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan, Kekerasan, Kisah, Tokoh, Tuhan.
44 comments
Pada tanggal 8 Juni 1992, mereka bunuh Farag Fouda di Madinat al-Nasr, Kairo. Dua orang bertopeng menyerangnya. Fouda tewas tertembak, anaknya luka-luka parah. Kelompok Jamaah Islamiyah mengatakan: “Ya, kami membunuhnya.”
Bagi kelompok itu, tak ada dosa bila Fouda dibinasakan. Bukankah lima hari sebelum itu sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar memaklumkan bahwa cendekiawan ini telah menghujat agama, dan sebab itu boleh dibunuh? Seorang ulama, Muhammad al-Ghazali, membela para algojo: tindakan mereka adalah pelaksanaan hukuman yang tepat bagi seorang yang murtad.
Tapi tak seorang pun tahu sebenarnya, benarkah Fouda, yang tewas pada umur 46, orang yang murtad. Terutama jika kita baca buku yang baru-baru ini diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Kebenaran Yang Hilang, yang juga memuat kata pengantar Samsu Rizal Panggabean.
Lima bulan sebelum ia dibunuh, Fouda ikut dalam perdebatan di Pameran Buku Kairo. Dalam acara yang konon diikuti 30.000 orang itu ia menghadapi ulama macam Muhammad al-Ghazali. Perdebatan berkisar pada masalah hubungan antara agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam dan lembaga khilafah.
Pendirian Fouda dikemukakan dengan gamblang dalam serangkaian bab al-Haqiah al-Ghaybah-nya yang diterjemahkan oleh Novriantoni. Ia memang bisa mengguncang sendi-sendi pemikiran kaum “Islamis”: mereka yang ingin menegakkan “negara Islam” berdasarkan ingatan tentang dunia Arab di abad ke-7 ketika para sahabat Nabi memimpin umat.
Bila kaum “Islamis” menggambarkan periode salaf itu sebagai zaman keemasan yang patut dirindukan, Fouda tidak. Baginya, sebagaimana ditulis Samsu Rizal Panggabean, periode itu “zaman biasa”.
Bahkan sebenarnya “tidak banyak yang gemilang dari masa itu”, demikian kesimpulan Samsu Rizal Panggabean. “Malah, ada banyak jejak memalukan.”
Contoh yang paling tajam yang dikemukakan Fouda ialah saat kejatuhan Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang diangkat ke kedudukan pemimpin umat pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang–berakhir kekuasaannya 12 tahun kemudian. Ia dibunuh. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak.
Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.
Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seseorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqãt al-Kubrã karya sejarah Ibnu Sa’ad, yang menyebutkan satu data yang menarik: khalif itu agaknya bukan seorang yang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.
Kaum “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu. Dan tentu saja mereka tak hendak mengakui bahwa tindakan berdarah terhadap Usman itu menunjukkan ada yang kurang dalam hukum Islam: tak ada pegangan yang mengatur cara mencegah seorang pemimpin agar tak menyeleweng dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.
Ketika Usman tak hendak turun dari takhta (ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan melepas baju yang telah disematkan Allah kepadaku!”), orang-orang Islam di bawahnya pun menemui jalan buntu. Sebagaimana disebut dalam Kebenaran Yang Hilang, para pemuka Islam waktu itu mencari-cari contoh dari masa lalu bagaimana memecahkan soal suksesi. Mereka gagal. “Mereka juga mencari kaidah dalam Islam…tapi mereka tak menemukannya,” tulis Fouda. Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman–lalu membunuhnya, lalu menistanya.
Tampak, ada dinamika lain yang mungkin tak pernah diperkirakan ketika Islam bertaut dengan kekuasaan. Dinamika itu mencari jalan dalam kegelapan tapi dengan rasa cemas yang sangat. Orang memakai dalih agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu: tak ada jalan yang jelas, apalagi suci. Di satu pihak, mereka harus yakin, tapi di lain pihak, mereka tahu mereka buta.
Itu sebabnya laku mereka begitu absolut dan begitu bengis. Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Pembunuhnya ditangkap. Sebagai hukuman, tangan dan kaki orang ini dipenggal, matanya dicungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar.
Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, “Si Jagal”. Di mimbar ia mengaum, “Allah telah mengembalikan hak kami.” Tapi tentu saja ia tahu Tuhan tak pernah menghampirinya. Maka ia ingin tak ada lubang dalam keyakinannya sendiri (juga keyakinan orang lain) tentang kebenaran kekuasaannya. Al-Saffah pun mendekritkan: para petugas harus memburu lawan politik sang khalif sampai ke kuburan.
Makam pun dibongkar. Ketika ditemukan satu jenazah yang agak utuh, mayat itu pun didera, disalib, dibakar. Musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup, apa lagi….
Itu sebabnya, bahkan sekian abad setelah “Si Jagal”, orang macam Fouda harus dibunuh. Ia mempersoalkan keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan. Tapi itu terjadi di Mesir lebih dari 10 tahun yang silam–bukan di Indonesia. Mungkin ini ciri Islam yang mengagumkan di sini: justru Departemen Agama-lah yang menerbitkan Kebenaran Yang Hilang.
~Majalah Tempo Edisi. 03 - 09 Maret 2008~
Dering Itu Maret 10, 2008
Posted by anick in All Posts, Amerika.
12 comments
Dinihari, pukul 3. Anak-anak sedang tidur tenteram di seluruh Amerika. Tiba-tiba telepon berdering di Gedung Putih. Sesuatu tengah terjadi di dunia. Tampaknya gawat. Siapa gerangan yang mampu memberi respons yang tepat?
Pertanyaan itu sah, tapi ini baru sebuah pengandaian yang dibawakan sebuah iklan: sebuah film pendek yang dimulai dengan cahaya biru yang suram, dengan dinihari yang sunyi, anak-anak yang nyenyak, dan kamar tidur bersih: imaji-imaji yang menyarankan sesuatu yang tanpa dosa, tapi rapuh, di tengah gelap yang menyembunyikan ancaman.
Dipasang Hillary Clinton di televisi menjelang pemungutan suara untuk melawan saingannya, Barrack H. Obama, pesan iklan itu jelas: yang bisa menghadapi ancaman itu hanya seorang presiden Amerika yang kenal “para pemimpin dunia, kenal dunia militer, seorang yang sudah diuji bisa memimpin di dunia yang berbahaya…”
Bagi para juru kampanye Hillary Clinton, sifat-sifat itu tentu tak ada pada Obama, seorang yang belum pernah memimpin negeri dalam ancaman perang.
Tiap propaganda memaafkan sendiri keculasannya. Iklan itu tak menyebut bahwa sebenarnya Hillary juga belum diuji. Ia memang pernah di Gedung Putih, tapi sebagai isteri seorang Presiden. Ia memang kemudian jadi seorang Senator, tapi satu-satunya keputusan penting adalah dukungannya kepada Perang Irak Presiden Bush – yang ternyata sebuah keputusan yang celaka.
Tapi bahwa iklan semacam itu ditayangkan — dan berhasil meyakinkan pemilih di dua negara bagian — menunjukkan bahwa pada mulanya bukanlah Hillary atau Obama. Pada mulanya adalah paranoia.
Kita ingat empat patah kata dalam iklan itu: “dunia yang berbahaya…” Di sana tak ada kemungkinan lain dalam dering telepon pada jam 3 pagi itu. Tak mungkin pesan itu ternyata sebuah kabar gembira, misalnya kabar perdamaian yang solid antara Palestina dan Israel, atau pesawat ruang angkasa Amerika yang menemukan sebuah dataran yang subur di sebuah planet.
Sebab kabar baik bukanlah yang diharapkan. Iklan itu hendak menampilkan suasana gawat di mana Hillary Clinton berperan besar; sebab ia kenal betul “dunia militer.”
Saya tertegun. Dengan propaganda macam itu, Amerika macam inikah yang akan tercermin dalam pemilihan umum 2008: Amerika sebagai kekuatan militer yang memandang dengan suram sekitarnya yang tak ramah? Bukan Amerika yang dulu pernah membentuk PBB di dunia yang penuh harapan damai dan kemerdekaan?
Jika demikian, kita pantas murung.
Bush-dan-Cheney memang segera tak akan berkuasa lagi. Negeri yang ditinggalkannya memang telah jadi negeri yang dibenci di seluruh dunia, yang angkuh ke seluruh dunia, yang tanpa mengerdipkan mata menyerbu negeri lain dengan alasan yang palsu, seraya tak peduli melanggar hak-hak asasi manusia di Guantanamo dan di tempat-tempat interogasi yang disembunyikan. Sungguh buruk peninggalan itu, tapi tampaknya tetap terbuka kemungkinan Amerika mengukuhkan politik paranoia yang dilembagakan sejak 11 September 2001.
Politik paranoia adalah politik nasionalisme yang gelap. Hari itu, ketika para teroris Al Qaedah menabrakkan dua pesawat terbang ke dua menara tinggi di New York dan membunuh hampir 3000 orang, seluruh Amerika terkejut dan ngeri. Tapi Tuan Cheney menemukan apa yang dicarinya: sebuah musuh baru, setelah Uni Soviet dan Cina mundur. Dengan musuh itu Amerika dapat memiliki arah yang tegas dan satu.
Nasionalisme, apalagi yang gelap, punya gairah dan daya tersendiri untuk mengukuhkan kekuasaan yang brutal. Maka perang anti terorisme dari Gedung Putih bukanlah perang untuk mengakhiri terorisme, melainkan untuk menyambutnya. Tak mengherankan bila sampai hari ini Al Qaedah belum dihabisi dan Osamah bin Laden masih tersembunyi. Tak mengherankan bila empat tahun yang lalu Bush-dan-Cheney dipilih lagi.
London, 3 November 2004. Koran Daily Mirror terbit menyambut pilihan rakyat Amerika yang mendukung kembali Presiden Bush dengan bersemangat, meskipun begitu jelas ia menyerbu Irak dengan dalih yang bohong. Di halaman depan tabloid itu tampak wajah George W. Bush melambai. Di bawahnya sebuah kalimat: How can 59,054,087 people be so DUMB?
Saya ingat seorang Amerika tertawa pahit membacanya. “Saya tak tahu lagi, di mana tanah air saya”, katanya sedih.
Tapi itu empat tahun yang lalu. Kini ia tak merasa sedih lagi, ketika bersama ribuan orang muda setanahairnya ia ikut berkampanye untuk Obama dan merayakan kemenangan di sebelas negara bagian. “Anak-anak muda ini,” tulisnya, “telah menemukan kembali indahnya kehidupan berpolitik; kami telah menemukan keberanian untuk berharap.” Di hatinya, judul buku Obama, the Audacity of Hope, terasa begitu kena. Dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga ia kini bisa mengatakan, The Daily Mirror tak benar, setidaknya di tahun 2008 ini: jutaan pemilih Amerika ternyata tak bodoh.
Mereka bahkan tengah merintis sebuah zaman baru – zaman yang bisa menyambut seorang Obama, yang bukan 100% “pribumi”, yang tak memamerkan bendera Amerika di lencana jasnya – tapi yang percaya bahwa ada patriotisme lain yang bisa menggugah: patriotisme yang membuat sebuah bangsa bersama-sama melepaskan rasa saling curiga dan benci yang tumbuh di bawah politik paranoia. Juga patriotisme yang bangga kepada tanah air yang bisa membawa damai ke dunia.
Tapi mungkinkah? Sepekan setelah dering seram di iklan itu, pada pukul 3 pagi sebuah ledakan terdengar di Times Square, New York. Letupan kecil, dengan kerusakan kecil, dari sebuah alat sederhana yang dipasang di gedung milik Angkatan Bersenjata. Tak ada yang terbunuh. Tapi dengan segera keluar statemen Hillary Clinton: “Apapun yang kita ketahui dari serangan ini, itu sebuah pengingat akan ancaman yang terus menghadang tanah air kita.”
Ancaman. Dering lewat tengah malam…
Kita cemas. Kita cemas memandang Amerika.
~Majalah Tempo Edisi. 03/XXXVII/10 - 16 Maret 2008~
Obama Februari 25, 2008
Posted by anick in All Posts, Amerika, Demokrasi, Politik.
28 comments
Seandainya Obama seorang perempuan…
Tentu saja ia bukan – dan ini .bisa dikatakan sebagai sebuah kekurangan. Tapi “nobody’s perfect” – seperti kata si jutawan bego dalam adegan terakhir film Some Like it Hot, ketika diberitahu bahwa orang yang digandrunginya itu, (“Daphne” yang sebenarnya adalah Jerry) ternyata laki-laki.
Obama akan nyaris sempurna seandainya ia bisa jadi perempuan, kemarin, atau besok. Sebab bahkan sekarang pun ia sudah merupakan satu sosok yang unik: ia persilangan (pelbagai) identitas. Ia contoh bahwa “identitas” bukanlah sebuah cap yang kekal dan kaku. Dalam kata pengantar edisi tahun 2004 untuk bukunya The Dream of My Father, Obama sendiri menyebut “the fluid state of identity—the leaps through time, the collision of cultures—that mark our modern life.” Ia menegaskan apa yang ia ketahui dari tubuhnya sendiri: terutama du zaman ini, identitas selalu dalam keadaan cair.
Mungkin sebab itu ia politikus Amerika yang bisa dengan wajar menunjukkan bahwa politik tak bisa hanya mengibarkan panji-panji partikularisme, dengan politik identitas yang menegaskan apa yang istimewa pada “kami” dan tidak pada “mereka”. Politik pada akhirnya sebuah proses pencarian dan artikulasi tentang apa yang universal. Politik adalah sesuatu pergulatan antar kelompok yang mau tak mau terdorong membentuk “kita”.
Obama tak bermula dari “kami” yang pasti. Orang berkata, pria yang hari-hari ini sedang ikut bersaing untuk jadi calon Partai Demokrat buat jabatan presiden Amerika Serikat, adalah orang kulit hitam pertama yang berhasil naik ke gelanggang setinggi itu. Tapi sebutan black bagi Obama berlebihan — dan sekaligus kurang. Ia tak sehitam Mohammad Ali, Stevie Wonder, atau Jesse Jackson.
Ibu Obama seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Malah, jika kita percaya hasil penelitian trah oleh The New England Historic Genealogical Society, Ann Dunham ada dalam garis keturunan seorang raja Skotlandia di abad ke-12.
Tapi sementara itu ia juga seorang “Afro-Amerika” dalam pengertian yang harfiah. Ayahnya, Barrack Hussein, datang dari suku Luo di propinsi Nyanza, Kenya, seorang mahasiswa asing di Hawaii yang bertemu dan kemudian menikah dengan Ann Dunham.
Seorang bayi yang diberi nama seperti ayahnya lahir di Honolulu, 4 Agustus 1961. Tapi ketika ia berumur dua tahun, orang tuanya berpisah. Si ayah menyelesaikan studi ilmu ekonominya di Universitas Harvard. Perpisahan itu jadi perceraian. Pria Kenya itu kembali ke tanah kelahirannya. Barrack muda bertemu dengan dia ketika si bocah berumur 10. Barrack tua kemudian tewas dalam kecelakaan mobil di tahun 1982. Sang ayah jadi nama yang menandai kehilangan dalam diri anaknya.
Dalam kehilangan itulah pengertian “Afro-Amerika” yang harfiah berubah. Berkat ibunya.
Dalam The Dream of My Father, yang ditulisnya sebelum ia masuk dalam lembaga legislatif, pemuda separuh Kenya ini menyebut dongeng-dongeng suku Luo di tepi Danau Victoria. Tapi yang agaknya paling membekas adalah yang diberikan sang ibu selama mereka hidup di Jakarta.
Ibu itu, Ann –seorang perempuan yang dibesarkan dengan pandangan yang tak konvensional — menikah dengan seorang mahasiswa dari Indonesia, Sutoro namanya. Di tahun 1967, keluarga itu pindah ke Jakarta. Mereka punya seorang anak perempuan, Maya.
Sutoro bekerja di kalangan perminyakan. Masa akhir 60-an adalah masa pergolakan di Indonesia, ekonomi masih berat, dan kepastian belum ampak. Sedikit yang kita ketahui tentang ayah tiri Obama ini, kecuali bahwa ia tak cukup uang untuk memasukkan Barrack ke The Jakarta International School. Maka Barrack, (biasa disebut “Barry’) bersekolah di sekolah negeri di Jalan Besuki. Tapi ibunya menyiapkannya untuk dapat pendidikan yang lebih baik di Amerika.
Barry belajar memperbaiki bahasa Inggrisnya dari sang ibu, dan harus bangun jam 4 pagi untuk itu. Sang ibu tak hanya mengajarnya berbahasa Inggris. Ia juga memperkenalkan Barry dengan lagu-lagu Mahalia Jackson dan pidato Dr. Martin Luther King, Juga kisah tentang anak-anak hitam yang terjepit di Amerika Serikat bagian selatan.
Dari sinilah Barry memilih apa arti “Afro-Amerika” baginya. Identitasnya bukan masalah masa lalu, tapi masa depan. Bukan masalah biologis, tapi politis. Bukan keniscayaan, tapi pilihan. “Afro-Amerika” bagi Obama dengan demikian mengandung sesuatu yang universal: sejarah perjuangan pembebasan mereka yang disakiti oleh diskriminasi rasial dan keterbelakangan.
Tapi tentu saja ia tak sepenuhnya ada dalam sejarah itu – dan ia tumbuh jadi seorang pemuda dengan kulit hitam yang tak dirundung amarah. Ketika gerakan Civil Rights berhasil, dan hak-hak lebih luas orang hitam didapat, Barrack tinggal menempuh jalan yang lebih luas terbentang. Tapi ia sudah bertindak, dengan bekerja di komunitas hitam di Chicago. “Hitam” Obama bukanlah sesuatu yang hanya diwarisi secara pasif, tapi sebuah posisi aktif. “Hitam” adalah aksi dalam sejarah.
Kini ia tengah ikut membuat sejarah itu – sebuah sejarah yang pernah bernoda oleh larangan bagi orang hitam untuk berada di satu sekolah, satu bis, dan satu tempat kencing dengan orang kulit putih, tapi juga sebuah sejarah dengan demokrasi yang ternyata bisa mengembangkan diri.
Demokrasi itu kini sedang menunjukkan, bagaimana kaum yang paling di pinggiran bisa bergerak masuk ke tengah – dan ke puncak. Tak hanya itu. Demokrasi itu juga sedang menunjukkan, bagaimana sebuah bangsa bisa menebus sebagian dari kesalahannya sendiri, yang telah memilih pemerintahan Bush untuk menumbuhkan antagonisme “kami” dan “mereka” di mana-mana.
Obama (terutama jika ia menang) akan jadi indikator, bahwa demokrasi Amerika telah membuat antagonisme dalam politik tak memutlakkan dasar antagonisme itu sendiri. Demokrasi itu adalah satu proses perubahan, Di abad ke-21, Amerika Serikat bisa berhenti jadi negeri yang dibenci. Ia bisa memberikan inspirasi.
~Majalah Tempo Edisi. 01/XXXVII/25 Februari - 02 Maret 2008~
~dengan perbaikan dari penulisnya~
11/9 September 10, 2007
Posted by anick in All Posts, Amerika, Bencana.
10 comments
SAYA melihat New York 11 September 2001. Sampai lewat tengah malam, yang mengepung adalah suasana murung dan cemas, berkabung dan waswas. Orang di pelbagai penjuru terperanjat. Dunia tersentuh: me¬reka ingin menemani kota itu, bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan mau ikut mencari mereka yang tak pulang dari puing.
Asap kebakaran masih membubung hitam beberapa hari setelah itu, membentuk sebuah sosok di langit New York sebelah selatan, seakan-akan mengisi rongga yang melompong di angkasa setelah dua gedung jangkung The World Trade Center runtuh dan 3.000 orang yang tak bersalah mati.
Tapi dengan cepat asap dan debu diubah sesuatu yang berwarna: bendera Amerika, bendera Amerika, bendera Amerika. Di mana-mana. Tak putus-putusnya televisi menyiarkan orang menyanyi God Bless America, bergetar, bergemuruh. Di seluruh Amerika Serikat, pada jutaan layar, huruf yang muncul tak henti-hentinya adalah AMERICA UNDER ATTACK.
Dan perkabungan pun jadi api.
Tema klasik nasionalisme pun berulang pada hari-hari itu: ”Kami dihina. Mereka jahat. Kami dizalimi. Mereka brutal. Mereka harus dibalas. Kami bangkit. Kami kuat.”
Orang Amerika akan marah jika dikatakan bahwa tema nasionalisme itu tak jauh berbeda dengan yang dulu terbit di Jerman, kini di Arab dan Israel. Tapi itu justru indikasinya: orang Amerika akan marah karena nasionalisme mere¬ka—yang disebut ”patriotisme”—juga api yang sama yang mampu membentuk ”kami” jadi se¬suatu yang terang dan orang lain, ”mereka”, jadi fragmen kegelapan.
Mungkin itu sebabnya saya beberapa lama termenung di Washington Square Park, sore itu. Di lapangan yang rindang itu bermacam orang berkumpul, menyatakan belasungkawa dan dukungannya kepada New York—ya, kepada Amerika Serikat. Ada yang mengekspresikan perasaan dengan doa yang diam, ada yang menuliskan kalimat yang tulus.
Tapi yang tak akan saya lupakan ialah secarik kertas yang dirobek dari sebuah buku tulis dan disematkan entah oleh siapa di sehelai pagar kawat di bawah lengkung gerbang taman. Di sana tercantum satu paragraf tulisan ta¬ngan, serangkai kata-kata Nelson Mandela:
”Rasa takut kita yang terdalam tak disebabkan oleh karena kita tak memadai. Rasa takut kita yang terdalam disebabkan kekuatan kita yang tak tepermanai. Cahaya terang kita, dan bukan kegelapan kita, itulah yang paling mengerikan kita.”
Saya terkesima: kalimat itu muncul seperti dipanggil ke tengah suasana yang membutuhkannya.
Mandela: bertahun-tahun lamanya pemimpin Afrika hitam ini dianiaya sebuah kekuasaan yang brutal; ia dengan gampang akan diterima sebagai korban yang tak bersalah, yang memancarkan ”cahaya terang”. Pada saat yang sama, ia juga pemimpin politik dan moral yang dipatuhi jutaan orang di Afrika Selatan, sebuah ”kekuatan yang tak tepermanai”.
Tapi, berbeda dengan orang Amerika dan pemimpin me¬reka, George W. Bush & Dick Cheney, Mandela tahu benar apa yang harus ditakuti: keagungan diri. Bagi Bush & Cheney, Tuhan memberkati Amerika, God Bless America, dan mungkin benar. Tapi soalnya jadi gawat ketika Tuhan dan ”cahaya terang” mengambil alih seluruh sikap dan pikiran dan memperkukuh keagungan diri.
Apalagi ketika itu diintegrasikan ke dalam proyek besar yang disebut ”The New American Century”.
Dick Cheney, Rumsfeld, dan konco-konco mereka—yang sudah lama punya proyek untuk mengubah dunia ke dalam ”Abad Baru” yang mereka kuasai—sebenarnya orang-orang yang secara tak langsung diperkuat oleh teror ”11/9”. Mere¬ka bisa bersorak-sorai: hari itu musuh lahir, ketika sejumlah orang asing menabrakkan dua pesawat ke dua buah gedung yang bisa jadi lambang kejayaan Amerika.
Sebab Cheney pernah khawatir, AS tak akan punya musuh lagi setelah Perang Dingin berakhir dan Uni Soviet runtuh. Musuh itu penting. AS butuh sesuatu yang mengancam di luar sana, dan sebab itu bisa membuatnya bersatu padu. Maka di New York hari itu, Al-Qaidah praktis memberi Cheney dan Bush sebuah hadiah: alas¬an yang bagus untuk merasa memiliki ”cahaya terang” dan menampilkan ”kekuatan yang tak tepermanai”.
Akhirnya, ”9/11” adalah dalih untuk sebuah proyek imperial, mula-mula dengan bendera ”perang melawan terorisme”: ”Kami dizalimi. Mereka harus dibalas.”
Dalih itu begitu memikat hingga sejumlah intelektual terpandang Amerika tak malu-malu berseru menghalalkan perang itu sebagai ”pe¬rang yang adil”, seakan-akan keadilan dapat begitu saja diterima secara universal, bukan hasil pergulatan yang tak mudah untuk jadi pasti. Ketika Mandela memperingatkan kita akan ”cahaya terang” dan ”kekuatan yang tak tepermanai”, ia sebenarnya hendak menunjukkan bahwa kedua hal itu tak pernah menetap—dan tak pernah tinggal di satu sisi. Mandela berbicara agar kita tahu perlunya mengosongkan diri—sadar bahwa diri kita sebenarnya ”tak memadai”, bahkan mengandung ”kegelapan”.
Tapi siapa yang membaca kearifan di secarik kertas di bawah gerbang Washington Square itu? Bush & Cheney telah menggelembung dengan proyek ”Abad Baru Amerika”. Ketika perang melawan teror Al-Qaidah diperluas jadi Perang Irak yang dikecam dunia—karena dilancarkan dengan dusta yang malang-melintang—mereka bahkan ingin¬ menunjukkan, ”kekuatan yang tak tepermanai” justru penting untuk dirayakan. Kekuatan itu mereka anggap bisa menentukan segala-galanya, juga untuk memonopoli ”cahaya terang”.
Tapi kini terbukti, ”kekuatan yang tak tepermanai” itu hanya sebuah waham besar. Juga gegabah. Hegemoni tak pernah pasti. Perang melawan Al-Qaidah tak juga berhasil—sebuah kegagalan yang patut disesali di mana-mana. Perang di Afghanistan makin sulit. Perang di Irak praktis kehilangan tujuan. Amerika dibenci di pelbagai pelosok. Orang Amerika takut datang ke pelbagai tempat.
Ah, Tuan Cheney, di manakah kini ”The New American Century”?
~Majalah Tempo, Edisi. 29/XXXVI/10 - 16 September 2007
SAYA melihat New York 11 September 2001. Sampai lewat tengah malam, yang mengepung adalah suasana murung dan cemas, berkabung dan waswas. Orang di pelbagai penjuru terperanjat. Dunia tersentuh: me¬reka ingin menemani kota itu, bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan mau ikut mencari mereka yang tak pulang dari puing.
Asap kebakaran masih membubung hitam beberapa hari setelah itu, membentuk sebuah sosok di langit New York sebelah selatan, seakan-akan mengisi rongga yang melompong di angkasa setelah dua gedung jangkung The World Trade Center runtuh dan 3.000 orang yang tak bersalah mati.
Tapi dengan cepat asap dan debu diubah sesuatu yang berwarna: bendera Amerika, bendera Amerika, bendera Amerika. Di mana-mana. Tak putus-putusnya televisi menyiarkan orang menyanyi God Bless America, bergetar, bergemuruh. Di seluruh Amerika Serikat, pada jutaan layar, huruf yang muncul tak henti-hentinya adalah AMERICA UNDER ATTACK.
Dan perkabungan pun jadi api.
Tema klasik nasionalisme pun berulang pada hari-hari itu: ”Kami dihina. Mereka jahat. Kami dizalimi. Mereka brutal. Mereka harus dibalas. Kami bangkit. Kami kuat.”
Orang Amerika akan marah jika dikatakan bahwa tema nasionalisme itu tak jauh berbeda dengan yang dulu terbit di Jerman, kini di Arab dan Israel. Tapi itu justru indikasinya: orang Amerika akan marah karena nasionalisme mere¬ka—yang disebut ”patriotisme”—juga api yang sama yang mampu membentuk ”kami” jadi se¬suatu yang terang dan orang lain, ”mereka”, jadi fragmen kegelapan.
Mungkin itu sebabnya saya beberapa lama termenung di Washington Square Park, sore itu. Di lapangan yang rindang itu bermacam orang berkumpul, menyatakan belasungkawa dan dukungannya kepada New York—ya, kepada Amerika Serikat. Ada yang mengekspresikan perasaan dengan doa yang diam, ada yang menuliskan kalimat yang tulus.
Tapi yang tak akan saya lupakan ialah secarik kertas yang dirobek dari sebuah buku tulis dan disematkan entah oleh siapa di sehelai pagar kawat di bawah lengkung gerbang taman. Di sana tercantum satu paragraf tulisan ta¬ngan, serangkai kata-kata Nelson Mandela:
”Rasa takut kita yang terdalam tak disebabkan oleh karena kita tak memadai. Rasa takut kita yang terdalam disebabkan kekuatan kita yang tak tepermanai. Cahaya terang kita, dan bukan kegelapan kita, itulah yang paling mengerikan kita.”
Saya terkesima: kalimat itu muncul seperti dipanggil ke tengah suasana yang membutuhkannya.
Mandela: bertahun-tahun lamanya pemimpin Afrika hitam ini dianiaya sebuah kekuasaan yang brutal; ia dengan gampang akan diterima sebagai korban yang tak bersalah, yang memancarkan ”cahaya terang”. Pada saat yang sama, ia juga pemimpin politik dan moral yang dipatuhi jutaan orang di Afrika Selatan, sebuah ”kekuatan yang tak tepermanai”.
Tapi, berbeda dengan orang Amerika dan pemimpin me¬reka, George W. Bush & Dick Cheney, Mandela tahu benar apa yang harus ditakuti: keagungan diri. Bagi Bush & Cheney, Tuhan memberkati Amerika, God Bless America, dan mungkin benar. Tapi soalnya jadi gawat ketika Tuhan dan ”cahaya terang” mengambil alih seluruh sikap dan pikiran dan memperkukuh keagungan diri.
Apalagi ketika itu diintegrasikan ke dalam proyek besar yang disebut ”The New American Century”.
Dick Cheney, Rumsfeld, dan konco-konco mereka—yang sudah lama punya proyek untuk mengubah dunia ke dalam ”Abad Baru” yang mereka kuasai—sebenarnya orang-orang yang secara tak langsung diperkuat oleh teror ”11/9”. Mere¬ka bisa bersorak-sorai: hari itu musuh lahir, ketika sejumlah orang asing menabrakkan dua pesawat ke dua buah gedung yang bisa jadi lambang kejayaan Amerika.
Sebab Cheney pernah khawatir, AS tak akan punya musuh lagi setelah Perang Dingin berakhir dan Uni Soviet runtuh. Musuh itu penting. AS butuh sesuatu yang mengancam di luar sana, dan sebab itu bisa membuatnya bersatu padu. Maka di New York hari itu, Al-Qaidah praktis memberi Cheney dan Bush sebuah hadiah: alas¬an yang bagus untuk merasa memiliki ”cahaya terang” dan menampilkan ”kekuatan yang tak tepermanai”.
Akhirnya, ”9/11” adalah dalih untuk sebuah proyek imperial, mula-mula dengan bendera ”perang melawan terorisme”: ”Kami dizalimi. Mereka harus dibalas.”
Dalih itu begitu memikat hingga sejumlah intelektual terpandang Amerika tak malu-malu berseru menghalalkan perang itu sebagai ”pe¬rang yang adil”, seakan-akan keadilan dapat begitu saja diterima secara universal, bukan hasil pergulatan yang tak mudah untuk jadi pasti. Ketika Mandela memperingatkan kita akan ”cahaya terang” dan ”kekuatan yang tak tepermanai”, ia sebenarnya hendak menunjukkan bahwa kedua hal itu tak pernah menetap—dan tak pernah tinggal di satu sisi. Mandela berbicara agar kita tahu perlunya mengosongkan diri—sadar bahwa diri kita sebenarnya ”tak memadai”, bahkan mengandung ”kegelapan”.
Tapi siapa yang membaca kearifan di secarik kertas di bawah gerbang Washington Square itu? Bush & Cheney telah menggelembung dengan proyek ”Abad Baru Amerika”. Ketika perang melawan teror Al-Qaidah diperluas jadi Perang Irak yang dikecam dunia—karena dilancarkan dengan dusta yang malang-melintang—mereka bahkan ingin¬ menunjukkan, ”kekuatan yang tak tepermanai” justru penting untuk dirayakan. Kekuatan itu mereka anggap bisa menentukan segala-galanya, juga untuk memonopoli ”cahaya terang”.
Tapi kini terbukti, ”kekuatan yang tak tepermanai” itu hanya sebuah waham besar. Juga gegabah. Hegemoni tak pernah pasti. Perang melawan Al-Qaidah tak juga berhasil—sebuah kegagalan yang patut disesali di mana-mana. Perang di Afghanistan makin sulit. Perang di Irak praktis kehilangan tujuan. Amerika dibenci di pelbagai pelosok. Orang Amerika takut datang ke pelbagai tempat.
Ah, Tuan Cheney, di manakah kini ”The New American Century”?
~Majalah Tempo, Edisi. 29/XXXVI/10 - 16 September 2007~
Gambar diambil dari sini
Banjir Februari 12, 2007
Posted by anick in All Posts, Bencana, Elegi, Indonesia.
8 comments
Foto itu seperti sebuah lukisan surrealis yang setengah seram setengah lucu: di sana tampak sebuah kota, tapi tanpa trotoar dan bulevar. Yang mempertautkannya adalah air coklat yang menggenang tinggi di sela-sela gedung-gedung megah, seakan-akan ruang telah disihir jadi cair, sementara ribuan penghuni berderet menadahkan tangan kepada kekuatan yang entah di mana…
Tapi ini Jakarta. Tak ada ibukota lain di dunia yang seperti ini. Ini kota modern dengan bangunan yang disebut “World Trade Center”, sebuah gedung pasar modal yang sibuk, ratusan bank yang aktif, ruang-ruang belanja luas dengan etalase Hugo Boss, Prada, Gucci, Bvulgari, Bank & Olufsen, dan Cartier, tempat parkir dengan mobil BMW, Jaguar dan Ferrari, sejumlah hotel bintang lima dan restoran yang menyajikan santapan dari pelbagai penjuru dunia, juga apartemen menjulang dengan jaringan internet, beberapa sekolah tinggi yang masyhur, serangkaian studio televisi yang mentereng dan gedung pemerintahan pusat yang gagah, termasuk Istana Presiden dan kantor kabinet…
Ini juga Jakarta yang lumpuh karena banjir.
Foto itu seperti sebuah lukisan surrealis. Foto itu tentang sebuah anomali, yang membuat kita bertanya, bagaimana semua indikator kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi itu bisa ada, sementara dengan cepat air bah mampu mengubah ibukota Republik Indonesia jadi sebuah dusun abad ke-17 yang rapuh?
Tak mudah menjawabnya. Kini orang mengatakan kota ini masih butuh 500 taman. Kini dikemukakan kian sedikitnya tanah buat resapan air. Kini tambah terungkap bagaimana izin mendirikan gedung – termasuk mall yang seperti tak henti-hentinya dibangun – diberikan kotapraja tanpa memperhatikan lingkungan dan kepentingan umum. Kini orang tahu betapa terlambatnya proses membuat sebatang kanal untuk mengalirkan arus air ke tempat yang aman.
Tapi apa sebenarnya mekanisme dan kekuatan yang gagal menyiapkan semua itu?
Dalam wacana yang kita kenal, itu disebut “Negara”. Tapi di sini mungkin kita terdiam sejenak. Setelah beberapa kali krisis terjadi, jangan-jangan semacam pola telah terbentuk di Indonesia: “Negara hilang, Banjir Terbilang”.
Jangan-jangan…Tapi saya kira tak sepenuhnya demikian. Banjir berulang kali terjadi, tapi Negara tak pernah benar-benar “hilang”. Ia berubah. Ia jadi semacam makhluk takhayul yang mengatakan, “aku tak terlihat, tapi bisa kadang-kadang muncul di depanmu”.
Negara tak terlihat, sebab konon dalam keadaan itu dialah yang mengatur peri kehidupan bersama dengan birokrasi yang impersonal: petugas di dalam gedung pemerintah dan di balik meja itu bukan wajah seseorang. Ia perpanjangan dari sesuatu yang universal, seperti dibayangkan Hegel. Dengan itulah wibawa dan kekuasaan tumbuh.
Tapi dalam pengalaman sehari-hari kita, itu hanya sekilas penampakan. Di momen berikutnya, ketika anda masuk ke gedung itu dan duduk menghadap sebuah meja, “Negara” pun jadi kasat mata. Ia tampak dalam sosok seorang pejabat, yang ternyata telah mengubah sesuatu yang impersonal jadi sesuatu yang personal. Ia menerima sogok – tanda bahwa kekuasaan di gedung itu telah jadi milik pribadi. Dengan itu, ia bisa mengapuskan rencana pembangunan sebuah taman dan menjadikannya sebuah mall terbesar di Indonesia. Tapi ingat: dalam kehadirannya yang personal, ia mengapit lambang “Negara”. Anda lihat: ia mengenakan baju seragam dan ia memegang stempel.
Tidak, kita tak berada dalam keadaan Negara macet atau lapuk. Hanya korupsi telah membuat “Negara” jadi mahluk yang ambigu, mahluk takhayul dengan kekuatan yang tetap dahsyat.
Mungkin itu sebabnya orang waswas dan bingung, terkadang jera berurusan dengan “Negara”. Saya pernah dengar seorang menteri perekonomian yang serius dan jujur mengeluhkan sifat ambigu birokrasi yang dibawahkannya: “Saya tak tahu, orang di kantor ini bekerja buat kepentingan umum atau kantong sendiri”. Lalu dengan senyum pahit ia mengatakan, “Mungkin lebih baik masyarakat bekerja tanpa aparat Negara”.
Tapi tanpa “Negara” bisakah orang ramai membangun 500 taman, menggusur bangunan besar – termasuk milik pemerintah – yang merusak tanah resapan, dan mengatur sendiri alokasi ruang yang terbatas? Bisakah kita mengandalkan apa yang disebut sebagai “pasar”, yang menurut buku teks ekonomi Samuelson dan Nordhaus, melahirkan “mukjizat di sekeliling kita sepanjang waktu”?
Saya tak tahu. Yang saya tahu “mukjizat” itu di Jakarta selama ini hanya ditandai oleh etalase Hugo Boss, Prada, Gucci, Bvulgari, Bank & Olufsen, dan Cartier, tempat parkir dengan mobil BMW, Jaguar, Ferrari, dan seterusnya — lambang-lambang kekuatan yang ternyata juga tak berdaya, bahkan seakan-akan tak peduli, bila kota dihantam banjir.
Agaknya “tangan yang tak terlihat” yang berkerja dalam mekanisme “pasar” itu juga semacam makhluk takhayul, meskipun dengan sosok yang berbeda: sebuah kekuatan yang entah di mana asal dan pusatnya, yang konon bisa mendisiplinkan “pasar”, yang bisa menegakkan tatanan sosial tanpa arahan dari atas, dan juga mengandung daya menyeleksi mana yang layak dan tak layak dalam persaingan. Tapi ia bukannya 100% mahluk halus. “Tangan yang tak terlihat” itu ternyata acapkali tampil melalui medium: mereka yang punya hasrat untuk membangun mall tapi tak punya hasrat untuk menyiapkan lingkungan yang tahan banjir.
“Pasar”, seperti halnya “Negara”, adalah wacana, dan tiap wacana hadir lewat pergulatan politik untuk membuatnya sah dan efektif. Dengan kata lain, “tangan yang tak terlihat” hanya bisa ada karena bergandeng tangan (atau sebaliknya saling jotos) dengan tangan yang terlihat – tangan yang menyogok, tangan yang pelit, juga tangan dengan tinju yang marah karena berhari-hari rumah tenggelam, harta punah, sanak saudara mati.
Jakarta yang banjir adalah sebuah anomali. Jakarta yang banjir juga sebuah antagonisme.
~(Edisi Revisi) Majalah Tempo, Edisi. 51/XXXV/12 - 18 Februari 2007~

Hujan Februari 5, 2007
Posted by anick in Bencana, Elegi.
7 comments
Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis hujan.
Dulu kita bernyanyi lagu Maluku yang indah itu, ”Kalau hujan sore-sore.” Dulu kita ikut bersenandung dengan nada lembut Titiek Puspa, ”rintik-rintik, hujan rintik-rintik.” Dulu hujan adalah melankoli. Kini, tiap kali curah air dari langit menderas, kita dengan telaten tapi cemas mengikuti berita radio tentang berapa meter tinggi air bah yang merasuki dusun dan kota, meringsek rumah dan sekolah, klinik dan restoran, melumpuhkan komunikasi telepon dan mengganggu perdagangan. Seakan-akan kita tengah mengikuti reportase tentang seekor naga buas yang tengah memporak-porandakan kampung kita.
Sesuatu telah berubah, memang. Kita telah tahu itu. Saya tak mengatakan hal yang baru jika di sini saya tulis bahwa banjir, tanah longsor, tanggul yang bobol, rel kereta yang rusak, roa-roa yang remuk—dan akhirnya bumi yang semakin panas karena lapisan ozon yang melenyap—adalah akibat ”kemajuan” yang rakus dan hasrat ”memperbanyak” yang tak jera.
Tapi apa mau dikata: tak selamanya kita sadar akan sifat tamak yang sering kita pelihara dan manjakan sendiri itu. Padahal tiap potong kursi yang dibuat dari kayu hutan tropis, tiap are tanah yang diambil buat pusat perbelanjaan, tiap lembar kantong plastik yang dibuang sebagai sampah, tiap tetes sabun deterjen yang tercecer, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai karbon dioksida, tiap butir zat kimia sintetis yang mengalir ke kali—semua itu pada akhirnya menghimpun sebuah daya yang membalik dan destruktif: semula dengan gemuruh manusia mengalahkan alam, tapi kini ia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.
Di situlah kekonyolan: ada kombinasi antara kebakhilan dan ketamakan yang menyebabkan hujan membawa kerugian di kota semegah Jakarta. Para pemilik hotel, kantor besar, apartemen tinggi di wilayah Kuningan, misalnya, pernah dirugikan miliaran rupiah oleh air bah, tapi saya tak melihat ada investasi yang disiapkan untuk mencegah bencana itu berulang.
Yang kelihatan: dengan pesat manusia memperbesar tempatnya—karena keserakahan atau karena beranak-pinak seperti marmut—tapi pada saat itu pula ia kehilangan dunung-nya.
Kata dunung saya pinjam dari bahasa Jawa. Dalam kamus yang disusun Empu Bahasa termasyhur itu, W.J.S. Purwadarminta, Baoesastra Djawa, yang terbit pada tahun 1939, dunung tak cuma berarti tempat (enggon) atau wilayah (wewengkon), tapi juga posisi yang pas (prenah).
Orang kehilangan dunung ketika ia mengutamakan tempat. Dengan membangun tempat, atau ”kavling”, kita memang menerangi ruang, mengukurnya, memetakannya dan memilikinya untuk digunakan. Dunia—yang sebenarnya berisi keragaman yang tak tepermanai, juga khaos yang rumit dan endapan sejarah yang dalam—telah direduksi jadi petak yang jinak. Dunia jadi sebuah gambar.
Tapi ”gambar dunia” itu (Weltbild, konon kata Heideg-ger) bukanlah gambar tentang dunia, melainkan ”dunia” yang ditatap, disetel, dan dikonsep sebagai ”gambar”. Kita tak akan dan tak pernah tinggal di sana sebenarnya. Bahkan di sanalah awal kita jadi terasing.
Sebab di manakah posisi yang pas bagi kita? Karena kita terbiasa mengukur ruang yang bak gambar itu dengan angka—dengan hektare, volume, dan rupiah—kita pun terbiasa menyangka bahwa yang pas adalah yang harus dapat dibandingkan dengan posisi orang lain, atau posisi kita sendiri sebelumnya, sementara perbandingan itu berlangsung tak habis-habisnya.
Ada sebuah cerita Leo Tolstoy tentang seseorang yang terus-menerus membeli tanah dan tak pernah kenyang memperluas milik. Pada suatu hari ia mencoba mengukur wilayah kekuasaannya. Ia membawa meteran, berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanan itu tentu saja jauh sekali, karena tanah itu nyaris tanpa batas. Pada suatu titik, ia lelah, rubuh, mati, dan dikuburkan. Akhirnya tempatnya adalah sebidang tanah yang tak lebih luas ketimbang balai-balai si miskin. Di situlah ia di-prenah-kan. Di situlah dunung-nya.
Dunung adalah pengertian yang lahir dari kesadaran akan kefanaan. Meskipun terasa sangat romantis, ada yang layak direnungkan ketika Heidegger berbicara tentang hubungan kata Gothis wunian dengan kata Jerman lama bauen. Keduanya berarti ”tinggal”, ”menghuni”. Tapi kata wunian juga berarti ”ada dalam damai”. Damai berarti tak tersentuh bahaya dan gejolak. Dari kedamaian itulah kita bisa menilai posisi yang pas bagi kita.
Posisi yang pas itu, dunung, adalah posisi dalam apa yang disebut Heidegger ”empat lipatan”: di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana, di hadapan yang ilahi. Di sanalah manusia tak terasing, sebab ia tak melepaskan diri dan tegak sendiri sebagai sang penakluk. Ia tahu ia tak akan pernah selesai merengkuh. Rakus—tak hanya dalam hal tanah, tapi dalam segala hal—hanya akan membawanya kepada ilusi tentang kenyang, yang bersifat sementara, setelah ia memperkosa bumi.
”Bumi seperti seorang anak yang kenal sajak,” kata Rainer Maria Rilke dalam Soneta Buat Orfeus. Bumi, tanpa kita sadari, mengenal ritme, kejutan, keakraban, keterpautan yang intens dengan kita—bumi yang menyebabkan hujan seakan-akan berbicara nyaman, bukan terancam, bukan mengancam.
Saya tak tahu bisakah kita kembali ke sana. Mungkin saja. Saya mencoba berharap. Tiap kali hujan menggerojok kota ini dengan dahsyat, akan ada saat berhenti. Di saat itu kita akan bisa melihat pohon-pohon tampak segar, semakin hijau, seperti dicuci dari debu dan rasa lesu dan terik yang keras.
~Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXV/05 - 11 Februari 2007
Catatan Pinggir
Bahasa | Rasa | Makna
• Awal
• tentang blog ini
• tentang GM
• tentang caping
• galeri buku GM
• index
• kliping
jump to navigation
Gautama Nopember 20, 2006
Posted by ngeditors in Agama, All Posts, Budhisme, Tokoh.
7 comments
Kita tahu cerita termasyhur ini: seorang pangeran lahir di dekat kota kecil Kapilavastu, putra mahkota yang jerit pertamanya dari kandungan ditandai oleh keceriaan alam. Yang dramatis dari riwayat ini ialah ketika ia dewasa, Sidharta Gautama memulai sebuah sejarah besar dengan sebuah selamat tinggal yang radikal.
Masa lalunya, yang ditopang takhta dan kekuasaan, dijalin lezatnya hidup di puri dan bahagianya hidup berumah tangga, jadi masa yang terasa sebagai ilusi. Pangeran yang lembut hati itu—meskipun dicoba dijauhkan dari dunia di luar istana yang terlindung—telah melihat seorang yang sakit, menyaksikan orang jadi tua renta, dan bersua dengan jenazah yang diusung. Agaknya kefanaan yang disaksikannya itu mengguncang hatinya benar. Ia akhirnya menyadari bahwa semua itu bagian dari hidup—yakni sebuah jurang yang dalam, di mana kematian dan ketiadaan melekat erat dengan dan dalam diri.
Tapi yang menarik ialah bahwa hal itu tak memberi Buddhisme—yang berangkat dari pandangan dan pengalaman Sidharta Gautama itu—sebuah dalih untuk membinasakan hidup dan diri sendiri. Saya bukan seorang Buddhis, dan hanya sedikit yang saya pahami tentang agama ini, tapi jika ada yang menggugah dari dalamnya ialah bahwa seraya melihat hidup sebagai sesuatu yang mengapung-apung di atas ketiadaan, Buddhisme tak menyebarkan sikap yang pahit dan amarah terhadap nasib. Yang berubah ketika kita sadar akan hal itu ialah tatapan dan gerak kita di dunia. Kita tak lagi maju dengan bergegas ke depan, tak sabar merengkuh dan menaklukkan dunia. Dengan menyadari bagaimana ketiadaan atau maut berada dalam inti hidup, kita akan menyentuh dengan mesra apa yang langsung hadir di bawah kaki.
Dalam arti tertentu, itu juga mengandung sikap bersyukur yang sederhana—sesuatu yang dilupakan di sebuah masa ketika begitu sering sikap tak hendak mengenal syukur berbentuk ketidaksabaran. Ketidaksabaran itulah pangkal keserakahan, hasrat mendapatkan sebanyak-banyaknya dalam hidup, dengan lekas. Ketidaksabaran pula yang jadi awal penaklukan dan pembasmian. Yang mengerikan di masa ini ialah ketika ketidaksabaran mendapatkan tauladannya pada dua hal: manusia yang menang dan Tuhan yang murka.
Manusia yang menang—yang bisa mempengaruhi opini dunia, yang bisa menaklukkan orang lain, yang bisa membeli hal-ihwal, dan yang bisa mengakumulasikan milik dan kuasa—itu kita saksikan setiap hari di media, di gedung-gedung peradilan dan pemerintahan, di pasar, di medan perang dan konflik. Sedangkan Tuhan yang murka kita dengarkan hampir tiap pekan lewat mimbar agama yang mengancam hidup dengan api neraka.
Tapi kita tahu bahwa akhirnya ketidaksabaran akan terbentur dan kemenangan hanya terbatas jangkauannya. Di situlah kesadaran akan ”sunyata”, akan apa yang suwung, sunyi dan ”hampa” yang tersembunyi dalam hidup jadi penting untuk membentuk kesadaran akan terbatasnya ”aku”….
Pada tahun 1922, pengarang Jerman yang memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1946, Herman Hesse, menerbitkan Siddhartha—kisah perjalanan pencarian spiritual seorang pemuda yang akhirnya berjumpa dengan Sang Buddha sendiri. Seperti Sang Guru yang namanya mirip dengan namanya, Siddhartha bermula dari rasa murung dan berakhir dengan rasa tenteram pada posisi yang tak muluk.
Tapi ia tak menjadi penganut Sang Buddha.
Ia tetap seorang penarik perahu tambangan yang duduk mendengarkan sungai. Ada yang mengatakan ia seorang bijaksana dengan petuah yang menyejukkan. Ia—seorang keturunan Brahmana yang tampan dan cerdas—memang pernah jadi seorang pengembara, meninggalkan kenikmatan dunia. Ia bahkan pernah mengikuti Buddha Gautama. Tapi tetap saja ia tak berbahagia. Akhirnya ia tahu: tanpa mengikuti doktrin apa pun, tanpa menganut ajaran agama apa pun, ia melebur diri dalam dunia, mengikuti gema alam, mencari percakapan dengan air yang mengalir.
Inilah yang dikatakannya kepada sahabatnya, Govinda: ”Aku senantiasa haus akan pengetahuan, aku selalu menyimpan pertanyaan. Aku telah bertanya kepada para Brahmana, tahun demi tahun, aku telah bertanya kepada Kitab Veda yang suci, tahun demi tahun…. Mungkin, wahai Govinda, akan sama hasilnya, akan sama cerdas dan menguntungkannya, seandainya aku bertanya kepada burung tiung dan simpanse di pohon-pohon. Begitu lama telah kujalani proses belajar, dan itu pun belum selesai untuk memahami ini, duhai Govinda: bahwa tak ada yang harus dipelajari!…”
Tapi tidakkah dengan demikian yang akan tumbuh hanyalah sikap pasrah? Kesabaran yang hanya akan berakhir dengan ketidaktahuan?
Barangkali demikian. Tetapi barangkali juga yang hendak ditunjukkan Siddhartha yang dihadirkan Herman Hesse adalah bahwa ada sikap takabur ketika kita melupakan apa yang menyentuh dan kita sentuh mesra dengan kaki kita di tanah: benda-benda bersahaja yang sesungguhnya mengandung rahmat. Mempelajari dengan melalaikan hal-hal yang bersahaja pada akhirnya hanya akan menaklukkan apa yang di luar diri. Itulah sebabnya Siddhartha mendengarkan arus sungai.
Ia memang menyatakan diri tak hendak mengikuti doktrin apa pun, juga ajaran Buddha. Tapi ada tukang perahu ini yang menyiratkan kerendahan-hati yang tersirat dalam sikap Buddha Gautama.
Syahdan, dalam posisi bertapa yang habis-habisan, sehingga tubuhnya nyaris rusak, Sang Buddha mendengarkan nyanyian ini:
Dawai yang terentang terlampau tegang akan putus, dan musik akan mati
Dawai yang terentang kendur akan hilang bunyi, dan musik akan mati
~Majalah Tempo Edisi. 39/XXXV/20 - 26 November 2006~
Kahyangan Januari 2, 2006
Posted by anick in Agama, All Posts, Budhisme, Kisah, Sejarah, Tokoh.
1 comment so far
Di surga, tak ada tahun baru. Waktu tak hadir, juga perbuatan
Dalam tiap adegan kahyangan pada pertunjukan wayang purwa, keabadian digambarkan dengan kalimat ini: ‘Ana padhang dudu padhanging rina, ana peteng dudu petenging wengi’. Yang ada adalah ‘terang yang bukan terangnya siang’ dan ‘gelap yang bukan gelapnya malam’. Tak ada waktu, tak ada ruang, hanya keluasan yang tanpa tepi — mung alam tumlawung ngalangut datan patepi.
Yang menarik – seperti saya temukan dalam buku yang disusun Anom Sukatno, Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo — dalam janturan yang dilantunkan ki dalang, kahyangan adalah keadaan tak ada subyek. Maka tak ada obyek. Yang ada suwung.
Kata ‘suwung’ berbeda dengan ‘kosong’ atau ‘hampa’. ‘Suwung’ sebenarnya bukanlah sebuah defisit. ‘Suwung’ punya wilayahnya sendiri. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Ronggowarsito menampilkan sebuah keadaan paradoksal dalam meditasi: ‘suwung sakjatining isi’, suwung namun sesungguhnya berisi.
Maka bila kahyangan digambarkan sebagai ‘suwung’ dan tak ada ‘rasa pribadi,’ yang dimaksudkan bukanlah sebuah gambaran kekurangan. Bahkan sebaliknya. ‘Cipta, rasa dan karsa’ tak ada karena tak dibutuhkan. Keheningan itu total – yang juga berarti kebebasan dari pengaruh perasaan suka dan sedih: datan kaprabawaning rasa bungah lan susah.
Mungkin pengaruh Budhisme ikut membentuk imajinasi para pencipta wayang purwa dalam adegan ‘Alang-Alang Kumitir’: surga adalah sesuatu yang berada di luar wilayah pancaindera, seperti yang dilambangkan dengan stupa di pucuk Borobudur itu — polos, ugahari, tanpa ruang, tanpa celah.
Saya ingat Sanusi Pane. Dalam perjalanannya di India, ia mengagumi Syiwa Nataraja, dewa yang menari dalam lingkaran api. Beginilah dilukiskannya dalam sebuah puisi panjang dalam Madah Kelana:
Natésa berdiri
Di atas buta, kanan memegang gendang, kiri
Memegang api bernyala-nyala. Sikap badan, tangan
Dan kaki, wajah muka amat permainya: angan-angan
Keindahan Patung Syiwa itu ‘dalam dirinya bergerak dan beredar, tidak terperi’, dan di hadapan Natésa itulah Sanusi menemukan satu kearifan, tatkala sesaat seakan-akan didengarnya sebuah suara halus-merdu yang menyeru:
‘Tujuan sekalian ada dalam diri sendiri
Tidak ada asal tujuan, pangkal ujung, yang diberi
Dari luar…’ Maka tarian Syiwa-Nataraja bagi Sanusi Pane adalah ‘jalan ringkas…mencapai kemerdekaan’. Jiwa akan merdeka jika kita membiarkan diri menari dan ‘membakar segala ikatan buta’ yang kita bikin, jika dalam gerak itu, sang penari tak dijajah oleh hasil, oleh ‘tujuan’. Seperti ketika, dalam sebuah sajaknya yang lain, ia merasa di atas biduk dan merasa hening dan tenteram, dibawa gelombang tanpa kehendak tanpa arah, menyimak getar keabadian di langit dan melenyapkan diri ke dalam alam…
Di sini, tindakan berada di titik nol. ‘Diam, hatiku, jangan bercita’, tulis Sanusi dalam Candi Mendut, ‘Jangan kau lagi mengandung rasa/Mengharap bahagia dunia Maya’.
Maka tindakan jadi ‘laku’: ada di antara posisi yang bukan pasif dan juga bukan aktif. Sajak Syiwa-Nataraja melukiskan dua gerakan untuk mencapai kemerdekaan: yang satu dengan metafora ‘menari’, dan pada saat yang sama juga ‘tinggal samadi’.
Tapi persoalannya tetap: bagaimana laku ini menyiapkan sesuatu yang berarti bagi sejarah. Di dunia, manusia ada dalam keadaan terlempar. Ia tak siap, ia sebuah kekurangan: ikan langsung dapat berenang begitu ke luar dari indung telur, tapi manusia tidak.
Sebab itulah ia merasa terancam terhimpit oleh dunia sekitarnya. Ia pun mencoba mengendalikan alam, termasuk jasmaninya sendiri. Untuk itu ia harus berada di atasnya dan membebaskan diri darinya.
Maka kebudayaan pun terbentuk, dengan produksi dan teknik yang diperbaiki terus menerus. Tapi juga dengan kesengsaraan dan penindasan.
Dan di koloni orang-orang yang tertindas, seperti Indonesia di tahun 1930-an ketika Sanusi Pane menuliskan sajak-sajak yang terkumpul dalam Madah Kelana, tampaknya harus diakui bahwa konflik-lah yang membentuk manusia. Mungkin sebab itu penyair penganut theosofi ini tertumbuk pada ruang buntu. Baru beberapa tahun kemudian ia menemukan sebuah jalan keluar.
Di tahun 1940 ia menulis lakon Manusia Baru, sebuah cerita tentang perjuangan buruh di Madras,
India. Surendranath Dash, aktivis dari Benggali itu datang membantu para buruh tekstil untuk menuntut perbaikan nasib. Di sana ia bertemu dengan anak-anak muda kelas menengah, Sarawaswati Wadia, misalnya. Karena kata-katanya yang menggugah untuk membangun sebuah India yang baru, yang tak lagi bersifat ‘tenang’ tapi ‘bergerak dalam ketenangan’, Dash mengubah pandangan orang-orang itu..
Dalam keadaan tertindas, orang memang tak bisa menjalani laku sang kelana yang hanyut dalam keheningan laut. Ia harus meletakkan diri sebagai subyek. Ia bukan hanya ‘laku’. Ia ‘tindakan’.
Dalam proses itu pula, sang kelana tak lagi menggunakan bahasa ‘pemikiran meditatif’ dan tak pula memakai bahasa ‘pemikiran puitis’ – bentuk-bentuk yang dipujikan Heidegger sebagai alternatif bagi ‘pemikiran kalkulatif.’ Telah ditinggalkannya bahasa yang selaras dengan suara angin di daun-daun. Surendranath Dash tak menulis sajak..
Tapi hidup di tengah dunia yang belum berubah, ‘manusia baru’ hanyalah sekedar model. Lakon Sanusi Pane tak melukiskan liku-liku psikologi yang pelik dan pergulatan jasmani yang pasang surut dalam proses transformasi dari yang ‘lama’ menjadi ‘baru’. Manusia Baru praktis sebuah lakon tanpa tubuh tanpa laku.
Di saat itu Sanusi lupa bahwa hidup adalah hidup dalam keterbatasan jasmani dan keasyikan tubuh. Dash jadi seperti Faust, yang berkata kepada Ruh: ‘Aku, aku Faust, sejawatmu!’ Ia tak mau mengaku, bahwa ia berada dalam sejarah.
Di dalam sejarah, di luar surga, manusia harus siap kecewa, tapi mensyukuri apa yang fana..
~Majalah Tempo Edisi. 45/XXXIV/02 - 8 Januari 2006
jump to navigation
Mak Mei 5, 2008
Posted by anick in All Posts, Buku, Kisah, Novel, Sastra.
2 comments
Pada suatu peringatan 1 Mei, sejumlah buruh ditangkap, termasuk Pavel—dan Maksim Gorky menulis novel Mat’. Pramoedya Ananta Toer menerjemahkannya dengan Ibunda. Saya kira kata yang lebih cocok adalah ”Mak”.
”Ibunda” memang mengandung rasa hormat dan hangat, dan tokoh novel ini, Pelagedia Nilovna, perempuan yang mendampingi anaknya dalam perjuangan buruh itu, patut disebut dengan sungkan dan sekaligus mesra, bak Maria yang melahirkan Yesus. Tapi, dalam bahasa Melayu, ”ibunda” adalah kata panggilan di kalangan atas. Panggilan ”mak” lebih lazim di lapisan rendah masyarakat.
Namun Pramoedya tak sepenuhnya keliru. Pilihan judul itu mencerminkan paradoks karya sastra yang hendak mengobarkan semangat perjuangan: menyatakan diri bagian dari ”realisme” tapi condong ke arah mitologi.
Tokoh Mat’ didasarkan pada kisah nyata Anna Zalomova yang berjalan ke mana-mana menyebarkan pamflet revolusi setelah anaknya ditahan polisi dalam sebuah aksi massa. Tapi, dalam novel ini, sang ibu—dengan iman Kristennya yang masih utuh, dengan cintanya kepada Pavel, sang anak yang berubah dari si bandel jadi pejuang buruh—senantiasa hadir sebagai bayang-bayang sang suci; si mak terasa lebih agung ketimbang manusia sehari-hari.
Di bab terakhir ucapannya fasih-lidah kepada orang ramai, ketika polisi mulai mengepung:
”Untuk mengubah hidup ini, untuk membebaskan semua, membangunkannya dari kematian, sebagaimana aku dibangunkan, beberapa orang telah datang, mereka yang secara bersembunyi-sembunyi telah menyaksikan kebenaran dalam hidup. Bersembunyi-sembunyi, sebab, kalian tahu, tak seorang pun dapat mengucapkan kebenaran itu dengan lantang. … Sejauh ini kebenaran adalah musuh bebuyutan dari si kaya, musuh yang tak akan dapat diajak damai selama-lamanya! Anak-anak kita tengah membawa kebenaran ke dunia.…”
Rangkaian kalimat itu mirip khotbah seorang nabi di depan kenisah: kata ”kebenaran” disebut berkali-kali. Dan ketika akhirnya polisi menyerbu, Pelagedia Nilovna tak berhenti. Perempuan ini seakan-akan martir yang tak bisa luka.
Pendek kata, ia tokoh ideal; ia lahir dengan takdir yang didesain sang pengarang. Mungkin itu sebabnya novel ini tak punya banyak kelok yang rumit tak disangka-sangka. Sekali kita tahu pesan yang hendak disampaikan Gorky, kita segera temukan garis lurus antara bab pertama yang melukiskan kehidupan kumuh kaum proletar dan bagian akhir yang menunjukkan kegagahberanian.
Mungkin itu pula sebabnya novel yang begitu menggugah ketika dibaca di awal abad ke-20 di Rusia, di awal abad ke-21 ini akan disambut dengan satu tarikan napas: tak ada yang baru di situ.
Zaman memang tak seperti dulu. Kini mitos kian goyah, realisme problematis. Kini manusia adalah ”orang”, makhluk yang lebih mengasyikkan tapi juga menjengkelkan. Lebih dari satu dasawarsa setelah Gorky menuliskan novelnya, Freud menunjukkan bahwa kita semua (juga para nabi dan pahlawan) punya bawah-sadar yang penuh nafsu, naluri, dan hasrat kenikmatan. Kini kita lebih skeptis memandang pokok & tokoh.
Dan apa arti ”realisme”, jika ”realitas” kian disadari sebagai dunia hasil konstruksi yang didukung bahasa sendiri?
Dalam Bab XIX, Pavel, buruh muda yang akhirnya jadi kebanggaan maknya, berdiri di samping bendera merah yang berkibar: ”Kawan semua! Kita telah putuskan untuk menyatakan secara terbuka siapa kita; kita junjung bendera kita hari ini, bendera nalar, kebenaran, kebebasan!”
Begitu meyakinkankah ”nalar”?
”Hidup rakyat pekerja!” Pavel berseru pula, dan ratusan suara menyahut, ”Hidup Partai Pekerja Sosial Demokrasi, partai kita… ibu rohani kita.”
Bagaimana mungkin Partai jadi ”ibu rohani”?
Menjelang Revolusi Oktober 1917, ”nalar” dan partai sebagai ”ibu rohani” adalah bagian dari iman gerakan Bolsyewik. Tapi, September 1980, kaum buruh Polandia mengibarkan gerakan mereka, Solidarnosc, yang menentang Partai Komunis yang berkuasa atas nama proletariat. Kita pun diingatkan kembali: kaum pekerja lahir dari kerja—bukan dari ideologi. Ideologi adalah hasil dari ”nalar”. Kaum pekerja tumbuh dari bawah, dari otot dan peluh, sedangkan Partai, ”sang ibu rohani”, akhirnya tak bersentuhan dengan otot dan peluh, elemen jasmani para proletar.
Bahkan sang buruh, yang bukan mitos, tak selamanya ingin menghabisi kapitalisme. Di Indonesia, ada yang lebih menderita: para penganggur, yang tiap kali buruh memperoleh upah minimum yang lebih tinggi, tiap kali pula para tunakarya itu kehilangan kesempatan kerja.
Tapi Gorky bisa dimaafkan. Pada tahun 1907, ketika Mat’ terbit, Partai, ”si ibu rohani”, belum berkuasa dan berubah jadi Bapak yang streng. Baru pada 1918, setelah majalahnya, Novaya Zhin, diberangus Partai, Gorky tahu apa yang ia hadapi; ia menulis sebuah buku yang kritis—yang baru bisa diterbitkan di Rusia setelah Uni Soviet runtuh.
Tapi mengherankan, hari-hari itu bahkan Gorky tak mengingat Engels (dalam Anti-Dühring) yang menunjukkan pentingnya elemen jasmani dalam kerja dan sejarah.
”Kerja”, bukan ”karya”, berasal dari badan yang tegak, ketika manusia tak lagi menggunakan tangannya untuk merangkak. Tangan yang bebas itulah yang membentuk kerja: menenun dan meniup serunai, menulis alkisah dan Alkitab. Otak pun berkembang amat jauh, hingga ”nalar” seakan-akan lepas dari jasmani.
Yang jasmani memang tak kekal dan tak pasti. Mungkin itu sebabnya dalam novel ini Si Rus Kecil berseru: ”Kawan-kawan! Kita telah memulai sebuah prosesi suci atas nama Tuhan yang baru, Tuhan Kebenaran dan Cahaya, Tuhan Nalar dan Kebaikan!”
Jangan-jangan ini nostalgia tubuh kepada ”roh”, agama yang ngumpet di balik ”materialisme dialektik”, mitologi yang berbaju ”realisme”. Tak aneh jika para pejuang sering lupa: yang merasa benar dan kekal akan terasing dari sejarah.
~Majalah Tempo Edisi. 11/XXXVII/05 - 11 Mei 2008~
Fouda Maret 3, 2008
Posted by anick in Agama, All Posts, Buku, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan, Kekerasan, Kisah, Tokoh, Tuhan.
44 comments
Pada tanggal 8 Juni 1992, mereka bunuh Farag Fouda di Madinat al-Nasr, Kairo. Dua orang bertopeng menyerangnya. Fouda tewas tertembak, anaknya luka-luka parah. Kelompok Jamaah Islamiyah mengatakan: “Ya, kami membunuhnya.”
Bagi kelompok itu, tak ada dosa bila Fouda dibinasakan. Bukankah lima hari sebelum itu sekelompok ulama dari Universitas al-Azhar memaklumkan bahwa cendekiawan ini telah menghujat agama, dan sebab itu boleh dibunuh? Seorang ulama, Muhammad al-Ghazali, membela para algojo: tindakan mereka adalah pelaksanaan hukuman yang tepat bagi seorang yang murtad.
Tapi tak seorang pun tahu sebenarnya, benarkah Fouda, yang tewas pada umur 46, orang yang murtad. Terutama jika kita baca buku yang baru-baru ini diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Kebenaran Yang Hilang, yang juga memuat kata pengantar Samsu Rizal Panggabean.
Lima bulan sebelum ia dibunuh, Fouda ikut dalam perdebatan di Pameran Buku Kairo. Dalam acara yang konon diikuti 30.000 orang itu ia menghadapi ulama macam Muhammad al-Ghazali. Perdebatan berkisar pada masalah hubungan antara agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam dan lembaga khilafah.
Pendirian Fouda dikemukakan dengan gamblang dalam serangkaian bab al-Haqiah al-Ghaybah-nya yang diterjemahkan oleh Novriantoni. Ia memang bisa mengguncang sendi-sendi pemikiran kaum “Islamis”: mereka yang ingin menegakkan “negara Islam” berdasarkan ingatan tentang dunia Arab di abad ke-7 ketika para sahabat Nabi memimpin umat.
Bila kaum “Islamis” menggambarkan periode salaf itu sebagai zaman keemasan yang patut dirindukan, Fouda tidak. Baginya, sebagaimana ditulis Samsu Rizal Panggabean, periode itu “zaman biasa”.
Bahkan sebenarnya “tidak banyak yang gemilang dari masa itu”, demikian kesimpulan Samsu Rizal Panggabean. “Malah, ada banyak jejak memalukan.”
Contoh yang paling tajam yang dikemukakan Fouda ialah saat kejatuhan Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang diangkat ke kedudukan pemimpin umat pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang–berakhir kekuasaannya 12 tahun kemudian. Ia dibunuh. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak.
Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.
Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seseorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqãt al-Kubrã karya sejarah Ibnu Sa’ad, yang menyebutkan satu data yang menarik: khalif itu agaknya bukan seorang yang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.
Kaum “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu. Dan tentu saja mereka tak hendak mengakui bahwa tindakan berdarah terhadap Usman itu menunjukkan ada yang kurang dalam hukum Islam: tak ada pegangan yang mengatur cara mencegah seorang pemimpin agar tak menyeleweng dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.
Ketika Usman tak hendak turun dari takhta (ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan melepas baju yang telah disematkan Allah kepadaku!”), orang-orang Islam di bawahnya pun menemui jalan buntu. Sebagaimana disebut dalam Kebenaran Yang Hilang, para pemuka Islam waktu itu mencari-cari contoh dari masa lalu bagaimana memecahkan soal suksesi. Mereka gagal. “Mereka juga mencari kaidah dalam Islam…tapi mereka tak menemukannya,” tulis Fouda. Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman–lalu membunuhnya, lalu menistanya.
Tampak, ada dinamika lain yang mungkin tak pernah diperkirakan ketika Islam bertaut dengan kekuasaan. Dinamika itu mencari jalan dalam kegelapan tapi dengan rasa cemas yang sangat. Orang memakai dalih agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu: tak ada jalan yang jelas, apalagi suci. Di satu pihak, mereka harus yakin, tapi di lain pihak, mereka tahu mereka buta.
Itu sebabnya laku mereka begitu absolut dan begitu bengis. Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Pembunuhnya ditangkap. Sebagai hukuman, tangan dan kaki orang ini dipenggal, matanya dicungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar.
Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, “Si Jagal”. Di mimbar ia mengaum, “Allah telah mengembalikan hak kami.” Tapi tentu saja ia tahu Tuhan tak pernah menghampirinya. Maka ia ingin tak ada lubang dalam keyakinannya sendiri (juga keyakinan orang lain) tentang kebenaran kekuasaannya. Al-Saffah pun mendekritkan: para petugas harus memburu lawan politik sang khalif sampai ke kuburan.
Makam pun dibongkar. Ketika ditemukan satu jenazah yang agak utuh, mayat itu pun didera, disalib, dibakar. Musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup, apa lagi….
Itu sebabnya, bahkan sekian abad setelah “Si Jagal”, orang macam Fouda harus dibunuh. Ia mempersoalkan keabsahan posisi khilafah. Ia pengganggu kemutlakan. Tapi itu terjadi di Mesir lebih dari 10 tahun yang silam–bukan di Indonesia. Mungkin ini ciri Islam yang mengagumkan di sini: justru Departemen Agama-lah yang menerbitkan Kebenaran Yang Hilang.
~Majalah Tempo Edisi. 03 - 09 Maret 2008~
Po Kyin Oktober 15, 2007
Posted by anick in All Posts, Buku, Fasisme, Identitas, Novel, Tokoh.
1 comment so far
Apati adalah produk samping kolonialisme yang menyebabkan kemerdekaan dianggap keliru. Mungkin bukan hanya penindasan orang asing yang jadi soal—melainkan kombinasi antara bedil, bui, dan bujukan yang efektif, sesuatu yang dulu terjadi di Burma, dan sekarang terjadi lagi.
Saya teringat U Po Kyin. Lelaki berperut buncit dalam novel Orwell Burmese Days ini memang tak mudah dilupakan: ia adalah kekejian yang turun ke bumi di sebuah negeri panas yang tak bisa berharap. Ia menipu, ia memperkosa, ia merancang untuk menghancurkan orang yang didengkinya, dan ia ingin memperoleh semuanya—juga surga.
Novel ini dibuka dengan adegan ketika Po Kyin, hakim peradilan rendah di Kota Kyauktada, Burma Utara, sedang duduk di beranda rumahnya. Hari baru setengah sembilan pagi, tapi langit warna biru laut yang segera mendatangkan tengah hari yang panjang dan gerah. Tapi U Po Kyin, seperti patung dewa dari porselin, tak bergeming.
Tubuhnya begitu gemuk hingga dalam umur 56 tahun itu ia tak bisa bangkit dari kursinya tanpa ditolong. Kepalanya gundul, raut mukanya luas, warna kulitnya langsat dan tak berkerut. Tungkai kakinya tambun, dengan jari-jari yang rata panjangnya. Ia mengenakan sarung longyi dari Arakan, bergaris-gars hijau dan magenta, yang biasa dipakai orang Burma untuk acara tak resmi. Mulutnya sibuk mengunyah gambir yang diambilnya dari kotak kayu dipernis di meja dekatnya.
Ia, U Po Kyin, sedang merenungkan nasibnya yang baik.
Suksesnya dimulai dengan sebuah keputusan ketika ia masih seorang anak yang terkesima melihat pasukan Inggris berbaris masuk penuh kemenangan ke Kota Mandalay. Memandang barisan laki-laki bermuka merah dan berseragam merah itu, yang menyandang senapan panjang di pundak dan melangkah dalam derap yang berat tapi berirama, ia lari. Kesimpulannya: manusia yang baru datang itu tak akan terkalahkan. Dan Po Kyin kecil pun bertekad untuk bergabung dengan bangsa itu, nanti bila ia besar. Ia tak hendak memihak Burma yang kalah.
Pada umur 17 ia mencoba jadi pegawai gubernemen, tapi gagal. Ia miskin dan tak punya koneksi. Maka tiga tahun lamanya ia bekerja di lorong-lorong pasar Mandalay yang apak dan bacin, jadi kerani saudagar beras, seraya sekali-sekali mencuri. Pada umur 20 ia dapat 400 rupiah gara-gara memeras kecil-kecilan, dan dengan uang itu ia berangkat ke Rangoon. Di ibu kota itu ia berhasil menyuap untuk masuk jadi kerani pemerintah.
Pekerjaan itu memberinya penghasilan yang mudah, meskipun gajinya kecil. Ia menilap banyak barang dari gudang gubernemen. Tapi nasib terbaiknya datang kemudian: sebuah lowongan terbuka dan ia berhasil memfitnah pesaing-pesaingnya, yang kebanyakan masuk penjara, dan dengan itu ia naik.
Kariernya meningkat. Ia akhirnya dapat jabatan hakim peradilan rendah Kota Kyauktada, dengan sikap adil yang terkenal tapi sebetulnya menyembunyikan sesuatu yang licik: Po Kyin akan menarik suap dari kedua pihak yang berperkara, dan kemudian memutuskan berdasarkan hukum yang ada.
Kejahatan orang ini tak hanya sampai di situ, dan saya kira Orwell sedikit berlebihan menampilkan tokoh yang begitu busuk dalam novelnya. Tapi ini bukan kisah tentang Po Kyin. Novel ini membidikkan kata-katanya ke sebuah masyarakat yang sakit oleh kolonialisme—dibelah oleh prasangka dan kebencian rasial, yang pada akhirnya merupakan garis kebijakan penjajahan juga. Bila ambisi Po Kyin adalah ingin jadi anggota Klub Eropa—yang anggotanya khusus orang kulit putih atau orang lain yang dianggap setara—kita tahu sebabnya: diskriminasi dan penghinaan karena warna kulit telah menyusup sampai ke tulang sumsum siapa saja.
Bahkan mereka yang sebenarnya jadi korban penghinaan itu sendiri mereproduksinya dalam hidup mereka. Po Kyin akan menghalalkan tindakan apa saja—menghasut, membuat kerusuhan, memfitnah—untuk dapat disetarakan dengan orang putih di Klub Eropa. Dr Veraswami, orang India berkulit gelap itu, mengukuhkan supremasi orang Inggris dengan menganggap bahwa manusia Timur tak akan tertolong tanpa Pax Britanica. Ketika sahabatnya, Flory, satu-satunya orang Inggris yang dengan mata nyalang melihat akibat buruk kolonialisme, Veraswami justru membantahnya. ”Lihat Burma di zaman Thibaw,” katanya, ”dengan kotoran, penyiksaan dan kebodohan, dan lihat apa yang tampak sekarang di sekitar tuan. Rumah sakit, sekolah, kantor polisi….”
Bagi Po Kyin dan Veraswami, kolonialisme dan penghinaan mereka perlukan. Bagi orang macam mereka, kemerdekaan tak pernah terpikirkan, sebab mereka tak merasa membutuhkan sebuah keadaan yang lebih adil, meskipun sebenarnya ketidakadilan mengepung hidup mereka. Mereka bebas dari bedil dan bui, tapi mereka menyerah ke dalam bujukan yang menjebak mereka, bahwa bangsa mereka ditakdirkan kalah. Apati yang menang—itu bahkan terasa dari tangan Orwell ketika ia menggambarkan bangsa yang terjajah itu: tak ada perlawanan.
Tapi mungkinkah apati bisa bertahan? Yang terjadi di Myanmar hari-hari ini menjawab: tidak.
~Majalah Tempo Edisi. 34/XXXVI/15 - 21 Oktober 2007
jump to navigation
Obama Februari 25, 2008
Posted by anick in All Posts, Amerika, Demokrasi, Politik.
28 comments
Seandainya Obama seorang perempuan…
Tentu saja ia bukan – dan ini .bisa dikatakan sebagai sebuah kekurangan. Tapi “nobody’s perfect” – seperti kata si jutawan bego dalam adegan terakhir film Some Like it Hot, ketika diberitahu bahwa orang yang digandrunginya itu, (“Daphne” yang sebenarnya adalah Jerry) ternyata laki-laki.
Obama akan nyaris sempurna seandainya ia bisa jadi perempuan, kemarin, atau besok. Sebab bahkan sekarang pun ia sudah merupakan satu sosok yang unik: ia persilangan (pelbagai) identitas. Ia contoh bahwa “identitas” bukanlah sebuah cap yang kekal dan kaku. Dalam kata pengantar edisi tahun 2004 untuk bukunya The Dream of My Father, Obama sendiri menyebut “the fluid state of identity—the leaps through time, the collision of cultures—that mark our modern life.” Ia menegaskan apa yang ia ketahui dari tubuhnya sendiri: terutama du zaman ini, identitas selalu dalam keadaan cair.
Mungkin sebab itu ia politikus Amerika yang bisa dengan wajar menunjukkan bahwa politik tak bisa hanya mengibarkan panji-panji partikularisme, dengan politik identitas yang menegaskan apa yang istimewa pada “kami” dan tidak pada “mereka”. Politik pada akhirnya sebuah proses pencarian dan artikulasi tentang apa yang universal. Politik adalah sesuatu pergulatan antar kelompok yang mau tak mau terdorong membentuk “kita”.
Obama tak bermula dari “kami” yang pasti. Orang berkata, pria yang hari-hari ini sedang ikut bersaing untuk jadi calon Partai Demokrat buat jabatan presiden Amerika Serikat, adalah orang kulit hitam pertama yang berhasil naik ke gelanggang setinggi itu. Tapi sebutan black bagi Obama berlebihan — dan sekaligus kurang. Ia tak sehitam Mohammad Ali, Stevie Wonder, atau Jesse Jackson.
Ibu Obama seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Malah, jika kita percaya hasil penelitian trah oleh The New England Historic Genealogical Society, Ann Dunham ada dalam garis keturunan seorang raja Skotlandia di abad ke-12.
Tapi sementara itu ia juga seorang “Afro-Amerika” dalam pengertian yang harfiah. Ayahnya, Barrack Hussein, datang dari suku Luo di propinsi Nyanza, Kenya, seorang mahasiswa asing di Hawaii yang bertemu dan kemudian menikah dengan Ann Dunham.
Seorang bayi yang diberi nama seperti ayahnya lahir di Honolulu, 4 Agustus 1961. Tapi ketika ia berumur dua tahun, orang tuanya berpisah. Si ayah menyelesaikan studi ilmu ekonominya di Universitas Harvard. Perpisahan itu jadi perceraian. Pria Kenya itu kembali ke tanah kelahirannya. Barrack muda bertemu dengan dia ketika si bocah berumur 10. Barrack tua kemudian tewas dalam kecelakaan mobil di tahun 1982. Sang ayah jadi nama yang menandai kehilangan dalam diri anaknya.
Dalam kehilangan itulah pengertian “Afro-Amerika” yang harfiah berubah. Berkat ibunya.
Dalam The Dream of My Father, yang ditulisnya sebelum ia masuk dalam lembaga legislatif, pemuda separuh Kenya ini menyebut dongeng-dongeng suku Luo di tepi Danau Victoria. Tapi yang agaknya paling membekas adalah yang diberikan sang ibu selama mereka hidup di Jakarta.
Ibu itu, Ann –seorang perempuan yang dibesarkan dengan pandangan yang tak konvensional — menikah dengan seorang mahasiswa dari Indonesia, Sutoro namanya. Di tahun 1967, keluarga itu pindah ke Jakarta. Mereka punya seorang anak perempuan, Maya.
Sutoro bekerja di kalangan perminyakan. Masa akhir 60-an adalah masa pergolakan di Indonesia, ekonomi masih berat, dan kepastian belum ampak. Sedikit yang kita ketahui tentang ayah tiri Obama ini, kecuali bahwa ia tak cukup uang untuk memasukkan Barrack ke The Jakarta International School. Maka Barrack, (biasa disebut “Barry’) bersekolah di sekolah negeri di Jalan Besuki. Tapi ibunya menyiapkannya untuk dapat pendidikan yang lebih baik di Amerika.
Barry belajar memperbaiki bahasa Inggrisnya dari sang ibu, dan harus bangun jam 4 pagi untuk itu. Sang ibu tak hanya mengajarnya berbahasa Inggris. Ia juga memperkenalkan Barry dengan lagu-lagu Mahalia Jackson dan pidato Dr. Martin Luther King, Juga kisah tentang anak-anak hitam yang terjepit di Amerika Serikat bagian selatan.
Dari sinilah Barry memilih apa arti “Afro-Amerika” baginya. Identitasnya bukan masalah masa lalu, tapi masa depan. Bukan masalah biologis, tapi politis. Bukan keniscayaan, tapi pilihan. “Afro-Amerika” bagi Obama dengan demikian mengandung sesuatu yang universal: sejarah perjuangan pembebasan mereka yang disakiti oleh diskriminasi rasial dan keterbelakangan.
Tapi tentu saja ia tak sepenuhnya ada dalam sejarah itu – dan ia tumbuh jadi seorang pemuda dengan kulit hitam yang tak dirundung amarah. Ketika gerakan Civil Rights berhasil, dan hak-hak lebih luas orang hitam didapat, Barrack tinggal menempuh jalan yang lebih luas terbentang. Tapi ia sudah bertindak, dengan bekerja di komunitas hitam di Chicago. “Hitam” Obama bukanlah sesuatu yang hanya diwarisi secara pasif, tapi sebuah posisi aktif. “Hitam” adalah aksi dalam sejarah.
Kini ia tengah ikut membuat sejarah itu – sebuah sejarah yang pernah bernoda oleh larangan bagi orang hitam untuk berada di satu sekolah, satu bis, dan satu tempat kencing dengan orang kulit putih, tapi juga sebuah sejarah dengan demokrasi yang ternyata bisa mengembangkan diri.
Demokrasi itu kini sedang menunjukkan, bagaimana kaum yang paling di pinggiran bisa bergerak masuk ke tengah – dan ke puncak. Tak hanya itu. Demokrasi itu juga sedang menunjukkan, bagaimana sebuah bangsa bisa menebus sebagian dari kesalahannya sendiri, yang telah memilih pemerintahan Bush untuk menumbuhkan antagonisme “kami” dan “mereka” di mana-mana.
Obama (terutama jika ia menang) akan jadi indikator, bahwa demokrasi Amerika telah membuat antagonisme dalam politik tak memutlakkan dasar antagonisme itu sendiri. Demokrasi itu adalah satu proses perubahan, Di abad ke-21, Amerika Serikat bisa berhenti jadi negeri yang dibenci. Ia bisa memberikan inspirasi.
~Majalah Tempo Edisi. 01/XXXVII/25 Februari - 02 Maret 2008~
~dengan perbaikan dari penulisnya~
Bolong Nopember 26, 2007
Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Sejarah.
3 comments
Harapan menggerakkan kita dengan bahasa yang tak jelas. Seakan-akan di sekitarnya ada sebuah lubang verbal—bolong yang diterobos oleh sesuatu yang tak terkatakan. Seperti yang terjadi pagi itu, 18 Desember 1989, di kota Timisoara di Rumania sebelah timur, dekat perbatasan negeri itu dengan Yugoslavia.
Peristiwa ini dimulai dengan keputusan pemerintahan Presiden Ceausescu untuk mengusir seorang pendeta asal Hungaria yang telah bicara terus terang tentang keburukan kediktatoran Rumania. Ia tampaknya seorang rohaniwan yang dicintai jemaatnya, hingga hari itu mereka berkumpul di sekitar apartemennya, berjaga agar bapak pendeta tak digusur dengan kekerasan.
Berangsur-angsur, banyak orang yang bergabung. Yang mereka dengar ialah bahwa rezim komunis yang bertakhta di Bukares itu sekali lagi bermaksud membatasi kemerdekaan beragama. Satu kelompok besar manusia pun berhimpun—suatu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya di Rumania. Mereka berharap, meskipun tak jelas berharap apa.
Dalam beberapa jam, polisi dan pasukan agen rahasia Securitate sudah mengepung tempat itu. Tapi tahun 1989 adalah tahun perubahan besar di Eropa Timur. Kurang sebulan sebelum protes di Timisoara itu, Tembok Berlin runtuh, dan sejak 9 November satu demi satu kekuasaan Partai Komunis guncang atau rontok. Perlindungan Uni Soviet tak diberikan lagi kepada para penguasa yang dibenci rakyat itu. Tapi pemerintahan Ceausescu tak menyadari bagaimana rapuhnya dirinya. Ketika suara protes kian galak, para petugas keamanan bertindak dengan gas air mata, semburan air, pukulan, dan juga penangkapan.
Hanya sebentar berhasil. Malamnya rakyat berkumpul di sekitar Katedral Ortodoks Rumania. Dari sini aksi menjalar. Dan esok harinya, 17 Desember, massa menyerbu masuk Komite Distrik Partai Komunis. Mereka buang dokumen, brosur propaganda, dan karya-karya Ceausescu.
Ketika mereka coba bakar gedung itu, muncul tentara Rumania—dengan panser, tank, helikopter, dan bedil. Tembakan terdengar, korban jatuh. Untuk beberapa jam para demonstran mundur. Pagi 18 Desember, menembus kepungan pasukan keamanan, 30 pemuda maju ke arah Katedral, menyanyikan ”Desteapta-te, române!” (Bangunlah, Bangsa Rumania!), sebuah lagu nasional yang dilarang rezim komunis sejak tahun 1947. Mereka mengibarkan bendera Rumania—tapi sebuah bendera yang berlubang, karena lambang Partai Komunis yang semula terpacak di tengah sang saka itu telah digunting dan dicampakkan.
Akhirnya revolusi antikomunis itu tak dapat dipadamkan lagi, meskipun para pemuda itu ditembaki dan beberapa orang tewas dan luka-luka. Keberanian menjalar ke seluruh republik, sampai akhirnya Ceausescu dan istrinya terpojok dan ditembak mati para pemberontak.
Rumania pun berubah. Demokrasi menang.
Syahdan, kini, di Museum Militer di Bukares, terpasang selembar bendera yang dibawa 30 pemuda di hari bersejarah di Timisoara: bendera yang bolong.
Tapi bolong itu bukanlah sesuatu yang hampa: ia justru melambangkan harapan dan juga rasa tak puas yang begitu luas dan meluap-luap, hingga apa yang simbolik tak menampungnya lagi. Saya teringat yang dikatakan Slavoj Zizek dalam Tarrying with the Negative tentang lambang pembangkangan rakyat Rumania itu: ”Antusiasme yang menggerakkan mereka secara harfiah adalah antusiasme terhadap lubang ini.” Sebab lubang itu belum diisi oleh agenda politik apa pun, belum direbut maknanya oleh proyek ideologis yang mana pun. Kita ingat: kemarahan yang bermula dari terusirnya seorang pendeta Protestan juga akhirnya menjalar menemukan tempat perlawanannya di katedral Gereja Ortodoks. Protes yang berawal dari sekelompok jemaat, akhirnya jadi seruan, ”Bangunlah, Bangsa Rumania!”
Dengan kata lain, bolong itu mengisyaratkan bahwa harapan belum diringkas dan diberi bentuk oleh sebuah kerangka makna.
Perebutan untuk memberi kerangka makna kepada ”penanda yang kosong” itulah—jika kita pakai argumen Laclau yang terkenal—yang menggerakkan politik. Memang pada suatu tahap, akan ada yang memegang hegemoni, akan ada satu nama, satu identitas, yang punya kuasa dan wibawa buat jadi pengisi bolong itu. Tapi sejarah menunjukkan, politik tak akan berakhir. Hanya sebuah ilusi besar untuk mengira bahwa lubang itu akan lenyap. Kaum liberal atau kaum kiri, kaum sekuler atau kaum agama, mau tak mau harus menghadapi kenyataan bahwa mereka akhirnya tak akan mampu mewakili sepenuhnya harapan rakyat yang tak 100% terkatakan itu, yang dilambangkan dengan bagus di lembar bendera di museum di Bukares itu: ada identitas nasional yang diutarakan, tapi pada dirinya ada sebuah lubang.
Saya teringat akan bendera Merah Putih yang dikibarkan di Hotel ”Oranje” di Surabaya pada bulan September 1945: bendera itu juga lahir dari tindakan mencopot bagian yang tak dikehendaki dari tubuhnya. Tapi tak ada yang bolong yang menganga di sana. Identitas seakan-akan kian tegas: ini merah-putih, bukan merah-putih-biru.
Mungkinkah sebab itu revolusi Indonesia sering membuahkan salah sangka? Kita sering mengira kita adalah bangsa yang sudah jadi, lengkap, selesai mengartikulasikan diri—bahkan Muhammad Yamin pernah berteori bahwa Merah Putih sudah berumur 1.000 tahun sampai saat ia dikibarkan di abad ke-20.
Tapi sejarah Merah Putih di Surabaya itu bukanlah sejarah mengulang yang telah pasti dan ajek. Yang terjadi hari itu adalah tindakan kreatif yang berani—sebuah laku yang di tengah ketakpastian mengubah kondisi yang tersedia jadi sesuatu yang baru dan berarti. Seperti sepotong puisi.
Tapi kita tahu puisi tak henti-hentinya ditulis. Kata dan artikulasi yang siap kemarin tak lagi menampung getaran hati yang meluap hari ini. Maka klise pun ditanggalkan, percakapan kembali disegarkan—sebuah metafor lain bagi ikhtiar terus-menerus untuk ”mengisi kemerdekaan”.
~Majalah Tempo Edisi. 40/XXXVI/26 November - 02 Desember 2007~
Myanmar Oktober 1, 2007
Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Elegi, Fasisme, Identitas.
27 comments
Kau benar, Suu Kyi: keberanian bisa menular. Ia juga bisa menyentuh. Dunia kini tengah menyaksikan dengan kagum deretan 10 ribu biarawan dan biarawati berjubah merah berbaris dari Pagoda Shwegadon, menapak jalan-jalan kota Yangoon. Telah sepuluh hari lamanya mereka utarakan apa yang selama ini telah kau utarakan, mereka ucapkan apa yang selama ini dibisukan: pemerintahan militer tak bisa diterima! Myanmar tak bisa ditindas!
Mereka juga datang memasuki Avenue Universitas, mendekat ke rumah tempat kau ditahan selama sebelas tahun. Seratus orang polisi mencegah. Para biarawan itu mundur. Tapi akhirnya ada yang juga mendekat. Orang-orang melihat kau muncul di jendela. Kau melambai, menyambut mereka—dengan mata basah.
Aku ingin sekali berada di jalan itu, Suu Kyi. Tiap keberanian untuk keadilan adalah cercah harapan—benda langka di zaman yang sinis. Seperti berkah yang hilang, seperti wahyu yang selalu tertunda. Tapi keberanian, biarpun sejenak, bisa menular, kau pernah bilang. Aku tak heran ketika Aung Way, sang penyair, kemarin berkata, ”Besok banyak lagi yang akan serta!”
Hari ini, ada yang dihalau dari Myanmar. Tak akan banyak lagi yang akan bilang: ”Kita semua hanya memikirkan diri sendiri.” Kau pernah katakan, rasa takut itu mengkorup jiwa, tapi ada yang lebih jahat ketimbang itu, Suu Kyi: ketakpercayaan kepada yang baik dalam diri sesama. Sinisme itulah yang membinasakan kita.
Memang, orang bilang, sejarah tak selamanya dibikin dari optimisme. Sebab itu aku tak akan bicara tentang itu. Tapi jelas: kelaliman, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dirasakan luas adalah sebuah kehilangan yang menusuk hati. Dari liang luka itulah keadilan disebut sebagai hasrat yang kuat dan kebebasan jadi pekik yang keras. Tanpa seorang pintar pun yang mendefinisikannya.
Kau pasti tahu, dari pengalamanmu, sebuah rezim tak dengan sendirinya rubuh di depan pekik itu. Tapi para jenderal itu—dengan seragam mereka yang wagu tapi yakin—kini tak bisa lagi mengatakan, ”Hai, kalian tak mewakili bangsa ini! Kamilah yang mewujudkannya!” Kini ribuan jubah merah yang bergerak itu adalah tanda kesekian dari zaman yang bergerak, dengan suara yang menggugat: ”Tuan-tuan tidak mewakili kami! Burma telah jadi sebuah jurang!”
Tapi tentu saja Myanmar bukan sebuah jurang yang walau dalam tak punya udara lepas. Sebab bukan hanya protes seperti itu yang kini jadi berarti, Suu Kyi. Di bawah teror bahasa yang selama 45 tahun dikuasai koran resmi yang buruk, ucapan kecil, ungkapan lucu, saling tatap yang muram, bahkan senyum dikulum—semuanya jadi bagian dari penolakan. Karena tiap frase di Myanmar kini adalah klise, karena tiap klise adalah represi, dan tiap represi membuat gagu. Yang ajaib ialah bahwa gagu itu menjalar tak sepihak. Para jenderal di podium itu ikut terkena: bahasa mereka tak berbunyi lagi.
Aku ingat Zagana, komedian kota Yangoon yang selama ini dibiarkan oleh rezim karena cemoohnya dianggap tak berbahaya. Ia sebenarnya sudah lama membangkang, dengan ucapan-ucapan lucu, mengejek, yang pintar. Tapi kini ia lebih dari kocak. Aku dengar ia bilang akan menyediakan makanan dan minuman bagi para pemrotes. Itu bukan isyarat sepele—sebab tentara telah menembak sembilan orang mati, ratusan biarawan disekap, beberapa biara dikepung, dan jam malam diumumkan.
Beberapa bulan yang lalu, di puncak Bukit Mandalay, di balustrada yang memanjang dari patung perak Sang Buddha, biarawan muda yang aku belum berani sebut namanya itu menunjuk jauh ke bawah. Lihat deretan bangunan kuning itu, katanya. Penjara Myinchan. Dan aku tahu apa maksudnya.
Burma sebuah penjara, ia seperti menirukan Hamlet yang menyimpan dendam. Tahun 1988, ia berbisik dalam bahasa Inggris yang bagus. Kami semua ingat 1988. Apa yang terjadi di tahun itu? Ia menjawab: 3.000 demonstran ditembak mati.
Dan dunia tak bisa berbuat banyak. Kau pasti cemas, Suu Kyi. Dunia selalu tak akan bisa berbuat apa-apa kecuali mengeluarkan kata-kata jika nanti lebih banyak orang ditembak. Indonesia, negeriku, yang pernah menumbangkan sebuah rezim yang mirip, mungkin juga akan tak malu untuk hanya diam—sebagaimana ia juga dulu tak malu-malu membiarkan kaum fasis itu masuk ASEAN. Dan kami, yang di kejauhan menyatakan simpati, yang menulis, membuat statemen, mengenakan baju merah mengikuti protes di Yangoon dan Mandalay, hanya bisa sebatas ini.
Tapi keberanian tak hanya menular, Suu Kyi. Keberanian membangun sesuatu ke dalam diri. Hari-hari ini protes mungkin akan gagal. Tapi bangunan batin itu akan bisa tetap, mungkin makin meluas dalam mengalahkan ketakutan, mengusir sinisme. Mudah-mudahan ia akan lebih bertahan ketimbang sebuah rezim—biarpun begitu banyak kekecewaan dalam sejarah. Sebab Myanmar telah punya sebuah tauladan: engkau. Sebab sejak hari ini tiap pagi harapan memanjat naik, biarpun pelan, lebih tinggi ketimbang 1.000 pagoda.
~Majalah Tempo Edisi. 32/XXXVI/01 - 7 Oktober 2007
jump to navigation
Logos September 25, 2006
Posted by anick in Agama, Multikulturalisme, Sastra.
add a comment
Pada mulanya logos. Kemudian keraguan.
Adapun logos, menurut para pakar, berasal dari kata Yunani legein, ”menghimpun”. Tapi kita akan terkecoh bila menyangka kata dari zaman kuno itu tak berkait dengan rasionalitas.
Ketika dalam puisi Illiad Homeros menggunakan kata kerja yang akarnya sama dengan logos untuk menggambarkan laku menghimpun senjata, baju zirah, roti, dan lain-lain, di sana telah tersirat penyusunan kategori—se¬suatu yang kemudian kita kenali dalam katalogus. Yang termasuk ”senjata” punya anasir yang berbeda dengan ”makanan”. Ada proses abstraksi yang membentuk konsep: ”panah” lain dari ”lembing”, tapi keduanya dirumuskan sebagai senjata.
Logos pun berarti ”kata”, sesuatu yang merumuskan (dan juga memberi bentuk) benda atau laku yang beraneka ragam sebagai satu acuan. Logos pula yang menyusun alur dan struktur cerita dalam prosa, mengatur argumentasi dalam discourse.
Artinya, yang centang perenang diletakkan ke dalam sebuah tata. Keanekaragaman yang tampak sebagai chaos ditiadakan. Dari ”kekacauan” perbedaan itu ada yang bisa diidentifikasikan sebagai sejenis, digolongkan sebagai satu. Agaknya sebab itu Herakleitos mengatakan, siapa yang mendengarkan logos (yang universal) akan mengakui bahwa semua hal adalah satu.
Tapi ”satu” bisa palsu. ”Satu” juga bisa kaku. Ketika yang bhineka ditampilkan jadi eka, tidakkah keanekaragaman itu disembunyikan, atau abaikan, mungkin sejenak, mungkin pula terbungkam seterusnya? Sebuah tata atau ”order” bisa sangat represif. Bahkan undang-undang yang kita terima sebagai kemestian sosial juga mengandung sikap yang menekan dan mengetam: kita tahu ancaman penjara yang sama diberlakukan atas satu perbuatan yang mungkin sekali konteksnya tak sama.
Itu sebabnya hukum memerlukan hakim. Ia seorang yang diharapkan akan menimbang adilkah penyamaan itu, adakah yang ”logis” dengan sendirinya ”benar”. Hakim adalah unsur yang diperlukan untuk mempersoalkan sejauh mana undang-undang yang terpatri di kitab itu bisa diterapkan pada kejadian yang masing-masing sebenarnya unik, tak bisa dipatri. Hakimlah yang mesti bisa mengimbangi prinsip ekuivalensi—bahwa pelbagai hal perlu dianggap setara—dengan prinsip perbedaan—bahwa banyak hal niscaya berlainan.
Hakim, seorang manusia, adalah beda itu sendiri. Ia, juga aku dan engkau, tak mungkin sama sepenuhnya dan selama-lamanya. Siapa pun tak bisa diringkus dalam ¬esensi yang tunggal. Seorang buruh tak hanya seorang anggita ”kelas” proletar, tapi mungkin juga seorang istri yang ditindas suaminya yang juga buruh; atau ia seorang yang memiliki sepetak tanah, sebuah alat produksi.
Sejak menjelang akhir abad ke20, kian kuat desakan untuk mengakui bahwa ”satu” memang bisa palsu dan kaku. Logos digugat. Rasionalitas yang tersirat di dalamnya mulai dilihat sebagai alat untuk mengkotak-kotakkan, mengontrol dan menguasai dunia dan orang lain. Weber dengan muram menyebutnya sebagai ”nalar instrumental”, bagian dari modernitas yang akhirnya akan membawa manusia ke dalam ”kerangkeng besi”. Kaum feminis, seperti Hélène Sixous, melihat ada hubungan antara ”logosentrisme” dan kecenderungan patriarki yang menindas, dan sebab itu memperkenalkan kata ”phallogosentrisme”. Gilles Deleuze memuji karya termasyhur Marcel Proust, A la recherche du temps perdu, sebagai pembawa Antilogos: berbeda dari kecenderungan Yunani yang meletakkan tanda di bawah kendali logos dan membentuk sesuatu yang sebenarnya telah rusak karena dipermak, dalam novelnya Proust menghidupkan keragaman yang tak bisa diringkus ke dalam Kesatuan.
Salahkah Kesatuan? Mungkin tidak dengan sendirinya. Tapi Kesatuan bisa terasa sebagai horor di sebuah zaman yang telah menyaksikan ngerinya totalitarianisme Hitler, Stalin, dan Mao. Kesatuan bisa terasa sebagai palu godam yang menghantam mereka yang disingkirkan karena dianggap tak satu golong¬an, tak cocok untuk ”berSatu”: perempuan, orang hitam, orang ”kiri”, orang ”kanan”, gay, dan entah apa lagi.
Yang jarang diingat ialah bahwa Kesatuan itu tak sekadar hasil pemikiran metafisik. Ketika Kesatuan ditandai dengan satu bendera—”manusia”, ”Kristen”, ”Islam”, ”Barat”, ”Asia”—yang jarang ditanyakan ialah siapa yang memilih bendera itu dan memancangkannya. Kita lupa ada unsur proses kekuasaan di dalamnya, kita tak melihat ”the political” terpaut erat di situ. Kita tak selalu sadar bahwa tiap proses kekuasaan adalah bagian dari dunia yang tak kekal, terbatas, dan tergantung.
Memang ada yang merisaukan dalam pandangan yang menggugat Kesatuan itu, yang tak mengakui fondasi bersama manusia yang kekal dan dapat dijadikan pegangan semua. Ketika Paus dua pekan lalu mengingatkan bahwa ”pada mulanya adalah logos”, ia sebenarnya mengungkapkan sebuah peringatan dan kecemasan: bagaimana dialog antarmanusia mungkin, jika Kesatuan itu ditampik? Tidakkah ada sesuatu yang lain yang bukan ”mengkotakkotakkan” dan ”mengontrol”, dalam logos, ketika kita ”menghimpun”, legein—dan itu hanya bisa dimengerti bila logos, seperti dalam iman Kristen, juga diartikan Kasih Allah yang turun ke bumi?
Maka Paus pun menganjurkan perluasan makna kata Vernunft, (yang dalam bahasa Indonesia lebih dekat ke ”akal budi” ketimbang ”nalar” yang instrumental). Bukan penyempitan, apalagi penampikan.
Kita bisa memahami Paus di sini. Namun tentu saja jadi soal bila pada saat yang sama ”Eropa”lah yang dinilai mewakili ”akal budi” yang seperti itu. Di Indonesia kita tak perlu membaca kritik Adorno dan Horkheimer (dua pemikir yang pada suatu saat tersingkir dari Eropa) untuk melihat ”Eropa” juga bisa berarti penjajahan, ketika pada mulanya logos, kemudian kita tak bisa lolos.
~Majalah Tempo Edisi. 31/XXXV/25 September - 01 Oktober 2006~
Percakapan Ke-7 September 18, 2006
Posted by anick in Agama, All Posts, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Multikulturalisme, Tokoh.
4 comments
NASKAH itu berupa 26 percakapan yang dilupakan orang. Semuanya berlangsung menjelang akhir 1391. Waktu itu Bizantium belum jadi wilayah Turki, tapi penguasanya, Manuel II, harus merendah: ia masih disebut ”raja” atau ”Autokrator”, namun praktis ia cuma seorang vasal di bawah daulat sultan yang bertakhta di Anatolia.
Sejak 1379, Bizantium berdiri rapuh dan tergantung. Karena perselisihan takhta dengan adiknya, Manuel yang waktu itu berumur 29 minta proteksi dari Sultan Murad I. Mulai dari sinilah Bizantium harus bayar upeti dan ikut dalam aliansi militer dengan negeri tetangganya di Selat Bosporus itu. Manuel selalu siap patuh.
Pada tahun 1391 itu ia dititahkan ikut dalam peperangan di pantai Laut Hitam. Tapi agaknya di Ankara ia punya waktu untuk hal lain. Sejak Oktober sampai Desember ia berbincang dengan seorang ”kadi” kota itu. Dari sinilah–meskipun mungkin tukar-pikiran itu tak sepenuhnya terjadi–lahir naskah Dua Puluh Enam Dialog de¬ngan Seorang Parsi. Dokumen ini umumnya tak dite¬ngok lagisampai ketika Paus Benediktus XVI mengutipnya di sebuah ceramah di Universitas Regensburg, Jerman, pe¬kan lalu.
Saya tak pernah membaca sendiri tulisan Manuel II. Tapi saya tak akan heran jika di sana sikap anti-Islam bergema kuat. Sang Autokrator adalah ahli waris konflik dan kekalahan di hadapan kekuasaan Turki, nama yang waktu itu berarti ”Islam”. Ayahnya memerintah dalam situasi gawat setelah Daulat Usmaniah menaklukkan Macedonia dan Serbia pada tahun 1380-an; ia juga harus menghadapi usaha perebutan takhta di dalam negeri. Untuk mempertahankan ayahnya sebagai Raja Bizantium, Manuel menyediakan diri jadi vasal di istana Sultan. Ia siap menanggungkan pelbagai penghinaan. Ketika Sultan Bayazid I melarang tembok Kota Konstantinopel diper¬kuat, larangan itu disertai ancaman: jika konstruksi itu tak dihentikan, Manuel akan dibikin buta.
Manuel diam, tapi ia punya kesimpulan. ”Hanya mala dan sifat yang tak manusiawi,” kata Manuel tentang ajaran yang dibawa Muhammad, Rasul Allah di Mekah itu….
Sumber Manuel memang tak perlu jauh dicari: kitab ”Pembelaan Buat Iman Kristiani” [terhadap Islam] yang disusun kakeknya, Johanes Cantacuzenus, yang bertumpu pada polemik yang ditulis Bruder Ricoldo dari Montecroce (meninggal pada 1320), Confutatio Alchorani, risalah yang membantah Quran.
Tapi tiap polemik mengandung politik kutipan. Ketika Manuel mengutip surah Quran yang mengatakan ”Tak ada paksaan dalam agama”, ia katakan kalimat itu datang ketika posisi kaum muslimin lemah. Dengan kata lain, ia memberi konteks sejarah kepada teks. Tapi ke-sejarah-an itu tak dikemukakannya ketika dalam Percakapan Ke-7 ia menyebut teks lain, yakni perintah sang Rasul yang katanya ”menyebarkan iman dengan pedang”. Dengan kata lain, Manuel tak mencoba mencari latar historisnya ketika pedang, dan bukan tegur sapa yang baik, dianjurkan Nabi.
Islam hanya membawa ”mala dan sifat yang tak manusiawi”, kata Manuel. Tentu saja ini tipikal suara esensialis, yang menganggap tiap identitas ditentukan ”esensi” yang tak pernah berubah, dan yang tak mengakui bahwa tiap ”esensi” sebenarnya hasil bentukan wacana.
Seperti Manuel, Paus Benediktus juga seorang esensialis. Ia mengutip Theodore Khoury (editor penerbitan kembali Dua Puluh Enam Dialog), yang mengutip R. Arnaldez, ”pakar tentang Islam” dari Prancis, yang pada gilirannya mengutip Ibn Hazn, bahwa Tuhan tak pernah bisa dikekang bahkan oleh Sabda-Nya sendiri. Dalam pandangan ini, yang tampil adalah ”citra tentang Tuhan yang semau-maunya (Willkür-Gott), yang tak dibatasi kebenaran dan kebaikan.”
Harus dicatat, Paus tak menganggap itulah citra yang disiarkan Islam; ia hanya menyebut itulah pandangan Ibn Hazn. Lebih penting lagi, ia mengemukakan, dalam se¬jarah pemikiran Kristen ada Duns Scotus yang hidup pada abad ke-13, yang beranggapan mirip, bahwa kita hanya tahu voluntas ordinata Tuhan: di atas itu, sepenuhnya kemerdekaan. Tuhan dapat bertindak bertentangan bahkan dengan yang pernah dilakukan-Nya sendiri.
Sebenarnya tak hanya Ibn Hazn dan Duns Scotus. Tak disebutkan Paus adalah filosof ”okasionalis” Islam dan Kristen, seperti Al-Ghazali di Iran pada abad ke-11 dan Malebranche di Prancis abad ke-17. Bagi mereka ini, tiap perubahan dalam obyek dan pikiran adalah karena iradah Tuhan: ”kapas terbakar api bukan karena disulut geretan, tapi karena dibuat demikian oleh Allah”. Tak ada hubungan sebab-akibat seperti ditemukan ilmuwan dan disimpulkan mereka yang memakai nalar. Tuhan ada di atas akal budi.
Tapi bagi Benediktus, nalar adalah logos, kata Yunani yang juga berarti ”sabda” seperti terdapat dalam Kitab Kejadian. Maka nalar bertaut dengan iman. Manuel, kata Paus, sekadar mengatakan bahwa tak ada tindakan de¬ngan nalar yang bertentangan dengan Tuhan.
Di sinilah, menurut Paus, pertautan yang intrinsik antara Alkitab dan siasah Yunani. Buahnya mengubah duniadan terbentanglah fondasi yang disebut ”Eropa”.
Eropa? Tapi jika ”Eropa”, dengan unsur Yunaninya, sama dengan ”Kristen”, bagaimana si non-Eropa bisa percaya kasih Yesus? Bukankah ”fondasi” itu hanya konstruksi wacana, yang disusun untuk membedakan diri daridan menyingkirkanyang harus dibuang dibisukan, dulu Yahudi, kini imigran muslim?
Tampaknya tesis di kampus Regensburg itu hanya sebuah polemik: proses politik kutipan dan ingatan, ketika informasi A dicatat dan B disembunyikan.
Artinya polemik yang serupa juga bisa dilontarkan orang muslim, dengan menegaskan Islam-lah yang punya landasan rasional dalam iman, sebab Hadith mengatakan ”agama adalah akal”. Islam pula, dalam sosok Ibn Rushd, yang memperkenalkan alam pikiran Yunani ke Eropa.
Artinya agama lain bebal semata….
Dan soal agama dan kekerasan: bukankah yang tergurat jelas dalam sejarah Islam juga tergurat di masa silam Eropatapi dilupakan hari itu?
~Majalah Tempo Edisi. 30/XXXV/18 - 24 September 2006~
Dari Ambon dan Gedung Hangus Agustus 14, 2006
Posted by anick in Agama, All Posts, Bencana, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Multikulturalisme, Politik, Tuhan.
7 comments
Ambon masih dihuni gedung-gedung hangus. Di kiri-kanan jalan: reruntukan suram. Di kota Maluku ini orang masih bisa bicara dengan rinci tentang kebengisan panjang yang berawal pada tahun 1999 dan berakhir menjelang 2005 itu: rumah mereka yang hancur dibakar, gereja, masjid, dan universitas yang dibumihanguskan, bom yang dirakit dan diledakkan, speed boat yang diserang, preman dan laskar dari luar yang ikut menyulut kebencian, militer dan polisi yang menghasut, pengungsi yang mungkin tak kembali, ratusan saudara dan teman yang mati dibantai. Konflik antara penduduk muslim dan Kristen Maluku itu berakhir dengan sekitar 13 ribu orang tewas; bagaimana orang akan melupakannya?
Yang menakjubkan ialah bahwa pada bulan Juli 2006 itu kota dan penghuninya telah tampak kembali ramah dan dengan kehalusan yang khas, tak jarang riang—seperti laiknya orang Ambon. Kehidupan sedang pulih dan seakan-akan ada salam yang kemarin bungkam: bandara itu kelihatan baru dan lebih bagus ketimbang bandara Surakarta, lebih rapi ketimbang Surabaya. Di lobi Hotel ”Amans”, tempat para tamu bisa berhubungan dengan seluruh dunia melalui koneksi Internet wireless, hari itu orang menyambut gadis-gadis Maluku peserta kontes kecantikan. Dan jalan padat, dan pasar ramai.
Tentu saja saya amat sebentar singgah; saya hanya tamu. Saya tak akan tahu persis jika ada trauma, dendam, dan perpanjangan curiga yang menyelinap di lorong-lorong. Namun, rasanya ada yang meyakinkan bila di sepanjang trotoar yang sesak lagu-lagu Maluku populer mengalun keras dari kedai-kedai CD, perempuan dengan atau tanpa jilbab duduk bercengkerama di warung-warung rujak orang Kristen di sepanjang pantai, dan pada hari kapal Lambelu merapat, pelabuhan hibuk oleh pelbagai manusia. Di kakilima di seberang kantor Firma Abdullah Alie (famili Alie adalah salah satu dari keluarga keturunan Cina muslim yang hidup di Maluku mungkin sejak abad ke-19) ada penjual koran; di kiosnya tampak majalah Playboy terbaru dipajang. Agak jauh dari sana, Pasar Mardika penuh dengan warna: deretan tomat merekah merah, jeruk purut berbutir-butir hijau, sagu di kantong plastik yang kuning, daging ikan asap secokelat kayu manis.
Di perjalanan sepanjang teluk saya dengar seorang sopir berkata: ”Kita orang bodoh, mau dibikin baku bunuh.” Ia tentu saja bicara tentang perang saudara yang mengerikan itu.
Ia agaknya tahu sebagaimana dunia tahu, di sini Tuhan pernah disebut di kedua kubu dengan keyakinan yang berlumuran darah, untuk sebab yang tak jelas, mungkin bagian dari cara orang di lapisan atas menegakkan posisi, mungkin karena sejumlah preman memperebutkan lahan pemerasan. Saya tak pasti bersedihkah sopir itu atau mencemooh. Tapi pada akhirnya terucap kesadaran itu—atau mungkin rasa letih yang tak bisa lagi jadi kemarahan. Kini orang kembali hidup dari tepi jalan bersama: di perdagangan kecil, di percakapan kecil, di perbuatan praktis dan persahabatan yang belum sepenuhnya hancur. Mereka menambal dan menyulam hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka.
Saya jatuh hati kepada kota ini. Tapi bukan semata-mata karena ia dirias pohon hijau, didampingi teluk, dilengkapi bukit.
…no one exists alone;
Hunger allows no choice
To the citizen or the police;
We must love one another or die.
— W.H. Auden

Ada sesuatu yang akhirnya bersuara dari dalam tragedi itu, ”Kita mesti saling mencintai, atau mati.”
”Cinta” mungkin kata yang terlampau menggelembung. Tapi apa pilihan sebaliknya dari ”mati”?
Sajak Auden itu, September 1, 1939, ditulis di sebuah sudut di 42nd Street di New York, ketika dunia dihantui sebuah perang besar. Kini baiklah kita bayangkan sang penyair tak berada di New York, tapi di Ambon—atau di sebuah sudut Indonesia—ketika Republik terancam ambruk oleh perang-perang saudara lokal seperti yang terjadi di Maluku itu. Ia mungkin akan juga merasa bahwa ”harapan-harapan yang pintar habis”. Ia mungkin akan sadar tentang ”sebuah dasawarsa yang culas dan nista”, ketika gelombang marah dan ketakutan berpusar, ketika ”bau kematian yang tak bisa diucapkan” mengusik malam.
Tapi, seperti halnya di Ambon, hidup bisa menebus dirinya sendiri: selalu ada sebuah alternatif yang bisa dibangun ketika ”harapan-harapan yang pintar habis”. Di akhir sajaknya Auden bertanya: bolehkah ia, seperti mereka yang lain, yang terbentuk dari ”cinta dan debu”, yang dikepung oleh putus-asa yang sama, menunjukkan ada cahaya yang meneguhkan? Pertanyaan itu memang ragu atau rendah hati. Tapi harapan bukan sesuatu yang mustahil. Sajak itu menyebut cercah sinar yang ironis (”ironic flash of lights”) yang tampak bagai titik-titik dalam gelap, tatkala malam tak menawarkan perlindungan.
Kata ”ironi” penting di situ. Konon kata ini datang dari bahasa Yunani, eirôneia, yang berarti ”sikap berpura-pura tak tahu”. Di dalamnya ada jarak, bahkan langkah berbalik membelakangi sikap ”aku-tahu” yang yakin.
Auden menulis sajak itu pada sebuah masa ketika ”pencakar-pencakar langit yang buta” berdiri tegak dan dengan tubuh jangkung mereka memaklumkan ”kekuatan Manusia Kolektif”.
…blind skyscrapers use
Their full height to proclaim
The strength of Collective Man,
Itulah masa ketika pelbagai paham totaliter berkibar-kibar. Itulah masa ketika tiap bahasa memuntahkan dalih yang angkuh dan penuh persaingan. Seperti di zaman ini: ketika ”manusia kolektif” digalakkan oleh menara-menara pengeras suara, ketika agama yang seharusnya menumbuhkan kerendah-hatian justru jadi dalih bagi sikap ”aku-yang-tahu-dan-benar-dan-suci”, ketika iman berangsur-angsur berubah jadi identitas sosial dan ”umat”—sebuah sosok manusia kolektif—jadi demikian penting, lebih penting ketimbang kebenaran.
Ironi menunjukkan, sebenarnya ada yang tak pas dalam posisi seperti itu. Dengan mengambil jarak, kita akan menemukan bahwa tiap identitas sosial sebenarnya tak pernah siap dirumuskan. ”Umat Islam” atau ”umat Kristen” dapat berarti macam-macam, sebab di dalamnya ada perbedaan-perbedaan yang tak hendak diakui. Di dalam tiap pembentukan identitas sosial, juga ketika kita bicara ”umat”, sebenarnya terkandung represi.
Kekerasan sudah berbenih sejak represi itu: pada gilirannya, yang dianggap tak sesuai dengan ”kami” yang kolektif akan dilenyapkan. Di Ambon, 27 April 2001, Radio ”Suara Perjuangan Muslim Maluku” dikutip menyiarkan peringatan ini: ”Jika masih terdapatlah di antara orang muslim yang ingin berbicara tentang rekonsiliasi, bunuhlah dia!” Di wilayah Kudamati, dua kelompok Kristen saling bermusuhan, saling menyerang, dan rumah-rumah dibakar.
Mungkin itu sebabnya tiap identitas sosial mengandung luka, dan sebab itu retak. Bahkan identitas itu dicoba dibentuk justru karena retakan-retakan itu. Pada saat yang sama, ia merumuskan diri atau dirumuskan, menamai diri atau dinamai, oleh sebuah bahasa—yakni bahasa yang tak ia bangun sendirian. Ia memasuki sebuah konvensi. Ia pun bergabung ke dalam sebuah sistem; sebenarnya ia hanya sebuah penanda. Tak ada yang secara utuh dan tetap hadir sebagai sesuatu yang ditandainya (apa sebenarnya yang disebut ”umat”?). Maknanya hanya muncul ketika ia disandingkan dengan identitas sosial lain dan diberi batas oleh identitas lain itu. Ia berbeda, tentu, dari yang-lain, tapi karena berada dalam sebuah sistem pemaknaan, ia tak sepenuhnya tertutup; ia tak secara radikal berbeda dari yang-lain. Bagaimana mungkin ia bisa meniadakan yang-lain?
”Kita mesti saling mencintai, atau mati,” tulis Auden.
Mungkin ”mencintai” bukan kata yang menggelembung. ”Mencintai” berarti terpesona kepada yang-beda, menyentuh apa yang terbatas dalam diri sendiri pada saat bersua dengan yang-lain, dan sadar bahwa bahasa tak bisa menangkap apa yang ada dalam diriku dan yang-lain itu. Dalam kalimat Auden, ”Each language pours its vain, competitive excuse.”
”Mencintai” adalah sebuah laku sederhana.
***
Saya pernah menempuh laut dari Pulau Buru ke Ambon di atas sebuah kapal kecil yang disebut Landing Craft Material pada tahun 1969. Ombak mengguncang hampir selama 11 jam di dek sempit yang pengap bau minyak kayuputih. Pada akhir Juli 2006 saya kembali menempuh laut itu, dengan ”kapal cepat” yang lancar selama sekitar tiga jam.
Rantau hampir tak pernah tak terjangkau. Berada di Maluku kita akan menyadari itu dan menyadari apa arti rantau: tempat yang jauh dari rumah, tapi tak sama sekali asing. Bahasa Melayu menyebut negeri lain sebagai ”seberang”.
Dengan demikian laut mempunyai dua sisi yang bertentangan, tapi juga bertaut: sebuah pemisah dan juga perangkai, sebuah antara dan sebuah lokus tersendiri. Ia penuh suspens, ia memukau.
Dalam salah satu puisinya yang terkenal, Cerita Buat Dien Tamaela, Chairil Anwar menghadirkan satu suara sosok mithologis dari Maluku—kita tak tahu persisnya dari mana—yang menyebut diri, ”Beta Pattirajawane”. Suaranya gemuruh; ia dengan agung memaklumkan, bahwa ketika ia lahir, orang membawakan kepadanya ”dayung dan sampan”. Dan ia pun mengajak:
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Dengan kata lain, laut menandai petualangan yang gairah, kebebasan untuk lupa, kepergian dari rumah. Terkadang laut adalah zona di antara rumah dan rantau, sebuah transito. Terkadang ia rantau itu sendiri. Laut tak pernah kosong: ia sumber hidup dan perangkai perniagaan, perang, pengungsian, dan peradaban.
Dengan itulah terjadi sebuah rumah baru, rumah bukan sebagai tempat asal yang tertutup, melainkan yang tumbuh justru karena pertemuan dengan yang-beda dan tak disangka-sangka. Saya ingat apa yang dikatakan Heidegger (yang berbicara tentang arus Sungai Danube yang disebut dalam sajak Hölderlein, der Ister): ”Pulang…adalah sebuah transit melalui ke-berbeda-an”.
Mungkin itulah Indonesia, mungkin itulah takdirnya: tempat kita pulang, juga serangkaian rantau, sebuah tempat yang dijelang tapi juga rumah yang meriah dan rumit dalam kebhinekaan.

Jakarta, 8 Agustus 2006.
~Majalah Tempo Edisi. 25, 14 - 20 Agustus 2006
Catatan Pinggir
Bahasa | Rasa | Makna
• Awal
• tentang blog ini
• tentang GM
• tentang caping
• galeri buku GM
• index
• kliping
jump to navigation
Mak Mei 5, 2008
Posted by anick in All Posts, Buku, Kisah, Novel, Sastra.
2 comments
Pada suatu peringatan 1 Mei, sejumlah buruh ditangkap, termasuk Pavel—dan Maksim Gorky menulis novel Mat’. Pramoedya Ananta Toer menerjemahkannya dengan Ibunda. Saya kira kata yang lebih cocok adalah ”Mak”.
”Ibunda” memang mengandung rasa hormat dan hangat, dan tokoh novel ini, Pelagedia Nilovna, perempuan yang mendampingi anaknya dalam perjuangan buruh itu, patut disebut dengan sungkan dan sekaligus mesra, bak Maria yang melahirkan Yesus. Tapi, dalam bahasa Melayu, ”ibunda” adalah kata panggilan di kalangan atas. Panggilan ”mak” lebih lazim di lapisan rendah masyarakat.
Namun Pramoedya tak sepenuhnya keliru. Pilihan judul itu mencerminkan paradoks karya sastra yang hendak mengobarkan semangat perjuangan: menyatakan diri bagian dari ”realisme” tapi condong ke arah mitologi.
Tokoh Mat’ didasarkan pada kisah nyata Anna Zalomova yang berjalan ke mana-mana menyebarkan pamflet revolusi setelah anaknya ditahan polisi dalam sebuah aksi massa. Tapi, dalam novel ini, sang ibu—dengan iman Kristennya yang masih utuh, dengan cintanya kepada Pavel, sang anak yang berubah dari si bandel jadi pejuang buruh—senantiasa hadir sebagai bayang-bayang sang suci; si mak terasa lebih agung ketimbang manusia sehari-hari.
Di bab terakhir ucapannya fasih-lidah kepada orang ramai, ketika polisi mulai mengepung:
”Untuk mengubah hidup ini, untuk membebaskan semua, membangunkannya dari kematian, sebagaimana aku dibangunkan, beberapa orang telah datang, mereka yang secara bersembunyi-sembunyi telah menyaksikan kebenaran dalam hidup. Bersembunyi-sembunyi, sebab, kalian tahu, tak seorang pun dapat mengucapkan kebenaran itu dengan lantang. … Sejauh ini kebenaran adalah musuh bebuyutan dari si kaya, musuh yang tak akan dapat diajak damai selama-lamanya! Anak-anak kita tengah membawa kebenaran ke dunia.…”
Rangkaian kalimat itu mirip khotbah seorang nabi di depan kenisah: kata ”kebenaran” disebut berkali-kali. Dan ketika akhirnya polisi menyerbu, Pelagedia Nilovna tak berhenti. Perempuan ini seakan-akan martir yang tak bisa luka.
Pendek kata, ia tokoh ideal; ia lahir dengan takdir yang didesain sang pengarang. Mungkin itu sebabnya novel ini tak punya banyak kelok yang rumit tak disangka-sangka. Sekali kita tahu pesan yang hendak disampaikan Gorky, kita segera temukan garis lurus antara bab pertama yang melukiskan kehidupan kumuh kaum proletar dan bagian akhir yang menunjukkan kegagahberanian.
Mungkin itu pula sebabnya novel yang begitu menggugah ketika dibaca di awal abad ke-20 di Rusia, di awal abad ke-21 ini akan disambut dengan satu tarikan napas: tak ada yang baru di situ.
Zaman memang tak seperti dulu. Kini mitos kian goyah, realisme problematis. Kini manusia adalah ”orang”, makhluk yang lebih mengasyikkan tapi juga menjengkelkan. Lebih dari satu dasawarsa setelah Gorky menuliskan novelnya, Freud menunjukkan bahwa kita semua (juga para nabi dan pahlawan) punya bawah-sadar yang penuh nafsu, naluri, dan hasrat kenikmatan. Kini kita lebih skeptis memandang pokok & tokoh.
Dan apa arti ”realisme”, jika ”realitas” kian disadari sebagai dunia hasil konstruksi yang didukung bahasa sendiri?
Dalam Bab XIX, Pavel, buruh muda yang akhirnya jadi kebanggaan maknya, berdiri di samping bendera merah yang berkibar: ”Kawan semua! Kita telah putuskan untuk menyatakan secara terbuka siapa kita; kita junjung bendera kita hari ini, bendera nalar, kebenaran, kebebasan!”
Begitu meyakinkankah ”nalar”?
”Hidup rakyat pekerja!” Pavel berseru pula, dan ratusan suara menyahut, ”Hidup Partai Pekerja Sosial Demokrasi, partai kita… ibu rohani kita.”
Bagaimana mungkin Partai jadi ”ibu rohani”?
Menjelang Revolusi Oktober 1917, ”nalar” dan partai sebagai ”ibu rohani” adalah bagian dari iman gerakan Bolsyewik. Tapi, September 1980, kaum buruh Polandia mengibarkan gerakan mereka, Solidarnosc, yang menentang Partai Komunis yang berkuasa atas nama proletariat. Kita pun diingatkan kembali: kaum pekerja lahir dari kerja—bukan dari ideologi. Ideologi adalah hasil dari ”nalar”. Kaum pekerja tumbuh dari bawah, dari otot dan peluh, sedangkan Partai, ”sang ibu rohani”, akhirnya tak bersentuhan dengan otot dan peluh, elemen jasmani para proletar.
Bahkan sang buruh, yang bukan mitos, tak selamanya ingin menghabisi kapitalisme. Di Indonesia, ada yang lebih menderita: para penganggur, yang tiap kali buruh memperoleh upah minimum yang lebih tinggi, tiap kali pula para tunakarya itu kehilangan kesempatan kerja.
Tapi Gorky bisa dimaafkan. Pada tahun 1907, ketika Mat’ terbit, Partai, ”si ibu rohani”, belum berkuasa dan berubah jadi Bapak yang streng. Baru pada 1918, setelah majalahnya, Novaya Zhin, diberangus Partai, Gorky tahu apa yang ia hadapi; ia menulis sebuah buku yang kritis—yang baru bisa diterbitkan di Rusia setelah Uni Soviet runtuh.
Tapi mengherankan, hari-hari itu bahkan Gorky tak mengingat Engels (dalam Anti-Dühring) yang menunjukkan pentingnya elemen jasmani dalam kerja dan sejarah.
”Kerja”, bukan ”karya”, berasal dari badan yang tegak, ketika manusia tak lagi menggunakan tangannya untuk merangkak. Tangan yang bebas itulah yang membentuk kerja: menenun dan meniup serunai, menulis alkisah dan Alkitab. Otak pun berkembang amat jauh, hingga ”nalar” seakan-akan lepas dari jasmani.
Yang jasmani memang tak kekal dan tak pasti. Mungkin itu sebabnya dalam novel ini Si Rus Kecil berseru: ”Kawan-kawan! Kita telah memulai sebuah prosesi suci atas nama Tuhan yang baru, Tuhan Kebenaran dan Cahaya, Tuhan Nalar dan Kebaikan!”
Jangan-jangan ini nostalgia tubuh kepada ”roh”, agama yang ngumpet di balik ”materialisme dialektik”, mitologi yang berbaju ”realisme”. Tak aneh jika para pejuang sering lupa: yang merasa benar dan kekal akan terasing dari sejarah.
~Majalah Tempo Edisi. 11/XXXVII/05 - 11 Mei 2008~
Hoppla! April 21, 2008
Posted by anick in Sastra, Tokoh.
5 comments
… Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam.
Hari-hari ini, ketika ada rasa cemas bila puisi jadi suara yang tak taat dan seni tak alim, saya ingin mengingat Chairil Anwar. Ia meninggal, mati muda, 28 April 1949. Bagian penting dari 27 tahun dalam hidupnya intens, bergairah, gemuruh, dan khaotis.
Ada satu kalimat goresannya sendiri yang tertulis di secarik kertas:
…wijsheid + inzicht tidak cukup, musti stimulerende kracht + enthousiasme.
Chairil tak ingin cuma punya kearifan dan wawasan. Baginya manusia perlu ”daya rangsang” dan antusiasme.
Dalam sebuah pidato pada 1943 Chairil mendahului paragraf pertamanya dengan sebuah sajak:
Mari berdiri merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Kehendak menggugah (me-”rentak” dan mem-”bentak”) itu bagian dari yang disebutnya sebagai ”vitaliteit” atau ”tenaga hidup”. Dalam seni, menurut Chairil, ”tenaga hidup” itu selalu muncul sebelum keindahan, berupa ”chaotisch voorstadium”, tahap pendahulu yang galau, yang khaotis.
Kreativitas memang diawali rasa gelisah mencari, kegalauan ingin menemukan, juga niat merombak. Sesuatu yang destruktif tersirat di dalamnya. Seorang ”pujangga”, kata Chairil (pada 1943 itu ia masih menyebut sastrawan demikian) tak gentar akan apa pun. ”Pohon-pohon beringin keramat” ia panjat. Bahkan ia akan ”memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu…”.
Inilah statemen Chairil: ”Aku berani memasuki rumah suci hingga ruang tengah! Tidak tinggal di pekarangan saja.”
Dengan keberanian menerobos itu ia pun mempertanyakan—bahkan sedikit mencemooh—ajaran agama.
Kita ingat sajak Sorga. Sang penyair mula-mula mengikuti tradisi orang tua: ia berdoa agar masuk surga. Sebab, ”kata Masyumi + Muhammadiyah”, surga itu ”bersungai susu” dan bertaburan beribu-ribu bidadari. Tapi dalam diri sang penyair ada suara yang ”nekat mencemooh”: benarkah dengan demikian surga lebih asyik ketimbang dunia? Tidakkah kehidupan yang berlimpah itu justru membuat manusia kehilangan gairah seperti ketika pelaut melihat ”gamitan dari tiap pelabuhan”?
Dalam pertanyaan itu, Tuhan praktis ”mati”: tak ada lagi satu sumber yang diakui sebagai maha-penjamin segalanya, juga hal yang paling ganjil.
Atau Tuhan telah redup: ”caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi”, demikian kita temukan dalam sajak Doa. Atau Tuhan jadi penyebab tamatnya pengembaraan: sang kelana tak lagi menemui dunia dengan takjub dan cemas seperti di sebuah negeri asing. ”Aku mengembara di negeri asing,” kata Chairil. Tapi kemudian, ketika ”di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.”
Dengan kata lain, setelah pintu itu, ”tenaga hidup” kehilangan rangsang untuk mencari, untuk gelisah, untuk berbeda. Tiap kekuasaan yang mengontrol cenderung membuat hidup terbatas pada yang hadir dan dikenali, berpegang pada satu ensiklopedia yang sudah tersusun rapi. Dengan demikian, pintu ditutup bagi kebenaran yang tak terduga-duga.
Tapi bisakah pengembaraan yang membuka diri bagi yang tak pernah dikenal itu dihabisi? Dalam adaptasinya atas sajak Hsu-Chih Mo (1897-1931), A Song of the Sea, Chairil menghadirkan seorang dara yang sendiri, ”berani mengembara/Mencari di pantai senja”. Ketika si gadis diseru agar pulang, ia menolak:
”Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”
Penolakan itu menegaskan kebebasan. Tak mengherankan bila Chairil menyambut jatuhnya kekuasaan Jepang dengan teriakan, ”Hoppla!” Di bawah fasisme Jepang, yang tumbuh adalah ”kebudayaan paksaan.” Diawasi oleh sensor dan doktrin, sastra dan seni harus mengikuti arahan tertentu. Pada masa pendudukan Jepang, yang harus dipatuhi adalah ”garis-garis Asia Raya”, seruan agar rakyat menanam pohon jarak, melipatgandakan panen, menabung, bikin kapal…. Banyak seniman yang patuh. Bagi Chairil, mereka telah ”mendurhaka kepada Kata”.
”Kata” dalam pengertian Chairil bukanlah Logos. ”Kata” tak dibentuk oleh aku-yang-berpikir, tapi aku-yang-ada-di-dunia. Dalam pemikiran Chairil, ”Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta, dan dendam.”
Artinya ”Kata” praktis sama dengan ”hidup”. Maka ia tak bisa diperbudak; ia bebas-lepas. Tapi hidup juga selamanya riskan, bisa tak disangka-sangka, bisa gelap. Manusia dan ”Kata”-nya bukanlah makhluk yang transparan, lurus, dan koheren. Dalam satu coretan pendeknya yang dikutip H.B. Jassin dalam Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45, Chairil menyebut bahwa dalam diri manusia ada ”gedong besar dan gelap tempat jiwa kita yang sejati bersembunyi.”
Itu sebabnya ”Kata” atau ”hidup” punya sifatnya yang tak cerah, bahkan tragis. Dalam sajak Chairil yang terkenal, Aku, kita dapatkan manusia yang terbuang dan luka. Ia berlari, kesakitan, berteriak, ”aku ingin hidup 1000 tahun lagi”, tapi keinginan itu justru menunjukkan kekurangannya. Ia fana. Ia terbatas.
Mungkin itu sebabnya sajak Hsu-Chih Mo oleh Chairil diberi judul Datang Dara, Hilang Dara. Di balik kehadiran itu ada ketiadaan. Di akhir sajak, terdengar suara yang memanggil si dara dari tepi laut yang hampir gelap itu. Tapi ternyata
Di pantai, di senja, tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak….
Sang penyair mengakui yang ganjil, yang misterius, dan tak terpahami di luar sana. Puisi jadi berarti bukan karena menjejalkan isi, melainkan karena menemui sebuah pantai senja yang kehilangan. ”Aku…,” kata Chairil kepada Ida [Nasution?], ”bukan pendeta atau kiai tentang sesuatu.”
Sajak-sajak Chairil terus-menerus mempesona kita justru karena itu.
~Majalah Tempo Edisi. 37/IX/21 - 27 April 2008~
Melayu Maret 17, 2008
Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Nasionalisme, Sastra.
7 comments
Begitu banyak salah paham tentang Amir Hamzah. Penyair ini dibunuh dalam sebuah pergolakan sosial di Sumatera Utara pada tahun 1946, tak lama setelah Indonesia diproklamasikan. Kekuasaan Belanda dan Jepang dinyatakan habis, tapi ”negara” dalam republik yang masih beberapa bulan umurnya itu belum tersusun. Mesin kekuasaan belum berjalan ketika euforia ”kerakyatan” meletup di mana-mana. Kata ”Revolusi” (dengan ”R”) diarak. Itu berarti seluruh tata yang lama harus dihancurkan, meskipun tak selalu jelas apa yang akan menggantikannya.
Amir Hamzah adalah anggota keluarga Sultan Langkat. Dengan demikian ia berasal dari kelas feodal, bagian masa lalu yang dibenci, meskipun tak pernah tercatat bahwa Amir—yang menghabiskan waktu mudanya bukan di istana, melainkan di sekolah-sekolah di Jawa—melakukan sesuatu yang tak dapat dimaafkan.
Dunia hanya mengenalnya sebagai seorang yang menulis sajak yang menyentuh hati sampai hari ini. Karya-karyanya adalah serangkaian ekspresi yang merupakan bagian dari ”puisi baru” Indonesia, dan memang demikian. Amir tak ingin sepenuhnya lepas dari ungkapan Melayu klasik, tapi banyak kata bentukannya yang datang dari gramatika Jawa. Dalam sebuah sajak yang indah—gabungan ironi dan kesedihan—ia menyebut diri ”beta, bujang Melayu”, tapi seluruh kumpulan puisinya, Buah Rindu (yang ditulis pada 1928-35), ia persembahkan kepada ”Paduka Indonesia Raya”, selain kepada ”ibu ratu” dan kepada seorang perempuan dengan nama ”Sendari”.
Tampak bahwa Amir Hamzah, seperti teman-teman segenerasinya, S. Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, yang aktif di sekitar majalah Poedjangga Baroe, melihat diri bagian dari generasi yang didera oleh masa depan. Mereka hendak menciptakan sesuatu yang baru dari sebuah kondisi terjajah, terkebelakang, terhina—sesuatu yang bukan lagi bisa disebut ”Jawa”, ”Melayu”, atau ”Ambon”.
Dalam arti itu, Amir Hamzah adalah sebuah fenomen ”pasca-Melayu”.
Jika kita perhatikan sajaknya yang terkenal itu, kata ”bujang Melayu” itu memang disebut bukan hendak membanggakan diri. Bahkan sebaliknya: kata itu sejajar dengan frase ”anak Langkat, musyafir lata,” bagian dari bait-bait yang murung:
Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.
Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.
Zaman memang telah berubah. Graham K. Brown, dalam telaahnya yang membandingkan terbentuknya identitas politik di Indonesia dan Malaysia (The Formation and Management of Political Identities: Indonesia and Malaysia Compared), mengutip catatan sejarah: pada masa kesultanan Malaka, ”Melayu” bukanlah identitas sebuah kelompok etnis, melainkan sebuah lapisan elite yang masih berhubungan darah dengan raja. Kitab Sejarah Melayu praktis berarti genealogi para sultan.
Tapi pada 1511 Malaka jatuh diserbu armada Portugis. Keluarga kerajaan melarikan diri ke Johor. Tak ada lagi pemegang hegemoni yang menentukan apa arti ”Melayu”. Kata itu akhirnya menyebar bersama diaspora para pedagang pasca-Malaka. ”Melayu” bukan lagi identitas yang menunjukkan lapisan sosial, melainkan sebuah ”identitas horizontal”. Nama itu jadi penanda dalam pengelompokan sosial yang berbeda-beda tapi setara—terutama dalam pandangan kekuasaan kolonial orang Eropa.
Kolonialisme memang tatapan yang membekukan si terjajah. Kolonialisme adalah garis ruang yang brutal—baik ruang dalam kehidupan sehari-hari maupun ruang dalam lajur daftar penduduk dan kitab hukum. Jakarta yang didirikan sebagai Batavia oleh VOC pada tahun 1650-an berkembang jadi kota yang terbangun oleh apartheid: di satu sisi dibatasi tembok tempat orang Belanda hidup, di sisi lain Ommelanden, tempat yang ”lain” diletakkan.
Dari pemisahan macam ini sang penjajah membangun identitas etnis untuk memudahkan kontrol dan pembagian kerja. Dengan itu juga berlangsung divide et impera. Dalam telaah Brown dikutip keputusan VOC di Cirebon, misalnya, untuk memperkukuh batas etnis agar bisa mengisolasi orang ”peranakan”, keturunan Cina yang semula hidup berbaur sebagai penasihat politik sultan. Dengan itu, kompeni bisa memperlemah posisi kedua-duanya.
Maka tak mengherankan bila pembebasan dari kolonialisme bertaut dengan kehendak melepaskan diri dari tatapan yang membekukan itu. Amir Hamzah dan puisinya adalah bagian dari pembebasan itu: ia tak lagi bisa disebut ”Melayu”. Sejak tahun 1930-an, puisi Indonesia adalah puisi para ”musyafir lata,” para pejalan yang tak punya apa-apa selain kebebasannya dalam menjelajah. Indonesia lahir dari penjelajahan itu.
Sebab itulah nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang mengangkut milik yang diwariskan masa lalu, baik dalam wujud candi maupun ketentuan biologi. Mungkin itu sebabnya ”Indonesia” dan ke-”Indonesia”-an selalu terasa genting, tapi dengan itu justru punya makna yang tak mudah disepelekan.
Baru-baru ini saya dengar cerita sejarawan Taufik Abdullah ketika ia di Mekkah. Di kota suci itu seorang Malaysia bertanya kepadanya apakah ia orang ”Indon”—sebutan yang sering dipakai orang Malaysia untuk menyebut Indonesia. Taufik Abdullah marah. ”Jangan sebut ’Indon’,” katanya, ”tapi ’Indonesia’.”
Ia menjelaskan kenapa ia marah. ”Saya penelaah sejarah. Saya tahu nama ’Indonesia’ diperjuangkan dengan tidak main-main, sejak awal abad ke-20.”
Sungguh tak main-main: berapa puluh, berapa ratus, berapa ribu orang dipenjara dan mati untuk nama itu? Bisakah kita melupakannya?
Ada sebuah sajak Rivai Apin pada tahun 1949:
Ingatlah bila angin bangkit
Ingatlah bila angin bangkit
Bahwa daerah yang kita mimpikan
Telah bermayat, banyak bermayat
Sajak itu ditulis tiga tahun setelah Amir Hamzah dibunuh. Tampaknya memang hanya dengan tragedi kita tahu apa yang seharusnya kita hargai.
~Edisi. 04/XXXVII/17 - 23 Maret 2008
Di Zaman yang Meleset Nopember 24, 2008
KATA sebuah kisah, John Maynard Keynes pernah membuang sebakul handuk kamar mandi ke lantai di tengah sebuah pembicaraan yang serius. Orang-orang terkejut. Tapi begitulah agaknya ekonom termasyhur itu menjelaskan pesannya: Jangan takut berbuat drastis, untuk menciptakan keadaan di mana bertambah kebutuhan akan kerja. Dengan itu orang akan dapat nafkah dan perekonomian akan bisa bergerak.
Waktu itu Keynes sedang berceramah di Washington DC pada 1930-an. Krisis ekonomi yang bermula di Amerika Serikat pada 1929 telah menyebar ke seluruh dunia. ”Depresi Besar”—dengan suasana malaise—berkecamuk di mana-mana. Di Indonesia orang menyebutnya ”zaman meleset”.
Kata ”meleset” sebenarnya tak salah. Prediksi yang dibuat, juga oleh para pakar ekonomi, terbentur dengan kenyataan bahwa dasarnya sebenarnya guyah. ”Kenyataan yang sangat menonjol,” tulis Keynes, ”adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri, dengan berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu. Ilmu ekonomi, kata pengarang The General Theory of Employment, Interest, and Money yang terbit pada 1936 itu, hanyalah ”teknik yang cantik dan sopan” yang mencoba berurusan dengan masa kini, dengan menarik kesimpulan dari fakta bahwa kita sebetulnya tahu sedikit sekali tentang kelak.
Yang menarik di situ adalah pengakuan: manusia—juga para pakar—tak tahu banyak tentang perjalanan hidupnya sendiri. Kita ingat ucapan Keynes yang terkenal bahwa yang pasti tentang kelak adalah bahwa kita semua akan mati. Hidup dan sejarah, menurut Keynes, terdiri dari proses jangka pendek, short runs.
Ada seorang mantan redaktur The Times yang pernah menulis bahwa kesukaan Keynes akan jangka pendek hanya akibat ketakmampuannya menghargai nilai yang berlanjut beberapa generasi. Dan ini, kata penulis itu, disebabkan sifat seksualitasnya: Keynes seorang gay.
Memang benar, sejak muda, terutama ketika ia masih bersekolah di Eton, Keynes hanya berpacaran dengan sesama pria, meskipun ia kemudian menikah dengan Lydia Lopokova, balerina asal Rusia. Tapi tak jelas benarkah ada hubungan antara tendensi seksual itu dan teori ekonominya—yang sebenarnya juga sebuah teori tentang manusia.
Manusia adalah makhluk yang bisa meleset dalam memperkirakan, tapi dalam teori Keynes, manusia bukan peran yang pasif. Sejak Adam Smith memperkenalkan pengertian tentang ”Tangan yang Tak Tampak”, yang mengatur permintaan dan penawaran, para ekonom cenderung memberikan peran yang begitu dominan kepada Sang Pasar. Tapi Keynes ragu.
Sejak 1907, sejak ia bekerja untuk urusan koloni Inggris terbesar, India, Keynes tak begitu percaya bahwa dengan mekanisme yang tak terlihat, pasar akan bisa memecahkan problemnya sendiri. Pasar, kata Keynes, ”akan tergantung oleh gelombang perasaan optimistis atau pesimistis, yang tak memakai nalar tapi sah juga ketika tak ada dasar yang solid untuk sebuah perhitungan yang masuk akal”.
Tapi kemampuan untuk bertindak ”tak memakai nalar” adalah satu sisi dari manusia. Sisi lain adalah kapasitasnya untuk mengendalikan pasar. Abad ke-20 bagi Keynes adalah ”era stabilisasi” yang mencoba mengganti ”anarki perekonomian” dengan pengarahan dan kontrol atas kekuatan-kekuatan ekonomi, agar tercapai keadilan dan stabilitas sosial. Keynes percaya: kekuatan politik, khususnya Negara, bisa berperan besar ke arah sebuah hasil yang positif, dan perencanaan ekonomi sedikit banyak diperlukan.
Adakah ia seorang ”etatis”? Saya pernah membaca seorang penulis yang menunjukkan bagaimana Keynes, dalam kata pengantar untuk terjemahan Jerman atas bukunya, The General Theory, menyatakan bahwa teorinya ”lebih mudah disesuaikan kepada kondisi sebuah negara totaliter”, ketimbang ke sebuah Negara yang pasarnya dibiarkan bebas, laissez faire. Ini karena, kata Keynes, dalam negara totaliter ”kepemimpinan nasional lebih mengemuka”.
Keynes memang menyaksikan bagaimana Jerman, di bawah Nazi, bisa mengelakkan empasan Depresi Besar. Tapi tentu berlebihan untuk menyimpulkan Keynes percaya akan sebuah sistem yang mengklaim punya jalan keluar yang benar selama-lamanya. Ketika para intelektual Inggris yang ”kekiri-kirian” pada mengagumi Uni Soviet dan Perencanaan Lima Tahun ala Stalin, Keynes tak ikut arus.
Suatu hari ia berkunjung ke Rusia dan bertemu dengan sanak keluarga istrinya di St. Petersburg. Mereka melarat dan menderita. Keynes melihat bagaimana ajaran Stalin gagal. Ajaran ini tak bisa dikritik, meskipun hanya ”sebuah buku teks yang sudah kedaluwarsa” tentang ekonomi.
Manusia adalah kecerdasan yang bisa mengatasi keterbatasan—seraya menyadari keterbatasan kecerdasan itu sendiri. Manusia bisa merancang dan mengendalikan pasar tapi juga ia bisa bikin rusak—dan kemudian bisa mengenal dan mengoreksi kesalahan dalam pengendalian itu. Ada kepercayaan diri yang luar biasa pada Keynes.
Dengan penampilan yang rapi dan dengan perilaku yang khas warga elite masyarakat Inggris—lebih karena kepiawaian pikirannya ketimbang karena asal-usul sosialnya—Keynes lahir di Cambridge pada 1883 di keluarga akademisi yang bukan bagian pucuk kehidupan intelektual di sana. Tapi itu sudah cukup membuat John Maynard seorang pemuda cemerlang yang tertarik akan rangsangan hidup yang luas. Ia tak hanya seorang ekonom. Ia kolektor seni rupa kontemporer, pencinta balet, penggerak kehidupan kesenian; ia juga pemain pasar modal dan valas yang, meskipun pernah gagal, bisa makmur dan dengan itu membantu rekan-rekannya yang satu lingkungan.
Di kebun halamannya di Tilton, di wilayah Sussex yang tak jauh dari London, ia adalah tuan rumah untuk saat-saat minum teh seraya berdiskusi dengan teman-temannya yang terdekat, semuanya anggota kalangan cendekiawan Inggris yang terkenal. Di sana secara teratur datang Leonard dan Virginia Woolf, Mary MacCarthy, dan E.M. Foster. Dalam ”Bloomsbury Group” ini, ekonomi, sastra, dan estetika dibicarakan dengan cemerlang; novel dan teori-teori terkenal ditulis.
Saya tak tahu apakah dari kalangan ini semacam aristokrasi jiwa tumbuh pada Keynes. Ada sebuah kritik yang datang dari Friedrich von Hayek, guru besar asal Austria yang mengajar di London School of Economics. Hayek menyaksikan bagaimana Negara yang gagal mengatur dananya akan rudin terlanda inflasi. Kekayaan akan menciut habis. Tapi juga Hayek punya kritik yang lebih mendasar: pandangan Keynes yang meningkatkan jangkauan tangan Negara akan mematikan kebebasan, dan akan membuat borjuasi terhambat.
Tapi bagi Keynes, jangkauan yang seperti itu tak sepenuhnya berbahaya, kalau dilakukan oleh satu lapisan elite yang progresif dan cerdas, seperti para lulusan Oxford, Cambridge, atau Harvard. Aristokrasi ini diharapkan akan bisa merencanakan perekonomian ke arah terbangunnya ”Negara kesejahteraan”. Setidaknya, dengan kepemimpinan yang pintar dan bisa dipercaya, Negara sanggup memberikan stimulus yang kuat bukan saja untuk keadilan, tapi juga untuk pertumbuhan. Contoh handuk yang dilemparkan Keynes ke lantai itu bisa terus diingat: perlu keberanian para pengambil keputusan politik buat melakukan sesuatu di luar formula kapitalisme.
Tapi tentu saja bahkan Keynes tak selamanya benar. Pada 1980-an, formula kapitalisme kembali menguat. Para pemimpin tak mau lagi mencoba menegakkan ”Negara kesejahteraan”. Niat menyebarkan kesejahteraan ke seluruh masyarakat telah melahirkan sebuah perekonomian yang terancam inflasi tapi sementara itu hampir mandek. Untuk kesejahteraan yang menyeluruh dan merata di masyarakat, pajak harus ditarik agar Negara punya uang untuk bekerja. Tapi dengan demikian orang enggan meraih hasil sendiri. Negara, sebagai lembaga publik, merasa wajib mengatur perilaku ekonomi, termasuk modal. Tapi dengan demikian inisiatif melemah dan dinamisme pertumbuhan terganggu.
Pada saat itulah Reagan jadi Presiden Amerika Serikat dan Thatcher jadi Perdana Menteri Inggris. Kedua pemimpin ini memulai ”revolusi”: pajak diturunkan, regulasi diminimalkan, dan intervensi Negara praktis diharamkan.
Tapi bila Keynes bisa dibantah oleh dua dasawarsa kemakmuran yang tampak di bawah perekonomian ala Reagan dan Thatcher, Keynes juga bisa dibenarkan di sisi lain: bukankah ia pernah mengatakan hidup dan sejarah terdiri dari proses jangka-pendek? Ketika pemecahan soal di sebuah saat dikukuhkan jadi obat mujarab sepanjang masa, manusia lupa akan keterbatasan kecerdasannya sendiri.
Itu juga yang ditunjukkan Francis Fukuyama ketika ia menyebutkan di mana salahnya ”Revolusi Reagan”. Sebagaimana semua gerakan perubahan, tulis Fukuyama, ”Revolusi Reagan sesat jalan karena… ia jadi sebuah ideologi yang tak dapat digugat, bukan sebuah jawaban pragmatis terhadap ekses-ekses Negara kesejahteraan.”
Kini tampaknya sejarah jadi jera. Krisis yang sekarang melanda dunia mengingatkan orang pada Keynes lagi dan bahwa ada keyakinan yang aus—terutama di tengah penderitaan manusia.
Tahun 2008 ini zaman ”meleset” lagi. Usaha sulit dan para penganggur kian bertambah. Kita membaca angka-angka itu. Kita cemas. Tapi mungkin kita masih memerlukan pengingat lain tentang bengisnya keadaan—seperti Amerika merekam pahitnya hidup dilanda Depresi Besar dalam novel termasyhur John Steinbeck, The Grapes of Wrath, yang terbit pada 1936.
Dalam cerita rekaan ini, sosok Tom Joad dan sanak saudaranya telah jadi orang-orang yang terusir, kehilangan tanah, kehilangan kerja, bermigrasi ke wilayah jauh. Semuanya membangun murung yang tak terhindarkan, ditingkah topan debu yang merajalela bersama putus asa.
Tapi tak semuanya patah. Dalam kesetiakawanan, terbit harapan. Menjelang akhir novel, Tom Joad menghangatkan hati kita karena tekadnya menyertai mereka yang berjuang dalam kekurangan: ”Kapan saja orang berantem supaya yang lapar bisa makan, aku akan di sana….”
Mungkin ini awal semacam sosialisme—yang tak harus datang dari atas.
~Majalah Tempo Edisi Senin, 24 November 2008~
Obama, 2008 Nopember 10, 2008
Kau kembali ke pojok yang agak diterangi matahari di kerimbunan hutan itu. Kau kembali dengan mesin waktu yang tak sempurna, tapi masih kau dengar kor itu, My Old Kentucky Home, lagu murung yang bertahun-tahun terdengar sampai jauh lepas dari Sungai Mississippi, sejak Stephen Foster menulisnya. Itu tahun 1853. Budak belian hitam yang mencoba jeda dari terik dan jerih ladang tembakau. Sebuah selingan sederhana dari rutin panjang yang tak pernah dinamai “Penghisapan”. Sebuah sudut hutan yang jadi majelis tersembunyi. Sebuah ruang buat orang-orang yang dirantai dan dinista untuk berkumpul dan bertanya: apa sebenarnya semua ini?
Kau tak tahu kapan kau datang. Tapi dengan mesin waktu yang tak sempurna kau lihat seorang perempuan tua berbicara di depan majelis itu, di depan jemaat yang takut menyebut nama Tuhan. Ia mengingatkan kamu kepada Baby Suggs dalam Beloved Toni Morrison. Kau dengar ia berbicara tentang sesuatu yang menakjubkan tapi diabaikan, sesuatu yang biasa tapi tak terduga-duga: daging, jangat, tulang, sendi yang sanggup menanggung pukulan dan dera perbudakan, kelenjar yang menitikkan air mata, jantung yang sesak sebelum tangis, tubuh yang menyembuhkan lukanya sendiri, badan yang dari kepedihan bisa menyanyi, menari, menyanyi.
Saudara-saudaraku, tubuh kita bisa mengejutkan kita. Kadang-kadang dengan kegagahan. Kadang-kadang dengan keindahan. Semuanya terbatas, tapi dengan itu kita menggapai yang tak terhingga. Semuanya fana, tapi tiap kali memberi arti yang kekal. Maka jangan menangis lagi.
Kau lihat orang-orang terpekur. Kau mungkin tak tahu kenapa: mereka ingin percaya. Tapi mereka juga mendengar, konon di atas tubuh bertahta Takdir. Yang tetap. Yang tegar. Yang lurus dan terang-benderang. Yang tangan-tangannya menebarkan daya tersendiri, merasuki ke otak, setitik demi setitik.
Otak itulah yang kemudian memproduksi alasan. Telah lahir penjelasan yang gamblang, bahwa ada nasib yang memasang pigmen dalam kulit. Pigmen kita membuat hakikat kita. Ada orang hitam, ada kulit “negro”, ada juga yang “putih”. Warna-warna itulah yang mengarahkan sejarah. Identitas adalah nujum. Ada esensi sebelum eksistensi.
Tapi benarkah Takdir merancang semuanya? Di majelis hutan Mississipi itu, suara perempuan tua itu merendah: “Saudara-saudaraku, kegelapan menyertai kita.”
“Kegelapan di balik pori-pori, di ceruk sel darah merah dan getah bening. Kegelapan dalam suara serak, dalam lagu Old Black Joe yang memberat menjelang ajal. Kegelapan Maut, kegelapan kata-kata Tuhan yang tak selamanya kita mengerti, kegelapan yang mengelak dari Takdir yang makin lama makin putih.
“Kegelapan yang membiarkan kita tak punya nama, yang menampik nama bila nama adalah daftar milik yang jelas dari tuan-tuan kita. Kegelapan hutan ini yang teduh. Kegelapan yang melindungi kita dari Kebengisan.”
Blood on the leaves
And blood at the root
Black bodies swinging
In the southern breeze
Strange fruits hanging
From the poplar trees
Kebengisan itu tak pernah kau lihat. Mesin-waktumu yang tak sempurna hanya menemukan potret tubuh George Hughes yang digantung di dahan pohon. Tak hanya digantung. Ia dibakar. Ini Sherman, Texas, 1930.
Kau bisa baca di perpustakaan kota itu: “negro” buruh tani ini ditangkap dengan tuduhan membunuh majikannya dan memperkosa istri si tuan. Di kampung kecil yang jarang dihuni itu, bisik-bisik beredar: Hughes adalah “hewan yang tahu betul apa yang dimauinya”.
Para petani kulit-putih yang tinggal di dusun itu telah lama bringas, dan kini punya alasan buat lebih bringas. Mereka yang selamanya takut, curiga, dan benci kepada makhluk dengan pigmen berbeda itu kini punya dalih. Mereka serbu gedung pengadilan tempat Hughes ditahan. Mereka bakar. Hughes mereka seret ke luar dan mereka lemparkan ke atas truk. Polisi tak berbuat apa-apa – malah membantu mengatur lalulintas. Di sebuah lapangan dekat tempat tinggal orang hitam, Hughes diikat dan dikerek ke atas sebuah pohon. Api besar dinyalakan.
Dalam sebuah potret kau lihat: Hughes yang tinggal arang, terpentang, bergayut, pada pokok yang rendah.
Orosco mengabadikan adegan itu dalam sebuah litograf dari tahun 1934, Negros Colgados. Lihat, tak cuma satu “negro”. Tubuh-tubuh yang dibunuh itu begelantungan seperti puluhan buah yang aneh. Billie Holiday mengungkapkannya dalam Strange Fruits: suaranya setengah serak, dengan pilu yang seakan-akan telah jadi napas: Darah pada daun/ darah pada akar/ Jasad hitam yang terayun-ayun/di angin selatan/ buah ganjil yang tergantung/ di pohon poplar.
Ada sesuatu yang lain pada lagu itu, yang mula-mula tampak pada litograf Orosco: pohon dan dahan itu – tak dihiasi daun-daun — seakan-akan menegaskan kekuatan yang lurus, lugas, tegak. Juga ia tempat pameran yang meyakinkan. Tak sengaja Orosco mengingatkan kita bahwa sebuah negeri, sebuah tata, adalah bangunan yang kuat karena ia memamerkan sesuatu yang lurus dan sekaligus mengancam. Dengan kata lain: kebengisan.
Kebengisan itu sering ditutupi dengan kata-kata: “utuh”, “harmonis”, “mufakat”, seakan-akan sesuatu yang mulia telah diraih. Seakan-akan tak ada pergulatan politik di baliknya. Seakan-akan yang ada hanya arsitektur Tuhan. Tapi nyanyian Billie Holiday mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi yang disembunyikan: ia berbisik tentang daerah pedalaman Selatan Amerika yang punya sejarah yang gagah, the gallant South, tapi ia segera menyebut wajah kesakitan orang-orang hitam yang tercekik. Ia menyebut “harum segar manis kembang magnolia”, tapi di baris berikutnya “bau jangat terbakar yang terhidu tiba-tiba”.
Tiap tata dibentuk dengan taksonomi: “putih”, “hitam”, “borjuis”, “proletar”, “asli”, “tak-asli”, “mayoritas”, “minoritas”. Tiap taksonomi dimulai dengan kepalsuan dan pemaksaan.
Tapi itu berarti ini tak ada tangan Takdir yang merancang. Tak ada hakikat sebelum apa yang diperbuat. Tak ada esensi sebelum eksistensi. Pembagian, apalagi pemisahan rasial, sepenuhnya hasil sebuah proses politik. Si “hitam” bukan jadi “hitam” karena ia diciptakan “hitam”, melainkan karena ia distempel dan disensus dan dikelompokkan ke dalam kategori “hitam”. Sejarah “hitam” dan “putih” adalah riwayat pergelutan, terkadang dengan pertempuran, terkadang dengan teriak mengajak maju, serempak, berbaris, 1000 pekik dari pita suara yang panas.
Yes, we can
Yes, we can
Kau dengar suara itu di kerumunan manusia di Grant Park, Chicago, 4 November 2008 malam. Ya, kita dapat. Ya, kita sanggup. Kita – kata orang-orang itu – sanggup membuat seorang Amerika dengan nama yang aneh dipilih jadi presiden dengan dukungan yang meyakinkan. Kita sanggup mengubah warisan sejarah yang telah memicu Perang Saudara di abad ke-19. Kita sanggup mengguncang pohon tempat kebengisan dipajang seakan-akan sebuah struktur yang cantik.
Tapi ini bukan hanya cerita kemenangan seorang yang bisa melintasi taksonomi “hitam-putih”. Ini terutama cerita kemenangan dari pengertian lain tentang “politik”. Sebab yang datang bersama Obama bukanlah politik sebagai kiat untuk mendapatkan yang-mungkin. Di tahun 2008 ini, di Amerika Serikat kita justru menyaksikan “politik” sebagai hasrat, setengah nekad, untuk menggayuh yang-tak-mungkin.
Yang-tak-mungkin memang akan selamanya tak-mungkin. Tapi yang-mustahil itu jadi berarti karena ia memanggil terus menerus, dan ia membuat kita merasakan sesuatu yang tak terhingga – yang agaknya menyebabkan jutaan orang bersedia antri berjam-jam untuk memilih dan mengubah sejarah: mereka menyebutnya Keadilan, atau Kemerdekaan, atau nama lain yang menggugah hati. Seperti cinta yang terbata-bata tapi tulus. Seperti sajak yang hanya satu bait tapi menggetarkan.
Seperti tubuh-tubuh yang kau lihat menyanyi di hutan itu.
Weep no more, my lady,
Oh, weep no more today.
~Majalah Tempo Edisi 10 Nopember 2008~

Connie Nopember 3, 2008
Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan.
Saya ingat satu pasase dalam Lady Chatterley’s Lover: perempuan itu mengalami ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kekasihnya, ia merasa diri ”laut”. Ia deru dan debur, samudra dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus. ”Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah….”
Apa yang masuk menyusup ke dalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah berat empasan, bertambah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. ”Ia hilang, ia tak ada, dan ia dilahirkan: seorang perempuan.”
Saya tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh piawai: ia uraikan suasana erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang, seperti gerak laut, tak putus-putus, berulang-ulang….
Agaknya Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang tak mungkin tergambarkan: pengalaman tubuh ketika kata belum siap, gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.
Seorang sastrawan memang selalu dirundung oleh bahasa yang ingin ekspresif tapi juga ingin komunikatif—dua dorongan yang sebenarnya bertolak belakang. Yang pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apa yang berkecamuk di lubuk kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti: sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.
Lawrence mampu menggabung kedua dorongan itu di bagian yang dikutip tadi, tapi bagi saya sebagai novel Lady Chatterley’s Lover terasa lebih digerakkan keinginan untuk menyatakan sebuah pendirian. Kalimatnya lebih komunikatif ketimbang ekspresif. Pertautannya dengan bahasa (untuk tak menyebut ketaatannya pada pesan dan tema) berbeda dengan misalnya Cala Ibi Nukila Amal atau Menggarami Burung Terbang Sitok Srengenge, dua novel yang, dengan bahasa yang puitik, tak hendak mengubah pandangan kita tentang hal-ihwal.
Lady Chatterley’s Lover memang sebuah kritik sosial; ia hendak meyakinkan kita tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang pada 1920-an. ”Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya dengan tragis,” begitulah novel ini dimulai. ”Kita ada di tengah puing, kita mulai membangun habitat baru kecil-kecilan, untuk mendapatkan harap baru sedikit-sedikit.”
Dalam novel itu, puing itu sampai ke pedalaman. Masyarakat terjebak lapisan-lapisan kelas, dan industrialisasi yang mulai merasuk, juga peran uang, membuatnya lebih buruk.
Kritik novel ini tersirat dalam tokoh Constance Chatterley. Ia kawin dengan Sir Clifford, tuan tanah dan bangsawan pemilik tambang. Lelaki ini luka dalam perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjukkan kelebihannya bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tampaknya perang, industrialisasi, kapitalisme—dan patriarki—menebarkan racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady Constance (”Connie”), terpojok. Kesepian, bosan, hampa, dan tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika ia disetubuhi Melleors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yang esok pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.
Connie hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia tak takut. Ia memang menghendaki seorang anak, meskipun percintaannya dengan lelaki kelas bawah itu bukan dimaksudkannya hanya untuk beroleh keturunan. ”Aku bukan hendak memperalatmu,” bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie meminta cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai seperti tak selesai: Connie dan Melleors menanti.
Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak seorang pun dihukum. ”Bukan salah perempuan, bukan salah percintaan, bukan salah seks,” begitulah novel ini bicara. ”Kesalahan itu di sana, di luar sana, dalam sinar keji cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di sana, di dunia di mana kerakusan bergerak seperti mesin… dan kerakusan menghasilkan mesin… di sanalah terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancurkan hutan, dan bunga kecubung ini tak akan bersemi lagi.”
Dibaca pada awal abad ke-21, protes seperti ini—ketika yang erotik, yang lemah, dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia modern—tak mengejutkan lagi. Bahkan bahasa Lawrence juga segaris dengan kehendak dunia modern yang ditentangnya, yang serba mengutamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam pengalaman. Tapi juga ketika dibaca pada awal abad ke-20: Lady Chatterley’s Lover hanya dianggap karya pornografis. Ditolak di mana-mana, pada 1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak begitu paham bahasa Inggris.
Dengan segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti digambarkan Lawrence, ”rakus… seperti mesin” itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin baja dan gairah seks sebagai ”dosa”, yakni energi yang tak produktif.
Maka pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley’s Lover pun dibui, kantor pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya bacaan yang ”dreadful”. Baru pada akhir 1950-an pengadilan menganggap karya itu tak pornografis.
Anehkah bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya melarang Lady Chatterley’s Lover? Tidak. Bagi mereka, tubuh kita hanya penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apa pun namanya.[]